Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Indar Cahyanto

Pembelajaran Diri dari Madrasah Ramadhan

Agama | 2026-02-24 10:30:05
Sumber : https://pixabay.com/id/images/search/ramadhan/

Ibadah shaum Ramadhan sudah 1 pekan kita lakukan dengan khusyuk dan dengan penuh tunduk patuh taat kepada Allah dan Rosulnya. Segala aktifitas ibadah kita lakukan mulai dari dari Sholat Taraweh, Tadarus, Shaum di siang hari hingga infak dan shodaqoh kita tunaikan sebagai rasa pengamalan spiritual seorang hamba kepada RobbNya.

Ramadhan merupakan suatu ritual ibadah yang didalamnya mendapat ganjaran pahala yang berlipat dari Allah SWT serta mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Karena amalan Ramdhan hanya Allah SWT sendiri yang akan menilai sampai sejuah mana seorang hamba merefleksikan nilai-nilai keimanan dalam dirinya untuk menambah derajat ketaqwaan.

Amalan Ramadhan bukan hanya semata menahan lapar dan haus saja serta menggugurkan kewajiban sebagi seorang hamba yang beriman akan tetapi puasa Ramadhan harus benar-benar dilakukan secara penuh keyakinan dan tanggung jawab untuk mengamalkannya. Amalan puasa Ramadhan sesuatu yang tak Nampak secara kasat mata hanya Allahlah yang tau dengan Hamba yang melakukan puasa itu. Dalam hadist Nabi Muhammad SAW menjelaskan : “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy)

Dalam Hadist lain yang diriwayatkan oleh Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Puasa merupakan amalan yang tersembunyi hanyalah dirinya yang tau dengan Allah SWT yang mengetahui. Karena puasa merupakan rahasia seorang hamba dengan Tuhannya, tidak ada yang melihatnya kecuali Allah. Orang yang sedang berpuasa, Ketika di tempat yang sepi mungkin baginya dapat mengkonsumsi apa yang diharamkan oleh Allah, (akan tetapi) dia tidak mengkonsumsikannya. Karena dia sadar pasti ada yang mengetahuinya yakni Tuhan yang melihat di tempat yang sunyi. Dan Dia telah mengharamkan hal itu. Maka dia tinggalkan ada rasa takut akan siksa-Nya serta berharap pahala dari-Nya. Maka, Allah berterimakasih akan keikhlasan ini dengan mengkhususkan puasa untuk diri-Nya dibandingkan amalan-amalan lainnya.

Amalan-amalan itu apabila dikerjakan dengan rasa iklas maka akan diganjar atau dibalas pahala oleh Allah SWT. Ganjaran atau pahala itu merupakan dari rasa sayangNya Allah kepada seorang Hamba yang telah sabar menjalankan kewajiban dan perintahNya. Karena amalan-amalan saleh akan dilipatgandakan pahalanya dengan bilangan. Satu kebaikan yang yang dilakukan akan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali sampai berlipat-lipat. Sementara puasa, maka Allah sandarkan pahalanya kepada diri-Nya tanpa ada kadar bilangan. Maka Dia Subhanahu adalah zat yang paling dermawan dan paling mulia. Pemberian sesuai dengan apa yang diberikannya.

Maka pahala orang puasa sangat besar tanpa batas. Puasa adalah sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari yang diharamkan Allah dan sabar terhadap takdir Allah yang menyakitkan dari lapar, haus dan lemahnya badan serta jiwa. Maka terkumpul di dalamnya rasa macam kesabaran. Maka layak orang puasa termasuk golongan orang-orang sabar. Sementara Allah telah berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [Az-Zumar/39: 10]

Di balik rasa lapar dan dahaga di siang hari Ketika kita melaksanakan shaum di bulan Ramadhan. Ada butiran Cahaya dan pahala yang diberikan oleh Allah SWT secara tersembunyi. Serta ada sebuah pesan rahasia yang tersembunyi di balik keringnya kerongkongan dan perihnya lambung saat kita berpuasa di kala siang hari. Ia bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan sebuah "perang suci" yang berlangsung di dalam relung dada dan jiwa kita. Sebagai proses pembelajaran sebagai seorang hamba untuk taat dan patuh kepadaNya.

