Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Marketing DT Peduli 2

Mimpi Anak-anak Alue Kuta di Balik Barak Pengungsi

Kisah | 2026-03-27 14:20:39
Kebahagiaan sederhana anak-anak di Alue Kuta, bisa tetap bermain bersama walau dengan keterbatasan (Sumber : DT Peduli)

DTPEDULI.ORG | BIREUEN - Muhammad Alfi (8) terbangun dengan rasa dingin yang asing merayap di kakinya. Di dalam temaram bilik rumahnya di Alue Kuta, Bireuen, ia melihat wajah ibunya yang panik. "Air sudah naik," kenang Pian singkat tentang peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu.

Tak ada waktu untuk memilih mainan atau barang kesayangan. Bocah kelas dua MIN 48 itu hanya sempat memasukkan apa pun yang terlihat ke dalam tasnya, sebelum mereka dievakuasi menggunakan perahu bot.

Kebahagiaan sederhana anak-anak di Alue Kuta, bisa tetap bermain bersama walau dengan keterbatasan (Sumber : DT Peduli)

Namun, air bah tak memilah apa yang ia bawa. Banjir Sumatera yang mengganas hari itu menyapu segalanya. Seragam sekolahnya, tas kesayangannya, hingga sepatu dan sandal yang biasa ia gunakan untuk berlari bersama teman-temannya, habis terendam lumpur.

"Kereta (motor), rumah, baju sekolah... rusak semua," ujar anak yang akrab dipanggil Pian itu dengan suara lirih. Matanya menerawang, seolah masih melihat tumpukan buku sekolahnya yang kini tak lebih dari gumpalan kertas basah yang tak bisa lagi dibaca.

Pian hanyalah satu dari sekian banyak wajah kecil di Alue Kuta yang dunianya jungkir balik dalam semalam. Di sudut lain, ada Irfan Candra, seorang bocah TK B yang kini harus akrab dengan dinding-dinding barak pengungsian. Saat ditanya apakah ia rindu rumah, Irfan menggeleng cepat.

"Takut," bisiknya. "Takut hantu, takut karena rumahnya rusak, banyak lumpur," ucapnya polos.

Bagi anak-anak ini, rumah yang dulunya adalah tempat paling aman, kini menjadi bayang-bayang yang menakutkan. Di barak, meski ramai bersama teman-teman seperti Bagas dan Farhan, mereka harus tidur di atas alas seadanya karena kasur-kasur mereka di rumah telah tertimbun lumpur akibat banjir.

Hadiah untuk Semangat yang Tak Pernah Padam

Jumat (20/2/2026), suasana di bilik-bilik pengungsian Alue Kuta terasa sedikit berbeda. Relawan DT Peduli datang membawa "hadiah" yang sudah lama dinanti. Sebanyak 50 paket perlengkapan pendidikan disalurkan langsung ke tangan anak-anak penyintas.

Kebahagiaan sederhana anak-anak di Alue Kuta, bisa tetap bermain bersama walau dengan keterbatasan (Sumber : DT Peduli)

Satu per satu paket dibuka dengan tangan-tangan mungil yang gemetar karena antusias. Di dalamnya, terselip buku tulis baru yang masih wangi kertas, pensil, pena, penghapus, penggaris, hingga rautan. Tidak hanya mereka yang sudah bersekolah, anak-anak yang baru akan masuk sekolah pun turut mendapatkan bagian.

Raut enang terlihat jelas di wajah anak-anak itu . Bagi mereka, paket tersebut bukan sekadar perlengkapan sekolah, melainkan simbol bahwa masa depan mereka tidak ikut hanyut terbawa banjir.

Menenun Kembali Masa Depan

Tim relawan DT Peduli menyisir setiap barak, memastikan bantuan ini sampai tepat sasaran. "Paket langsung dikasih di bilik-bilik mereka," jelas Astri Rahmayanti, Staf Copywriting DT Peduli yang langsung memberikan puluhan paket tersebut.

Meski kasur masih basah dan rumah masih penuh lumpur, hari itu anak-anak Alue Kuta punya "senjata" baru untuk kembali berani bermimpi. Harapan Irfan Candra sederhana saja, "Mau sekolah lagi," katanya mantap. Ia juga membisikkan keinginan kecilnya untuk memiliki baju baru saat lebaran nanti, sebuah harapan tulus dari seorang anak yang baru saja kehilangan banyak hal.

Kebahagiaan sederhana anak-anak di Alue Kuta, bisa tetap bermain bersama walau dengan keterbatasan (Sumber : DT Peduli)

Luka di Aceh belum sepenuhnya sembuh, namun melalui paket perlengkapan sekolah ini, DT Peduli mengajak para penyintas kecil ini untuk menuliskan kembali cerita hidup mereka yang tidak lagi tentang banjir, melainkan tentang cita-cita yang kembali tegak berdiri. (Agus ID)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image