Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tonny Rivani

Bajidoran Subang: Dari Kearifan Lokal Menuju Kemandirian Ekonomi

Wisata | 2026-04-16 09:56:37
Gambar Tarian Bajidor Subang.

Opini - Kesenian Bajidoran di Kabupaten Subang bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan representasi utuh dari denyut kehidupan masyarakat Sunda yang sarat makna budaya, sosial, hingga ekonomi. Penetapan Bajidor sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2019 menjadi penegasan bahwa tradisi ini memiliki nilai strategis, tidak hanya dalam pelestarian budaya, tetapi juga sebagai fondasi pembangunan berbasis kearifan lokal.

Bajidoran tumbuh dari rahim masyarakat agraris Pantura Jawa Barat—meliputi Subang, Karawang, hingga Purwakarta—dengan karakter yang khas sebagai perpaduan antara banjet (topeng), tanji (musik), dan bodor (lawakan). Di dalamnya terkandung ekspresi rasa syukur atas hasil panen, sekaligus cerminan kegembiraan kolektif masyarakat pedesaan. Dalam konteks ini, Bajidoran menjadi medium ekspresi budaya yang hidup, yang menghubungkan manusia dengan alam, tradisi, dan komunitasnya.

Antropolog budaya Koentjaraningrat pernah menegaskan bahwa kebudayaan bukan hanya warisan, tetapi juga sistem makna yang mengatur kehidupan sosial masyarakat. Dalam perspektif tersebut, Bajidoran berfungsi sebagai ruang interaksi sosial yang egaliter. Tidak ada sekat antara penampil dan penonton; masyarakat ikut terlibat langsung sebagai “bajidor,” menciptakan suasana guyub dan partisipatif yang memperkuat kohesi sosial.

Lebih jauh, Bajidoran juga berperan sebagai media pendidikan nilai dan estetika. Gerakan tari yang dinamis, unsur bela diri, hingga improvisasi lawakan mencerminkan keluwesan budaya Sunda dalam merespons kehidupan. Tradisi ini pun terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, salah satunya melalui munculnya kreasi seperti Bajidor Kahot yang memadukan Jaipongan dan Ketuk Tilu. Hal ini menunjukkan bahwa Bajidoran bukan tradisi statis, melainkan entitas dinamis yang mampu menjangkau generasi muda.

Momentum penguatan Bajidoran sebagai kekuatan budaya sekaligus ekonomi terlihat dalam gelaran Barung Bajidor yang diselenggarakan Pemerintah Daerah Kabupaten Subang dalam rangka Hari Jadi ke-78. Kehadiran berbagai grup seperti Casdi Grup, Giri Loka Penclon Pamungkas Grup, dan Kartiwa Grup di Lapang Alun-alun Subang memperlihatkan antusiasme masyarakat yang tetap tinggi, bahkan di tengah cuaca hujan.

Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi, menegaskan bahwa Bajidoran perlu terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus zaman. Pernyataan ini mencerminkan kesadaran bahwa pelestarian budaya tidak bisa dilepaskan dari strategi regenerasi dan inovasi.

Gambar Antusias Penonton dalam petunjukkan Kesenian Bajidor Subang

Namun yang tak kalah penting, Bajidoran juga memiliki dimensi ekonomi yang signifikan. Setiap pertunjukan membuka ruang bagi pelaku usaha kecil—mulai dari pedagang makanan, penyedia jasa panggung, hingga pelaku seni itu sendiri—untuk memperoleh penghasilan. Dalam konteks ini, Bajidoran bertransformasi menjadi ekosistem ekonomi rakyat yang berbasis budaya.

Ekonom pembangunan Amartya Sen menekankan bahwa pembangunan sejatinya adalah proses memperluas kebebasan manusia, termasuk kebebasan ekonomi dan sosial. Bajidoran, dalam skala lokal, memberikan ruang tersebut: masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku ekonomi yang aktif.

Sejalan dengan itu, ekonom Indonesia Sri Mulyani Indrawati juga kerap menekankan pentingnya ekonomi kreatif berbasis budaya sebagai sumber pertumbuhan baru. Dalam konteks Subang, Bajidoran memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari industri kreatif lokal yang berkelanjutan.

Dengan demikian, Bajidoran bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga aset masa depan. Ia mengandung nilai-nilai kebersamaan, kreativitas, dan kemandirian yang relevan dengan tantangan pembangunan saat ini. Upaya Pemerintah Daerah untuk menghadirkan pertunjukan secara merata di berbagai wilayah menunjukkan langkah strategis dalam mendemokratisasi akses budaya sekaligus memperluas dampak ekonomi.

Ke depan, tantangan yang dihadapi adalah כיצד menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai autentik dengan inovasi yang relevan bagi generasi muda. Kreativitas dalam pengemasan, dukungan kebijakan, serta partisipasi aktif masyarakat akan menjadi kunci keberlanjutan Bajidoran.

Pada akhirnya, Bajidoran Subang adalah bukti bahwa budaya lokal tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga mampu menjadi pilar kemandirian ekonomi. Dari panggung sederhana di desa hingga alun-alun kabupaten, Bajidoran terus menari—menghubungkan tradisi dengan masa depan, serta menggerakkan roda ekonomi rakyat dengan irama kearifan lokal.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image