Anjuran Menyambung Silaturrahmi dan Ancaman Bagi yang Memutuskannya
Agama | 2026-03-26 08:55:13
Di antara fenomena tahunan di tengah masyarakat terutama di Indonesia adalah padatnya arus mudik jelang lebaran dan demikian pula saat arus balik. Meski silaturrahmi tidak hanya diperintahkan saat jelang Idul Fitri atau Idul Adha, tetapi tentu kita harus bertoleransi bahwa memang saat-saat dua hari raya inilah sanak keluarga berkesempatan melakukan rehat dari rutinitas mereka. Apalagi bagi mereka yang berprofesi sebagai pekerja kantoran atau pekerja perusahaan. Belum lagi secara finansial, mudik membutuhkan pengorbanan biaya yang tidak sedikit terutama jika mengikutsertakan keluarga. Meski terkadang disertai risiko di perjalanan yang bahkan bisa membahayakan keselamatan tetapi kerinduan bertemu dengan keluarga mampu membuat kita melupakan ancaman di perjalanan. Bagi mereka yang tidak mampu melakukan mudik karena ada halangan, maka saling bermaafan dan menanyakan kabar melalui telepon sudah cukup mengobati kerinduan.
Silaturrahmi memang sangat penting kedudukannya dalam Islam, bahkan sangat menentukan diterimanya amal seperti lazim dipahami bahwa silaturrahmi hanya ditolerir untuk jangka waktu tiga hari setelahnya ia menjadi sebuah dosa dan bisa menyebabkan amal tertolak. Itulah sebabnya, khusus silaturrahmi banyak sekali hadits qudsi yang berisi anjuran menyambungnya dan ancaman jika memutusnya.
Imam al-Ghazali dalam kitabnya Muqasyafah al-Qulub menuliskan beberapa ayat dan hadits yang menjelaskan tentang perintah memelihara dan menyambungkan silaturrahmi dan larangan serta ancaman terhadap pemutus silaturrahmi.
Pemutus Silaturrahmi Dilaknat karena Melakukan Kerusakan
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi.” (QS. al-Nisa’ (4): 1). Yakni, jagalah silaturrahmi jangan sampai kalian memutuskannya.
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad (47): 22-23).
“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk.” (QS. al-Ra’d (13): 25).
Allah Memutuskan Hubungan dengan Mereka yang Memutus Silaturrahmi
Begitu pentingnya menyambung silaturrahmi sehingga sangat banyak dalil yang berisi anjuran menyambungnya dan ancaman bagi yang memutuskannya. Selain Firman Allah Ta’ala dalam Al-Quran juga banyak hadits terutama hadits qudsi. Misalnya ada riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu (ra), bahwa Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam (saw) bersabda, “Allah menciptakan makhluk. Setelah selesai. Berdirilah al-rahim dan berkata, Inikah maqam yang berlindung kepada-Mu dari pemutusan?’ Allah menjawab, ‘Benar. Apakah engkau ridha kalau Aku menyambungkan (hubungan dengan) orang yang menyambungkanmu dan memutuskan (hubungan dari) orang yang memutuskanmu?’ Al-Rahim menjawab, ‘Tentu.’ Allah berkata, ‘Itu semua adalah untukmu.”
Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Jika kalian mau, bacalah ayat: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad (47): 22-23).
Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan, “Tidak akan masuk surga seorang pemutus,” Sufyan berkata, “Yakni pemutus silaturrahmi.”
Imam Ahmad dengan dengan sanad perawinya yang tsiqah meriwayatkan, “Amalan-amalan anak Adam diangkat ke langit setiap hari Kamis dan malam Jumat maka tidak diterima amalan pemutus silaturrahmi.”
Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan, “Al-Rahim bergantung pada ‘Arsy seraya berkata, ‘Barangsiapa yang menyambungkanku, Allah menyambungkan (hubungan) dengannya. Dan barangsiapa yang memutuskanku, Allah memutuskan (hubungan dari)nya.”
Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Allah SWT berfirman, ‘Akulah Allah dan Akulah al-Rahman. Aku ciptakan al-Rahim yang membentuk salah satu nama-Ku. Karena itu, barangsiapa yang menyambungkannya, Aku akan menyambungkan (hubungan) dengannya. Akan tetapi, siapa yang memutuskannya, Aku putuskan (hubungan) dengannya.”