Para ulama dalam mimbarnya menekankan bahwa puasa bukan sekadar memindahkan jam makan,memindahkan nafsu duniawi melainkan sebuah strategi ruhani untuk memenangkan peperangan yang besar di dalam diri. Ada beberapa butiran pembelajaran yang dapat diambil sebagai proses refleksi pembelajaran

Pertama Mematahkan Kekuatan "Pasukan Setan" Puasa adalah sebab kekalahan bagi para penolong setan) Setan masuk ke dalam jiwa manusia melalui pintu-pintu syahwat. Ketika seseorang terus memanjakan keinginannya, ia seolah membukakan pintu gerbang bagi setan untuk berkuasa. Puasa datang untuk menutup pintu-pintu tersebut, membuat "asisten-asisten" setan kehilangan pijakan dan kekuatannya dalam menggoda manusia.

Dari Shofiyah binti Huyay, ia berkata, “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang beri’tikaf, lalu aku mendatangi beliau. Aku mengunjunginya di malam hari. Aku pun bercakap-cakap dengannya. Kemudian aku ingin pulang dan beliau berdiri lalu mengantarku. Kala itu rumah Shofiyah di tempat Usamah bin Zaid. Tiba-tiba ada dua orang Anshar lewat. Ketika keduanya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mempercepat langkah kakinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Pelan-pelanlah, sesungguhnya wanita itu adalah Shofiyah binti Huyay.” Keduanya berkata, “Subhanallah, wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. Aku khawatir sekiranya setan itu menyusupkan kejelekan dalam hati kalian berdua.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175).

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Dengan puasa, Allah menyempitkan aliran darah yang merupakan jalurnya setan karena setan itu menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa ini menyempitkan jalan tersebut sehingga setan pun terhalang untuk menggoda. Hal ini diperoleh bagi yang menjalani puasa dengan benar dan ikhlas. Oleh karena itu, puasa Ramadhan adalah moment yang baik bagi setiap mukmin untuk bersemangat dalam ibadah kepada Allah. Hendaklah mereka bersungguh-sungguh dalam ibadah dan dzikir. Juga dalam meraih pahala di sisi Allah serta takut akan siksa Allah di akhirat.” https://muslim.or.id/17319-kajian-ramadhan-5-puasa-menyempitkan-jalannya-setan.html

Kedua Menghidupkan Pasukan Cahaya (Ar-Rahman) (Dan kemenangan bagi tentara Allah) Di dalam hati manusia terdapat pertarungan antara bisikan setan dan ilham malaikat (tentara Ar-Rahman). Saat perut kosong dan nafsu tertahan, hijab-hijab penghalang cahaya Tuhan mulai tersingkap. Puasa memberikan "amunisi" bagi ruhani untuk menang, sehingga hati lebih mudah menerima petunjuk dan merasakan manisnya iman.

