Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abdul hadi tamba

Diri Ruhani yang Rindu akan Allah

Agama | 2026-04-30 04:33:14

Abdul Hadi Tamba.

Diri Ruhani yg rindu akan Allah.

Dalam pandangan kami, kerinduan (syauq) ruhani kepada Allah SWT adalah puncak kecintaan (mahabbah) yang timbul dari kesadaran fitrah manusia akan asalnya, yang terhalang oleh hijab keduniawian.

Rindu ini bukanlah sekedar emosi, melainkan dorongan eksistensial yang membakar jiwa untuk kembali kepada-Nya, di mana zikrullah (mengingat Allah) menjadi satu-satunya pelipur lara dan media penyambung hubungan antara hamba dan Khalik.

Berikut adalah pen jabaran pandangan kami mengenai kerinduan ruhani melalui zikrullah, dalil, dan fatwa ulama:

Pandangan kami Rindu Allah.

Kerinduan sebagai Fitrah Ruhani:

Kami memandang ruh manusia berasal dari Allah, sehingga secara alami ruh selalu merindukan "pulang" ke asalnya.

Zikir sebagai Nutrisi Rindu:

Zikir, baik dengan lisan, hati (qalb), maupun sirr (rahasia terdalam), adalah makanan dan napas bagi ruhani yang merindu.

Hakikat Syauq:

Menurut Imam al-Ghazali, kerinduan (syauq) timbul karena cinta.

Tanpa cinta pada Allah, tidak akan ada kerinduan yang membakar, dan rindu ini tidak terobati kecuali dengan zikrullah dan berupaya menuju-Nya (bertemu dengan-Nya).

Zikir 3 Tingkat:

Zikir Kalbu/Hati:

Menyebut nama Allah dalam hati (Ismu Dzat).

Zikir Lisan:

Melafalkan Laa ilaaha illallah (Nafi Isbat).

Zikir Sirr:

Kesadaran batin yang terus menerus tanpa suara.

Dalil Al-Qur'an tentang Rindu dan Zikrullah.

Zikir Penenang Hati:

" (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28).

Perintah Zikir Berkelanjutan:

"Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzab: 41).

Zikir dalam Setiap Keadaan:

"...(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring..." (QS. Ali 'Imran: 191).

Allah Mengingat yang Merindu:

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu..." (QS. Al-Baqarah: 152).

Hadis Pendukung dan Hadis Qudsi

Hadis Qudsi - Kerinduan Bersama:

"Sungguh sangat besar kerinduan orang-orang istimewa untuk bertemu dengan-Ku, dan Aku untuk bertemu dengan mereka, melebihi kerinduan (mereka kepada-Ku)."

(Hadits Qudsi, dikutip dalam kitab Jami'ul Ahadits al-Qudsiah).

Hadis tentang Zikir sebagai Kebahagiaan:

"Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berzikir, adalah seperti orang hidup dan orang mati." (HR. Bukhari).

Hadis tentang Ketenangan Shalat (Puncak Zikir):

"Hiburanku adalah shalat." (HR. Nasa'i dan dinilai sahih oleh Al-Hakim).

Pandangan Ulama Tasawuf Muktabar (Fatwa)

Imam Al-Ghazali (dalam Ihya' Ulumuddin):

Rindu adalah keniscayaan bagi penempuh jalan Allah (salik).

Kerinduan hanya bisa diobati dengan zikrullah, yaitu merenungi keagungan sifat-sifat Allah hingga hati merasa tenang dan dekat.

Syekh Abdul Qodir Al-Jailani:

Zikir adalah nyawa dari kehidupan para sufi.

Rindu yang benar adalah yang menggerakkan seseorang untuk melepaskan keterikatan pada dunia dan fokus mengingat Allah (zikir).

Imam Al-Qusyairi:

Saat seseorang berzikir dengan hati, ia tidak hanya sedang mengingat, tetapi juga sedang merasakan kehadiran Allah, yang membalas zikirnya dengan limpahan karunia dan ketenangan batin.

Ibn Arabi:

Cinta pada Allah adalah agama.

Kerinduan adalah wujud tertinggi dari cinta ini, yang mengubah manusia dari fokus pada dirinya sendiri menjadi fokus hanya kepada-Nya.

Kesimpulan

Dalam pandangan kami, kerinduan ruhani adalah energi positif, sementara zikrullah adalah jembatan dan obatnya.

Kerinduan yang sejati tidak membuat seseorang meninggalkan kewajiban syariat, tetapi justru membuat ibadah (terutama zikir) dilakukan dengan penuh kenikmatan dan khusyuk, menjadikan dzikrullah sebagai poros hidup.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image