Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Taqwa

Amalan 10 Hari Terakhir Ramadhan

Agama | 2026-03-10 07:44:02
Anjuran untuk membaca Al-Quran di 10 hari terakhir Ramadhan (sumber : https://www.sarungbhs.co.id/post/article/pentingnya-mengajarkan-anak-anak-membaca-al-quran-sejak-dini)

كَانَ رَسُوْلُ اللهً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِيْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ

“Dari Aisyah r.a, Rasulullah saw sangat bersungguh-sungguh beribadah pada 10 hari terakhir Ramadhan, melebihi kesungguhan beribadah beliau di malam lainnya.” (H.R Muslim).

Sudah tidak terasa, kita sudah mencapai Ramadhan ke 20, sudah 19 malam kaum muslimin berjuang dalam menunaikan ibadah puasa Ramadhan, baik dalam negara yang damai seperti negara tercinta Indonesia, maupun negara yang saat ini dilanda konflik seperti Republik Iran. Apapun kondisi yang dialami saat ini, kita harus selalu bersyukur kepada Allah swt karena masih diberi kenikmatan berupa kesehatan dan kehidupan dengan amal shalih.

Namun 10 hari Ramadhan juga merupakan hari yang paling rentan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sudah merupakan tabiat manusia sebagai makhluk yang cepat bosan dan selalu lebih menyukai kesenangan daripada ibadah, hal ini bisa kita lihat dalam perbandingan kondisi pasar dan masjid di awal Ramadhan.

Pasar-pasar saat ini merupakan tempat paling ramai dikunjungi, rela bagi mereka untuk berpadat-padatan dan terkadang terjebak macet untuk sekedar membeli barang baru, seperti baju, karpet, dan lain-lain, terkadang hanya demi sekedar memamerkan hasil kerja kerasnya dan “meningkatkan” kasta sosial terhadap pandangan tamu yang berkunjung di hari lebaran.

Sebaliknya masjid merupakan tempat yang paling sedikit pengunjungnya menjelang berakhirnya Ramadhan, mungkin masih ada jemaah yang masih istikamah dalam beramal di bulan suci Ramadhan, namun di beberapa tempat, jemaah tersebut bisa dihitung dengan jari-jari tangan. Padahal 10 hari terakhir Ramadhan sendiri adalah hari yang paling utama untuk memanen keutamaan dan Lailatul Qadr yang dikatakan lebih baik dari 1000 bulan.

Al-Quran telah menjelaskan hal ini dalam QS.Al-Qadr : 1-3 yang berbunyi

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۝١

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar.

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ۝٢

Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu?

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ۝٣

Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan

Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kaum beriman untuk lebih mengintensifkan amalannya di 10 hari terakhir Ramadhan demi mengejar malam Lailatul Qadar ini. Untungnya Rasulullah saw sebagai Rasul terbaik telah memberikan petunjuk dalam melakukan hal tersebut.

1. Beritikaf di Mesjid

Hadis Riwayat Imam Dailani dari Aisyah, Rasulullah saw bersabda

مَنِ اعْتَكَفَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa yang beriktikaf (bertepatan dengan) Lailatul Qadar karena iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni semua dosa yang lalu (dosa kecil dan dosa besar).”

Rasulullah saw sering beritikaf di masjid, melakukan kegiatan mengisolasikan diri dari urusan dunia untuk berfokus terhadap ibadah dan zikir kepada-Nya. Hidup ini tidak selamanya harus berfokus terhadap dunia, ada baiknya kita meluangkan waktu untuk iktikaf di masjid selama beberapa hari. Insya Allah selepas iktikaf iman dan kejiwaan akan berkembang ke arah kebaikan.

2. Memperbanyak Shalat Malam, Dzikir, dan Tilawatil Qur’an

Rasulullah meningkatkan ibadah shalat, dzikir, dan tilawah Al-Quran di sepuluh hari terakhir. Khususnya pada malam terakhir sepuluh Ramadhan untuk menjumpai Lailatul Qadr. Tentunya, kita sebagai umat beliau harus semakin bergiat dengan sungguh-sungguh meningkatkan amalan ibadah yaitu qiyamul lail, shalat malam, dzikir, doa, baca Al-Quran dan lebih mendekatkan diri kepada Allah swt di malam-malam akhir Ramadhan.

Shalat malam sendiri lebih dianjurkan terhadap bulan Ramadhan, sebagaimana dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan shalat malam pada bulan Ramadhan tanpa memberi perintah yang mewajibkan. Lalu Rasulullah saw bersabda

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa shalat malam pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya diampunilah dosa-dosanya yang telah lampau.”

3. Bersedekahlah

Dalam lingkup kedemawarnan, zakat fitrah bukanlah satu-satunya amalan yang diutamakan di bulan Ramadhan, namun sedekah, infaq, dan bentuk kedemawarnan lainnya merupakan bentuk amalan yang dilakukan Rasulullah saw semasa hidupnya terutama di bulan Ramadhan.

عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

Dari Anas dikatakan, Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama? Rasul menjawab, “Sedekah di bulan Ramadhan”. (HR At-Tirmidzi)

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

Rasulullah saw adalah orang paling dermawan di antara manusia lainnya, dan ia semakin dermawan saat berada di bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئً

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192).

Semua amalan ibadah Rasulullah di atas agar menjadi contoh bagi umat Islam untuk lebih giat dalam beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadan.

Di akhir Ramadhan, kita tingkatkan ibadah dan amal saleh untuk mendapatkan maghfirah, rahmat, ridha, dan berkah dari Allah swt. Semoga kita juga mendapatkan Lailatul Qadar bagi yang tak terputus dan memutus ibadah-ibadah qiyamul lain terutama di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Semoga kita bisa memanfaatkan peluang untuk meningkatkan beribadah di sepuluh hari Ramadhan termasuk peluang mendapatkan Lailatul Qadar.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image