Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Wahyuddin Luthfi Abdullah

Alarm Ramadhan: Kecelakaan bagi Orang yang Berpuasa

Agama | 2026-02-25 08:54:57

Ramadhan selalu datang dengan janji besar: “Takwa”. Al-Qur’an menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Tujuan puasa disebut dengan sangat eksplisit “la‘allakum tattaqun” agar kamu bertakwa. Namun redaksi itu menarik. Ia diawali dengan kata la‘alla, kata harap, bukan kata pasti. Artinya, takwa bukan hadiah otomatis setiap kali kita berpuasa. Ia bukan barang murah. Ia bukan jaminan. Ia adalah hasil dari proses yang dijalani dengan benar dan sungguh-sungguh.

Sebagaimana belajar tidak otomatis membuat seseorang pandai, yang membuat pandai adalah belajar yang tekun, benar, dan konsisten. Begitu pula puasa. Ia hanya melahirkan takwa jika dijalankan dengan kualitas, bukan sekadar formalitas.

Di sinilah pentingnya peringatan dini. Sebab Ramadhan di awal selalu penuh semangat, tapi sering kali kehilangan arah di tengah jalan. Dan Nabi telah mengingatkan dengan nada yang menggetarkan: “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus.”

Puasa yang mestinya menyelamatkan, bisa berubah menjadi kecelakaan.

Pola Ibadah: Antara Keutamaan dan Kecelakaan

Al-Qur’an menghadirkan satu pola menarik tentang ibadah. Setiap ibadah dijanjikan dampak luar biasa tetapi selalu dengan syarat.

Shalat, misalnya. Ia disebut mencegah perbuatan keji dan mungkar. Namun dalam Surah Al-Ma’un justru disebutkan: “Celakalah orang-orang yang shalat.” Celaka? Ya, bagi mereka yang lalai (malas), riya, dan tak peduli pada sesama. Artinya, shalat yang benar mengangkat derajat, tetapi shalat yang kosong justru menyeret pada kecelakaan spiritual.

Infaq juga demikian. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 261, digambarkan satu benih yang melahirkan tujuh ratus kali lipat. Tetapi ayat setelahnya memperingatkan tentang mann dan adza; mengungkit-ungkit dan menyakiti yang menghapus pahala seperti debu di atas batu licin yang tersapu hujan deras.

Pola ini konsisten. Haji, shalat, infaq semuanya bisa menjadi kendaraan keselamatan, atau justru sebab kecelakaan.

Dan puasa tidak terkecuali.

Empat Kecelakaan dalam Puasa

Setidaknya ada empat bentuk kecelakaan yang bisa menimpa orang yang berpuasa.

1. Puasa tanpa keikhlasan

Ikhlas adalah ruh ibadah. Tanpanya, ibadah hanyalah gerakan tanpa makna. Dalam konteks puasa, ini lebih serius lagi. Dalam hadis qudsi, Allah menyebut puasa sebagai ibadah khusus untuk-Nya, dan Dia sendiri yang akan membalasnya. Tetapi syaratnya jelas: ia dilakukan karena Allah.

Jika puasa dijalani karena gengsi sosial, tekanan lingkungan, atau sekadar tradisi, maka yang tersisa hanyalah lapar. Secara fisik menahan diri, tetapi secara batin tidak sedang menuju Allah.

2. Puasa yang melalaikan shalat

Ironis ketika seseorang sanggup menahan lapar seharian, tetapi tak sanggup menjaga shalat lima waktu. Padahal shalat adalah tiang agama. Puasa dan shalat bukan dua jalur terpisah. Keduanya satu sistem.

Puasa yang tidak memperbaiki shalat menunjukkan ada yang salah pada orientasi. Dalam kondisi ini, kerugiannya berlapis: puasanya bermasalah, shalatnya pun bermasalah. Sebuah “double loss” dalam bahasa generasi sekarang.

3. Puasa tanpa meninggalkan zur

Nabi mengingatkan, siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta (zur), maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.

Zur bukan sekadar bohong. Ia mencakup segala bentuk dosa dan kesia-siaan: ucapan kasar, komentar penuh kebencian, konten kotor, sindiran tajam, ghibah digital, hingga sikap meremehkan orang lain.

Di era media sosial, zur tidak hanya terjadi di dunia nyata. Ia hadir di kolom komentar, di unggahan, di pesan pribadi. Sering kali orang merasa puasa hanya berlaku dari sahur hingga magrib. Setelah berbuka, seolah bebas kembali pada pola lama: begadang sia-sia, tontonan tak bermakna, bahkan maksiat digital.

Padahal Ramadhan bukan ibadah 12 jam. Ia adalah atmosfer 24 jam. Jika siang menahan lapar, malam mestinya menahan diri dari kelalaian.

4. Puasa tanpa ampunan

Inilah puncak kecelakaan. Nabi menyebut orang yang hina adalah mereka yang menjumpai Ramadhan, tetapi keluar darinya tanpa ampunan.

Ramadhan didesain sebagai bulan penghapus dosa. Jika setelah sebulan penuh seseorang tetap jauh dari ampunan, berarti ada yang salah secara mendasar pada cara ia menjalaninya. Mungkin puasanya formal, tapi tidak substantif. Ramai aktivitas, tetapi miskin kesungguhan.

Ramadhan: Antara Rutinitas dan Transformasi

Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah proyek transformasi. Tetapi transformasi tidak terjadi otomatis hanya karena kalender berubah.

Takwa adalah hasil, bukan hadiah. Ia lahir dari puasa yang ikhlas, disiplin, tekun, menjaga lisan, menjaga shalat, dan sungguh-sungguh mencari ampunan.

Karena itu, mumpung masih di awal-awal Ramadhan, peringatan ini penting. Jangan sampai di akhir nanti yang tersisa hanya penyesalan: “Mengapa tidak diingatkan dari awal?”

Puasa seharusnya menyelamatkan kita dari api, bukan sekadar menahan kita dari nasi. Ia seharusnya menumbuhkan takwa, bukan hanya menambah jadwal buka bersama.

Sebab pada akhirnya, yang diukur bukan berapa hari kita menahan lapar, tetapi apakah setelah Ramadhan kita menjadi lebih bertakwa atau tetap sama, hanya lebih kurus sedikit.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image