Ketika Nabi Naik ke Langit, Umat Diuji di Waktu Shalat
Khazanah | 2026-01-16 11:16:38Peringatan Isra Mi'raj kembali hadir di tengah kehidupan umat Islam yang kian sibuk. Di masjid-masjid, ceramah diadakan, spanduk dipasang, dan kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW ke langit kembali dikisahkan. Namun di balik semarak peringatan itu, satu pertanyaan terus berulang: sejauh mana pesan utama Isra Mi'raj benar-benar hadir dalam kehidupan umat hari ini?
Al-Qur'an mengabadikan peristiwa ini dalam Surah Al-Isra ayat 1. Nabi Muhammad SAW diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa untuk menampilkan tanda-tanda kebesaran Allah. Dalam Surat An-Najm ayat 13–18, Allah menggambarkan puncak pengalaman spiritual tersebut di Sidratul Muntaha. Namun menariknya, dari seluruh perjalanan agung itu, hanya satu kewajiban yang diturunkan langsung tanpa perantara: salat.
Hadits-hadits sahih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menjelaskan bagaimana Nabi SAW menembus lapisan langit dan bertemu dengan para nabi terdahulu. Dalam rangkaian perjalanan itulah, kewajiban shalat lima waktu yang ditetapkan. Artinya, shalat bukan produk budaya, bukan tradisi lokal, melainkan amanat langit yang dibawa langsung Rasulullah SAW.
Kondisi umat hari ini menunjukkan tantangan tersendiri. Di banyak masjid, shaf salat wajib belum selalu penuh. Waktu Subuh sering menjadi yang paling sepi. Padahal, shalat justru diturunkan pada masa Rasulullah SAW berada dalam tekanan berat—setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Isra Mi'raj hadir sebagai pemaksaan, bukan pengungsi.
Bagi jamaah masjid, Isra Mi'raj seharusnya menjadi momentum evaluasi. Bukan sekedar mengenang perjalanan Nabi ke langit, namun menimbang sejauh mana kita menjaga hubungan dengan Allah di tengah tuntutan dunia. Sebab, jika umat diuji hari ini, bukan pada perjalanan ke langit, melainkan pada waktu shalat yang tepat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
