Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hafsah adilah

Derita Generasi Sandwich Menjadi Tumpuan Harapan Keluarga

Gaya Hidup | 2026-01-15 12:44:47
Sumber: Nursyam Centre

Menjadi bagian dari generasi sandwich itu rasanya seperti berdiri di tengah jalan yang sempit maju salah, mundur juga salah. Di satu sisi ada orang tua yang mulai menua dan membutuhkan dukungan, baik secara finansial maupun emosional. Di sisi lain, ada anak atau adik yang masih membutuhkan biaya hidup, pendidikan, dan perhatian. Dalam posisi ini, generasi sandwich sering kali tidak diberi banyak pilihan selain “harus kuat” dan “harus bisa”.

Banyak orang tidak pernah bercita-cita menjadi generasi sandwich. Posisinya datang begitu saja, Awalnya hanya membantu kebutuhan rumah, lalu membiayai adik, kemudian ikut menanggung kebutuhan orang tua. Lama-lama, semua terasa seperti kewajiban tetap. Setiap bulan, sebelum memikirkan diri sendiri, yang muncul justru daftar kebutuhan keluarga, seolah itu sudah menjadi rutinitas yang tidak boleh terlewatkan.

Dalam kehidupan nyata, generasi sandwich sering berada di usia produktif yang penuh tekanan. Karier masih mandiri, penghasilan belum sepenuhnya stabil, tapi tanggung jawab terus bertambah. Ada rasa ingin berhenti sejenak, menarik napas, lalu berkata, “aku capek ”. Namun kalimat itu sering hanya berakhir di kepala, tidak pernah benar-benar terucap.
Kondisi ini diperparah dengan anggapan bahwa generasi sandwich adalah pihak yang “paling kuat”. Karena terlihat mampu, mereka dianggap sanggup menanggung lebih banyak. Padahal, di balik sikap tenang dan tanggung jawab itu, ada kecemasan yang terus disimpan sendiri tentang masa depan, tentang kelelahan, tentang harapan yang seolah-olah tidak ada habisnya.

Ketika Harapan Keluarga Bertumpu di Pundak

Tanpa disadari, generasi sandwich sering dijadikan tumpuan utama harapan keluarga. Kalimat seperti “kamu kan sudah kerja”, “adikmu masih butuh”, atau “orang tua tinggal mengandalkan kamu” terdengar biasa, tapi dampaknya luar biasa. Harapan-harapan itu perlahan berubah menjadi beban yang terus menumpuk.

Menjadi tumpuan harapan keluarga memang bukan hal yang salah. Namun, harapan seharusnya tidak berubah menjadi beban yang mematikan ruang untuk hidup. Sandwich generasi tetap manusia, bukan mesin pemenuh kebutuhan. Mereka pantas ditinggikan, dikagumi, dan difahami batas kemampuannya.

Di dunia nyata, banyak generasi sandwich yang mengakhiri impian pribadinya. Ada yang menunda kuliah, menunda pernikahan, bahkan hanya sekedar menikmati hasil kerja sendiri. Bukan karena tidak ingin maju, tetapi karena kebutuhan keluarga selalu datang lebih dulu. Setiap kali mencoba memprioritaskan diri, rasa ikut hadir seolah kebahagiaan pribadi adalah sesuatu yang egois.

Di Balik Tanggung Jawab yang Terus Datang

Di balik peran yang terlihat kuat, ada kelelahan yang jarang dibicarakan. Yang jarang disadari adalah kelelahan mental generasi sandwich. Mereka tetap terlihat kuat, tetap menjalani peran, dan tetap berusaha memenuhi harapan keluarga. Namun dibalik itu, ada rasa lelah yang tidak pernah benar-benar dibicarakan. Mau mengeluh takut dianggap tidak bersyukur, mau diam, hati sendiri yang penuh.

Akhirnya, semua dipendam dan dijalani dalam diam. Padahal, menjadi tumpuan harapan keluarga bukan berarti harus kehilangan ruang untuk diri sendiri. Sandwich generasi tetap manusia, bukan mesin pemenuh kebutuhan. Mereka bisa lelah, bisa rapuh, dan butuh dimengerti.

Solusi Realistis bagi Generasi Sandwich

Solusi bagi generasi sandwich tidak selalu soal pendapatan yang lebih besar, tetapi tentang cara mengelola tanggung jawab dengan lebih sehat. Langkah awal yang bisa dilakukan dengan membangun komunikasi terbuka dalam keluarga. Membicarakan kondisi keuangan, batas kemampuan, serta pembagian peran secara jujur dapat membantu mengurangi beban yang selama ini hanya dipikul oleh satu orang.

Selain itu, generasi sandwich juga perlu berani menetapkan batas. Mengatakan “belum bisa” atau “perlu waktu” bukan tanda ketidakpedulian, melainkan bentuk menjaga diri agar tidak terus-menerus kelelahan. Menyisihkan sedikit ruang untuk kebutuhan pribadi, baik waktu istirahat, tabungan, maupun kesehatan mental yang menjadi hal penting agar tetap bisa bertahan.

Pada akhirnya, solusi terbaik lahir dari kesadaran bersama bahwa tanggung jawab keluarga seharusnya dipikul secara kolektif. Ketika beban dibelah, harapan tetap terjaga, dan generasi sandwich tidak lagi harus berjalan sendirian di situlah keluarga benar-benar menjadi tempat saling menguatkan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image