Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jamaluddin Robbani

Percayakan pada Negara, Di Balik Itu Pasti Ada Hikmahnya

Politik | 2026-04-12 16:28:21
Ilustrasi Percayakan pada Negara (sumber: https://grok.com/)

Di tengah kehidupan sehari-hari yang ramai, banyak orang sekarang terlalu curiga sama negara. Setiap ada kebijakan pemerintah, langsung dikira mengancam kebebasan rakyat. Padahal, kalau kita mau berpikir tenang, mempercayai negara itu bukan hal yang salah. Justru itu sikap bijak yang penuh hikmah. Negara adalah alat kita semua untuk menjaga ketertiban, keadilan, dan kemajuan bersama. Dalam demokrasi, kepercayaan ini sangat penting. Demokrasi bukan cuma pemilu lima tahun sekali, tapi cara kita bersama mengurus negara supaya berjalan baik. Kalau tidak ada kepercayaan, demokrasi hanya jadi alat untuk kepentingan segelintir orang saja.

Lihat sejarah Indonesia. Saat rakyat mempercayakan urusan negara kepada pemimpin yang dipilih, banyak kemajuan yang lahir. Jalan-jalan bagus dibangun, bantuan untuk rakyat kecil mengalir, dan saat ada masalah besar, negara bisa menanganinya lebih cepat. Hikmahnya sederhana, negara bukan musuh rakyat. Negara adalah kita semua yang bekerja bersama. Memang ada kebijakan yang awalnya terasa berat atau kontroversial. Tapi sering kali di belakang itu ada manfaat jangka panjang. Kepercayaan bukan berarti diam saja. Kita tetap boleh kritik, tapi juga beri kesempatan negara bekerja. Dengan begitu, energi kita bisa dipakai untuk hal-hal yang lebih baik di kehidupan sehari-hari.

Demokrasi Indonesia setelah Reformasi masih sering mengalami ketegangan. Di satu sisi orang ingin kebebasan seluas-luasnya, di sisi lain negara butuh aturan yang tegas supaya tidak kacau. Di sinilah kepercayaan kepada negara sangat dibutuhkan. Banyak aktivis dan orang kota melihat negara selalu ingin mengurangi hak rakyat. Padahal negara yang kuat justru bisa melindungi rakyat kecil dari kekuasaan uang dan kepentingan luar. Contohnya kebijakan investasi asing, kebijakan pengelolaan energi & tambang, program MBG (makan bergizi gratis), dan aturan media sosial. Banyak yang langsung menuduh pemerintah otoriter. Kritik ini penting. Beberapa kebijakan memang terlalu cepat dibuat, kurang melibatkan masyarakat bawah, dan komunikasinya kurang jelas. Akibatnya rakyat banyak yang bingung dan marah.

Jadi, pemerintah harus lebih terbuka. Libatkan lebih banyak suara rakyat biasa sebelum memutuskan proyek besar. Berikan penjelasan yang mudah dimengerti, bukan bahasa rumit. Perkuat pengawasan agar tidak ada penyalahgunaan wewenang. Kritik dari masyarakat juga harus tetap diberi ruang, asal dilakukan dengan cara yang baik dan bertanggung jawab. Tapi hikmahnya tetap ada, Demokrasi yang sehat bukan demokrasi yang lemah dan mudah digoyang. Kalau negara lemah, yang diuntungkan justru orang kaya dan kekuatan asing. Negara kuat bisa melindungi petani, nelayan, dan pekerja harian dari eksploitasi. Mempercayakan sebagian urusan kepada negara sambil tetap mengawasi itu keseimbangan yang bijak. Bukan berarti kita menyerah, tapi kita percaya bahwa bersama negara kita bisa lebih maju.

Mempercayakan kepada negara bukan berarti menyerahkan semua tanpa kontrol. Itu sikap dewasa karena Indonesia negara besar dan beragam. Tidak mungkin semua masalah diselesaikan sendiri-sendiri. Di balik kepercayaan itu ada hikmah besar, negara lebih stabil, kemajuan lebih cepat, dan keadilan lebih terasa bagi rakyat kecil.

Mari kita bangun cara berpolitik yang lebih baik. Kritik boleh keras, tapi jangan sampai merusak fondasi negara. Generasi muda harus diajarkan bahwa demokrasi yang baik adalah demokrasi yang percaya pada institusinya. Tumbuhkan kepercayaan yang cerdas. Meski ada kebijakan yang belum kita pahami sepenuhnya, yakinlah ada hikmah di baliknya untuk kebaikan bersama. Dengan sikap ini, Indonesia bukan hanya bertahan sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, tapi juga menjadi contoh demokrasi yang kuat, adil, dan penuh hikmah. Negara adalah kita. Mempercayainya berarti kita percaya pada kekuatan kita sebagai bangsa.

Jamaluddin Robbani, Mahasiswa S-1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Jakarta.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image