Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tonny Rivani

Liang Kubur Menantimu, Saat Tanah Menjadi Pelukan Terakhir

Sastra | 2026-04-08 21:44:06
Gambar Ilustrasi Taman Pemakaman (Pixabay)

Opini - Tanah itu diam—namun ia menyimpan kepastian.Tak pernah tergesa, tak pernah lupa. Ia menunggu, dengan sabar yang tak terbatas oleh waktu. Di sanalah, pada akhirnya, setiap langkah akan berhenti. Nafas yang dahulu berlari mengejar dunia, akan reda dalam satu sunyi yang panjang.

Di hadapan liang kubur, air mata seorang sahabat mulia, Utsman bin Affan, jatuh tanpa tertahan. Jenggotnya basah oleh tangis yang lahir dari kesadaran paling dalam: bahwa kubur bukan sekadar lubang tanah, melainkan gerbang pertama menuju keabadian. Saat orang lain mungkin gentar oleh bayangan surga dan neraka, ia justru luluh oleh satu kenyataan yang lebih dekat—rumah pertama setelah dunia ditinggalkan.

Rasulullah, Muhammad, pernah mengabarkan bahwa liang kubur adalah awal perjalanan akhirat. Di sanalah kisah besar manusia dimulai kembali—dalam bentuk yang tak lagi bisa disembunyikan. Tak ada topeng, tak ada kepura-puraan. Yang tersisa hanyalah amal, menjelma nyata, menjadi teman atau lawan dalam kesendirian.

Betapa sunyi saat tubuh dibaringkan, ketika langkah-langkah terakhir para pengantar perlahan menjauh. Tanah ditimbunkan, satu lapis demi satu lapis, hingga cahaya dunia tertutup sempurna. Namun di balik gelap itu, kehidupan lain justru dimulai.

Bagi jiwa yang beriman, kematian bukanlah akhir, melainkan kepulangan. Para malaikat turun dengan wajah bercahaya, membawa kabar yang menenangkan. Kuburannya dilapangkan sejauh mata memandang, dipenuhi hembusan wangi surga. Amal saleh hadir dalam rupa yang indah—menjadi sahabat setia di kesunyian. Seolah tanah yang dingin berubah menjadi pelukan hangat yang menenteramkan.

Namun bagi jiwa yang lalai, tanah itu bukan lagi pelukan—melainkan himpitan. Gelapnya bukan sekadar tanpa cahaya, tetapi penuh ketakutan. Amal buruk menjelma, menghadirkan kabar yang mengguncang. Liang kubur menyempit, menekan hingga tulang saling bertaut. Di sana, penyesalan tak lagi berarti, karena waktu telah habis tanpa sisa.

Liang kubur, pada akhirnya, bukanlah sekadar tempat kembali—melainkan cermin dari kehidupan yang telah dijalani. Ia memeluk setiap insan sesuai dengan apa yang dibawanya: ketenangan bagi yang bersiap, dan kegelisahan bagi yang lalai.

Maka selama nafas masih berhembus, selama langkah masih diberi arah, dunia adalah ladang yang tak boleh disia-siakan. Amal saleh menjadi satu-satunya bekal yang mampu menerangi gelap, melapangkan sempit, dan mengubah tanah menjadi pelukan yang penuh rahmat.

Karena pada suatu saat—yang pasti datang—tanah itu akan benar-benar memeluk kita.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image