Pemutus Silaturrahmi Terputus dari Surga
Hal ini dapat kita temukan dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui sanad yang shahih, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mengambil riba, dia telah merampas kehormatan seorang Muslim tanpa hak. Rahim adalah cabang dari Al-Rahman ‘Azza wa Jalla. Barangsiapa yang memutuskannya, Allah mengharamkan baginya surga.”
Adapula riwayat yang menunjukkan bahwa menyambung silaturrahmi adalah tanda keimanan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, sambungkanlah silaturrahmi. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik, atau diamlah.”
Menyambung Silaturrahmi adalah Pintu Rezeki dan Kunci Surga
Hal ini sebagaimana hadits Al-Bukhari dan Muslim yang meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya, sambungkanlah silaturrahmi.” Imam Bukhari dan Muslim lalu meriwayatkan bahwa seorang Arab badui datang kepada Nabi saw ketika beliau sedang dalam perjalanan. Dia mengambil kendali unta Nabi saw lalu berkata, “Wahai Rasulullah—atau, wahai Muhammad—beritahukanlah kepadaku sesuatu yang dapat mendekatkan aku ke surga dan menjauhkan aku dari neraka.’ Nabi saw diam, lalu memandang kepada para sahabatnya. Setelah itu, beliau bersabda, ‘Orang ini telah mendapat petunjuk.’ Seorang sahabat bertanya, ‘Mengapa begitu?’ Beliau mengulangnya, lalu menjawab pertanyaan orang itu, ‘Engkau menyembah Allah tanpa menyekutukan sesuatu apa pun dengan-Nya, mendirikan salat, membayarkan zakat, dan menyambungkan tali silaturrahmi Tinggalkan unta itu.’ Dalam riwayat lain disebutkan, ‘ dan engkau menyambungkan tali silaturrahmi dengan kerabatmu.’ Setelah orang itu pergi, Rasulullah saw bersabda, ‘Jika dia berpegang pada apa yang aku perintahkan, niscaya dia masuk surga.”
Jika kita simpulkan berdasarkan beberapa dalil tentang silaturrahmi baik dalam Al-Quran maupun hadits terutama hadits qudsi, maka ada beberapa poin penting yang harus kita renungkan dan semoga mendidik akhlak kita menjadi lebih terpuji terutama dalam hubungannya dengan orang lain terutama kerabat atau keluarga terdekat. Pertama, Allah Ta’ala sangat membenci orang yang memutus silaturrahmi karena menjadi tanda orang yang membuat kerusakan. Kedua, kerusakan akibat memutuskan silaturrahmi membuat Allah mengancam akan memutuskan hubungan dengan orang yang memutuskan silaturrahmi. Ketiga, karena Allah memutuskan hubungan dengan mereka yang memutuskan silaturrahmi maka bisa dimaklumi jika Allah Ta’ala mengharamkan surga bagi mereka yang memutusannya. Keempat, ada janji Allah Ta’ala—dan janji Allah pasti ditepati—bahwa akan dibukakan pintu rezeki bagi mereka yang menyambung silaturrahmi dan mereka akan digolongkan dalam penduduk surga.
Semoga kita diberikan kekuatan menyambung silaturrahmi dan dianugrahi kesabaran untuk dapat memaafkan saat kita merasa disakiti. Mari kita teladani akhlak Rasulullah saw yang terus-menerus membuka pintu maafnya bahkan mendoakan mereka yang menyakitinya. Belum pernah kita saksikan kezaliman yang begitu besar yang kita alami melebihi penderitaan Rasulullah saw. Beliau saw bukan hanya disakiti perasaanya, tetapi juga disiksa fisiknya, bahkan terusir dari kampung halaman dan yang paling berat saat beiiau bersama orang-orang beriman diperangi oleh kaum kafir Quraisy. Semoga kita masih ingat sebuah riwayat saat beliau saw memaafkan penduduk Thaif bahkan mendoakan mereka yang melempari beliau saw dengan batu hingga mengucur darah membasahi betis beliau saw. Lalu Allah mengabulkan doa Rasulullah saw hingga membuka hati penduduk Thaif untuk menerima Islam bahkan mereka menjadi yang terdepan membela Rasulullah saw dalam jihad menghadapi kaum kafir Makkah. Inilah buah sifat pemaaf Rasulullah saw. Semoga kita semakin termotivasi untuk menyambung silaturrahmi dan tidak memutuskannya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
