Lulusan Kampus Menganggur: Potret Krisis Ketenagakerjaan di Maroko
Politik | 2026-01-11 22:10:28
Maroko sering dipandang sebagai negara Afrika Utara yang relatif stabil dan menunjukkan kemajuan dalam sektor pendidikan tinggi. Dalam dua dekade terakhir, akses terhadap perguruan tinggi semakin luas dan jumlah lulusan universitas terus meningkat. Namun, peningkatan tersebut tidak diiringi dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai. Akibatnya, Maroko menghadapi persoalan serius berupa tingginya tingkat pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi, terutama generasi muda.
Ironisnya, lulusan universitas justru memiliki risiko menganggur lebih tinggi dibandingkan mereka yang berpendidikan lebih rendah. Fenomena ini mencerminkan adanya ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Pendidikan tinggi di Maroko masih didominasi pendekatan teoritis, sementara dunia kerja menuntut keterampilan praktis, adaptif, dan berbasis teknologi. Banyak lulusan ilmu sosial dan administrasi publik akhirnya terjebak dalam persaingan kerja yang ketat tanpa keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri.
Struktur ekonomi Maroko turut memperparah kondisi tersebut. Perekonomian nasional masih bertumpu pada sektor tradisional seperti pertanian, pariwisata, dan industri berupah rendah yang tidak mampu menyerap tenaga kerja terdidik dalam jumlah besar. Sektor informal kemudian menjadi alternatif bagi sebagian lulusan, meski tanpa kepastian pendapatan dan perlindungan sosial. Dalam jangka panjang, situasi ini berpotensi menimbulkan ketidakpuasan sosial serta mendorong migrasi tenaga terdidik ke luar negeri.
Masalah pengangguran lulusan perguruan tinggi di Maroko seharusnya dipahami sebagai persoalan struktural, bukan kegagalan individu. Oleh karena itu, negara perlu melakukan reformasi kebijakan secara menyeluruh. Reformasi pendidikan tinggi menjadi langkah mendesak, khususnya melalui penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja, penguatan pendidikan vokasi, serta perluasan program magang dan kerja sama antara universitas dan sektor industri.
Selain itu, pengembangan kewirausahaan muda dapat menjadi solusi alternatif untuk menekan angka pengangguran. Pemerintah dapat memberikan pelatihan kewirausahaan, akses permodalan yang terjangkau, serta dukungan inkubator bisnis bagi lulusan perguruan tinggi. Dengan pendekatan ini, lulusan tidak hanya diposisikan sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai pencipta lapangan kerja baru.
Di sisi lain, diversifikasi ekonomi melalui pengembangan sektor digital dan ekonomi hijau perlu mendapat perhatian serius. Investasi pada teknologi informasi, industri kreatif, dan energi terbarukan berpotensi menciptakan lapangan kerja berkualitas sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan. Maroko memiliki potensi besar dalam energi surya dan angin yang dapat dimanfaatkan untuk menyerap tenaga kerja terdidik.
Tingginya pengangguran lulusan perguruan tinggi di Maroko menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum sepenuhnya menjadi jembatan menuju kesejahteraan. Tanpa kebijakan ekonomi dan pendidikan yang selaras, bonus demografi justru berisiko menjadi beban sosial. Oleh karena itu, reformasi struktural yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja berkualitas menjadi kunci bagi masa depan generasi muda Maroko.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