Saat perut kosong ada secercah Cahaya yang masuk dalam jiwa manusia beriman begitu nikmatnya dia melakukan ibadah shaum. Cahaya itu memancar dalam jiwanya dalam menerangi kehidupannya sehari-hari. Berupa ketenangan batin yang dirasakan dari setiap jiwa manusia kaum beriman. Cahaya itu merupakan bagian proses merujuk pada upaya spiritual membangkitkan potensi ketauhidan dan keimanan Lâ ilâha illallâh, kebaikan, dan nur (cahaya) Ilahi di dalam hati manusia untuk melawan hawa nafsu dan kegelapan. Hal ini melibatkan pensucian jiwa (tazkiyatun nafs), dzikir, dan kepatuhan mutlak kepada Allah, yang sering kali menuntut bimbingan spiritual atau cahaya Ilahi (nur Illahiah) yang tertanam dalam ruhaniah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allâh, dan bahwa aku adalah utusan Allâh, tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allâh dengan membawa kedua (kalimat ini) dalam tidak ragu-ragu dengan kedua (kalimat ini), kecuali dia masuk surga. [HR. Muslim, no. 27, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Ketiga Perisai bagi Anggota Tubuh (Dan penjagaan bagi anggota tubuh agar tidak terhanyut dalam pelanggaran) Puasa adalah bentuk "karantina" bagi panca indera. Mata yang biasanya liar, lisan yang sering tajam, dan tangan yang kerap lalai, semuanya dijaga oleh puasa. Dengan menahan yang halal (makan dan minum), kita sedang melatih otot spiritual kita untuk lebih mudah menahan yang haram.

Manusia tempatnya alpha dan pelanggaran atas apa yang diperbuat dan dilakukan selama hidupnya di dunia. Dari ujung rambut sampai ujung kaki pasti setiap Langkah kehidupan manusia mengandung kemaksiatan jika dia tidak berhati-hati. Ada rasa egoism dalam jiwa manusia, ada rasa lalai dalam hidup manusia, ada rasa malas dan ketidakmampuan diri dalam menjaga suasana kebatinan hatinya.

Maka puasalah yang dapat membentengi dari rasa energi negative dalam diri manusia. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082.

Keempat Menundukkan Liarnya Jiwa dengan Rasa Lapar (Sesungguhnya banyak makan menggerakkan jiwa pada keburukan... maka jika ia disentuh rasa lapar, ia akan tunduk dan patuh) Ibarat hewan liar yang hanya bisa dijinakkan jika dikurangi makannya, begitulah nafsu manusia. Kekenyangan sering kali melahirkan kesombongan dan kelesuan dalam ibadah. Namun, saat rasa lapar itu hadir, ego manusia yang tinggi perlahan luruh. Jiwa yang tadinya berontak menjadi tenang dan lebih mudah diarahkan kepada ketaatan.

Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan petuah yang sangat bagus : “Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah) https://rumaysho.com/469-jangan-biarkan-puasamu-sia-sia.html

Kelima Membersihkan Pikiran dari Hal yang Rendah (Dan ia (jiwa) tersibukkan dengan keadaan itu dari pikiran-pikiran yang rendah) Saat berpuasa, fokus manusia berpindah. Kesadaran akan pengawasan Allah (Muraqabah) meningkat. Energi yang biasanya digunakan untuk merencanakan kepuasan duniawi beralih menjadi energi untuk bersabar. Pikiran-pikiran kotor dan niat-niat rendah perlahan sirna, berganti dengan ketenangan batin.

Membersamai energi positif dengan membangun kesadaran jiwa pada saat puasa Ramadhan dengan membaca Quran, sholat sunnah kemudian membaca buku atau membuat karya dengan melibatkan kesadaran akal dan jiwanya. Dari sisi kesehatan, puasa memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat dari proses metabolisme yang berat. Rasulullah saw. bersabda: “Berpuasalah, maka kalian akan sehat.” (HR. Thabrani).

Puasa adalah perjalanan dari kekenyangan yang melalaikan menuju kelaparan yang mencerahkan. Ia bukan tentang apa yang kita tinggalkan di meja makan, tapi tentang apa yang kita tumbuhkan di dalam hati. "Janganlah engkau jadikan puasamu hanya sekadar mengubah waktu makan, tapi jadikanlah ia sebagai sarana untuk mengubah arah hidupmu."

Puasa bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga sarana untuk membersihkan jiwa dan raga. Dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seseorang belajar untuk mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan. Dari sisi kesehatan, puasa membantu proses detoksifikasi tubuh dan meningkatkan keseimbangan metabolisme. Dengan demikian, puasa menjadi ibadah yang membawa manfaat holistik, baik bagi kehidupan dunia maupun akhirat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image