Kemaksiatan Diiringi Kebaikan, Benarkah Bisa Menghapus Dosa?
Agama | 2026-01-11 22:26:45Oleh : Yuni Ummu Zeefde
Ibu Rumah Tangga
عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
[رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]
ترجمة الحديث :
Dari Abu Zar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda : "Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik “. (Riwayat Turmuzi, dia berkata haditsnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan hasan shahih).
Hadis Nabi ﷺ diatas mengajarkan keseimbangan hidup seorang Muslim. Takwa adalah hubungan vertikal dengan Allah: takut melanggar perintah-Nya dan berharap ridha-Nya. Sementara akhlak yang baik adalah hubungan horizontal dengan manusia: jujur, santun, adil, dan penuh kasih sayang. Seorang Muslim yang sejati tidak hanya rajin ibadah, tetapi juga menjaga sikap dan perbuatannya dalam kehidupan sosial. Inilah keseimbangan iman yang membentuk pribadi yang bersih lahir dan batin.
Dalam Islam, Allah Maha Pengampun dan membuka pintu rahmat yang sangat luas bagi hamba-Nya. Ketika seseorang melakukan dosa, lalu ia menyesal dan segera melakukan kebaikan, maka kebaikan itu dapat menjadi sebab dihapusnya dosa-dosa kecil. Sebagaimana cahaya menghilangkan kegelapan, amal saleh seperti shalat, sedekah, dzikir, dan perbuatan baik kepada sesama dapat membersihkan noda dosa yang telah terjadi. Namun, ini bukan berarti dosa boleh dilakukan dengan sengaja lalu “dibayar” dengan kebaikan, melainkan sebagai bentuk rahmat Allah bagi hamba yang ingin kembali kepada-Nya.
Tidak ada kebaikan apapun yang bisa disandingkan dengan keburukan. Begitupun sebaliknya, keburukan tidak akan pernah sepadan dengan kebaikan. Sebagaimana cahaya dan gelap tidak bisa menyatu, demikian pula kebaikan dan kemaksiatan tidak bisa saling menutupi. Kebaikan memiliki kemuliaan tersendiri, sementara keburukan membawa kerusakan, baik pada diri pelaku maupun pada tatanan masyarakat.
Para ulama menjelaskan bahwa kebaikan yang paling agung dan paling besar kekuatannya dalam menghapus dosa adalah taubat. Taubat bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan proses hati dan sikap hidup. Taubat yang benar mengandung tiga unsur: berhenti dari perbuatan dosa, menyesali dengan tulus apa yang telah dilakukan, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Jika dosa itu berkaitan dengan hak manusia, maka harus disertai dengan mengembalikan hak atau meminta maaf. Dengan taubat yang sungguh-sungguh, bahkan dosa sebesar apa pun dapat dihapus dan diganti dengan kebaikan oleh Allah.
Di masa kini, masyarakat disuguhi berbagai berita kriminal dan pelanggaran moral hampir setiap hari. Perzinaan, kekerasan, penipuan, narkoba, hingga kejahatan digital seakan menjadi hal biasa. Ironisnya, di tengah maraknya kemaksiatan itu, tidak sedikit orang yang mencoba menenangkan hati dengan berkata, “Tidak apa-apa, yang penting masih banyak berbuat baik.” Seolah-olah sedekah, bantuan sosial, atau ibadah tertentu dapat menjadi penebus atas gaya hidup yang jelas melanggar aturan Allah.
Cara berpikir seperti ini sangat berbahaya. Ia melahirkan standar ganda dalam beragama: di satu sisi mengaku beriman, tetapi di sisi lain tetap nyaman bergelimang dosa. Padahal dalam Islam, ketaatan bukanlah sekadar mengumpulkan pahala, melainkan juga menjauhi larangan. Allah tidak hanya memerintahkan shalat dan sedekah, tetapi juga melarang zina, riba, khamr, dan berbagai bentuk kemaksiatan lainnya.
Memang benar bahwa kebaikan dapat menghapus dosa, sebagaimana firman Allah dalam Surat Hud ayat 114, bahwa:
إِنَّ ٱلۡحَسَنَـٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ
Artinya: "Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)".
Namun ayat ini tidak bisa dipahami secara serampangan. Perbuatan baik yang dimaksud adalah ketaatan yang disertai penyesalan dan taubat yang tulus, bukan kebaikan yang dijadikan alasan untuk terus bermaksiat. Jika seseorang sengaja melakukan dosa lalu berharap kebaikan kecil akan menjadi “pembayar lunas”, maka itu bukan taubat, melainkan tipu daya terhadap diri sendiri.
Taubat dalam Islam memiliki syarat: berhenti dari maksiat, menyesali perbuatan, dan bertekad tidak mengulanginya. Tanpa itu, kebaikan hanya menjadi hiasan luar yang tidak menyentuh akar penyakit hati. Ibarat seseorang yang menaburkan parfum di atas sampah, baunya mungkin tertutup sebentar, tetapi busuknya tetap ada.
Karena itu, umat Islam harus kembali pada pemahaman yang lurus: kebaikan tidak boleh menjadi dalih untuk terus berbuat maksiat. Justru kebaikan sejati akan mendorong seseorang untuk meninggalkan dosa dan memperbaiki diri. Masyarakat pun membutuhkan keteladanan yang jujur—bukan orang-orang yang rajin beramal di depan, tetapi longgar terhadap pelanggaran di belakang.
Sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri: apakah kebaikan yang kita lakukan benar-benar mendekatkan kita kepada Allah, atau hanya menjadi pembenaran agar kita tetap nyaman dalam kemaksiatan?
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bukanlah banyaknya amal yang bercampur dosa, melainkan hati yang tunduk dan taat kepada aturan-Nya. Wallahu A'lam Bishowab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
