Menjaga Iman di Era Digital: Khidmat Isra Miraj di MAN 3 Bantul
Guru Menulis | 2026-01-15 10:55:19Bantul ( MAN 3 Bantul ) Pada hari Kamis, 15 Januari 2026, suasana religius nan teduh menyelimuti Mushola Raudhatul Jannah MAN 3 Bantul. Ratusan murid bersama guru dan staf berkumpul dengan khidmat untuk memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Mengusung tema "Isra’ Mi’raj dan Sholat Berjamaah: Jalan Menjaga Iman di Tengah Tantangan Zaman", kegiatan ini dibuka dengan pelaksanaan sholat Dhuha dan sholat Hajat berjamaah. Momentum ini menjadi sarana bagi seluruh civitas akademika untuk mengetuk pintu langit, memohon keberkahan dan kemudahan dalam menghadapi dinamika pendidikan di masa depan.
Kepala Satuan Pendidikan MAN 3 Bantul dalam sambutannya memaparkan sejarah agung perjalanan malam Rasulullah secara mendalam. Beliau menekankan pentingnya sikap Tafaul khusnudzon—senantiasa berprasangka baik dan optimis terhadap ketetapan Allah SWT—meskipun di tengah situasi yang sulit. Menariknya, beliau juga mengutip pemikiran Amien Rais mengenai dimensi "trans-rasional" dari peristiwa Isra’ Mi’raj. Perspektif ini mengajak para murid untuk memahami bahwa meskipun peristiwa tersebut melampaui logika manusia pada umumnya, namun ia tetap memiliki kebenaran hakiki yang dapat diterima melalui pendekatan iman dan ilmu pengetahuan yang luas.
Lebih lanjut, pesan dalam kegiatan ini diproyeksikan sebagai inspirasi nyata bagi para murid untuk mengakselerasi penguasaan teknologi. Peristiwa Isra’ Mi’raj yang menembus batas ruang dan waktu diharapkan menjadi pelecut semangat bagi murid MAN 3 Bantul untuk terus tergerak belajar tanpa henti. Kepala Madrasah memotivasi para murid agar memiliki cita-cita setinggi langit, termasuk melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi demi memberikan kontribusi bagi peradaban. Dengan penguasaan teknologi yang dibarengi iman, murid diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor penggerak kemajuan zaman.
Puncak acara diisi dengan tausiyah yang sangat inspiratif dari Ustadz Nova Andriyanto, S.Sos. Dalam ceramahnya, beliau mengupas tuntas mengapa Isra’ Mi’raj dikategorikan sebagai kejadian yang sepenuhnya di luar nalar manusia. Beliau menjelaskan bahwa keterbatasan akal manusia tidak seharusnya menjadi penghalang untuk meyakini kekuasaan Allah. Justru, peristiwa ini adalah ujian bagi hamba-Nya untuk membuktikan sejauh mana kualitas keimanan mereka terhadap hal-hal yang tidak kasat mata namun memiliki dampak besar bagi kehidupan spiritual umat Islam.
Kegiatan PHBI ini ditutup dengan syair bulan rajab dan doa bersama, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta yang hadir. Melalui peringatan ini, MAN 3 Bantul kembali meneguhkan komitmennya untuk mencetak generasi yang unggul secara intelektual namun tetap kokoh dalam pondasi spiritual. Sholat berjamaah yang menjadi "oleh-oleh" utama peristiwa Isra’ Mi’raj pun ditekankan sebagai benteng utama bagi para murid agar tetap teguh menjaga identitas muslim mereka di tengah derasnya arus tantangan zaman modern yang kian kompleks. (Wti)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
