Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Zumrotin Ummi Fadhilah

Ketika Putus Bukan Pilihan Mudah Bagi Perempuan: Mengenal Toxic Relationship dalam Perspektif Psikologi

Humaniora | 2026-01-11 13:41:56

Tidak sedikit dari kita atau lingkungan terdekat yang pernah menyaksikan seorang perempuan bertahan dalam hubungan romantis yang menyakitkan. Mungkin sudah banyak yang menasihati berulang kali, diingatkan oleh teman dan keluarga, namun ia masih tetap memilih untuk mempertahankan hubungan yang tidak sehat. Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan yang toksik tidak semata-mata menjadi persoalan rasional saja, tetapi memiliki dinamika psikologis yang mendalam, terutama dari sisi pengalaman masa kecil.

Toxic relationship dalam hubungan romantis diartikan sebagai pola relasi yang ditandai dengan kontrol berlebih, manipulasi emosi, dan perilaku abusif yang berlangsung secara berulang serta berdampak negatif terhadap kesejahteraan psikologis individu. Data Komnas Perempuan (2023) menunjukkan bahwa kasus kekerasan dalam pacaran masih berada pada angka yang mengkhawatirkan, dengan mayoritas korban adalah perempuan. Bahkan, kelompok usia remaja awal hingga akhir menjadi salah satu kelompok paling rentan mengalami kekerasan seksual dan emosional. Fakta ini menegaskan bahwa relasi romantis justru kerap menjadi ruang yang tidak aman bagi perempuan.

Fenomena toxic relationship ini dapat dipahami melalui pendekatan psikodinamika untuk mengetahui alasan di balik sulitnya perempuan melepaskan diri dari hubungan toksik. Dalam psikodinamika, pengalaman yang terjadi di masa kini berkaitan erat dengan konflik dan relasi awal dalam kehidupan, terutama pada masa kanak-kanak. Salah satu fase perkembangan yang cukup krusial adalah fase phalic (3–6 tahun). Pada masa tersebut, anak mulai membentuk pemahaman mengenai perbedaan jenis kelamin dan menjadikan orang tua sebagai figur cinta pertama. Pada anak perempuan, ayah berperan sebagai model laki-laki pertama yang membentuk rasa aman, nilai diri, dan ekspektasi terhadap relasi dengan lawan jenis di masa depan.

Perempuan dengan pengalaman ketidakhadiran figur ayah yang signifikan cenderung tanpa sadar memilih pasangan yang merepresentasikan figur tersebut. Pola relasi yang muncul sering kali ditandai oleh pasangan yang dingin secara emosional, tidak konsisten, manipulatif, atau melakukan love-bombing di awal hubungan lalu menarik diri. Hubungan yang demikian terasa familiar secara emosional, meskipun menyakitkan, karena selaras dengan pola relasi yang telah dikenal sejak kecil. Dalam kondisi ini, bertahan dalam hubungan toksik bukanlah bentuk kelemahan, melainkan upaya tidak sadar untuk memperbaiki luka lama yang belum terselesaikan.

Fenomena ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Dhea dan kolega (2025) yang menunjukkan bahwa ketidakhadiran figur ayah berhubungan dengan tingginya ketergantungan emosional terhadap pasangan, kesulitan membangun kepercayaan, serta ketidakstabilan emosi. Ketika perempuan beranjak dewasa, relasi romantis kemudian menjadi ruang pencarian figur pengganti ayah, di mana pasangan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan afeksi yang tidak terpenuhi pada masa perkembangan. Sayangnya, harapan ini sering kali berujung pada relasi yang tidak sehat dan penuh penderitaan psikologis.

Upaya untuk menghindari keterjebakan dalam hubungan toksik dapat dimulai melalui proses memahami diri secara mendalam dari perspektif psikologi. Kesadaran terhadap pola relasi yang berulang, kebutuhan afeksi yang belum terpenuhi, serta pemahaman terhadap pemicu emosional yang dirasakan menjadi langkah awal yang penting. Dalam pendekatan psikodinamika, proses ini dikenal sebagai insight, yaitu kemampuan individu untuk menyadari konflik batin dan pengalaman masa lalu yang memengaruhi pilihan serta perilaku di masa kini. Dengan menyadari bahwa ketertarikan terhadap pasangan tertentu mungkin berakar pada luka emosional masa kanak-kanak, individu memiliki peluang lebih besar untuk menghentikan pengulangan pola relasi yang merugikan dirinya.

Dengan memahami fenomena ini, diharapkan masyarakat dapat memiliki cara pandang yang lebih bijak dalam menyikapi perempuan yang terjebak dalam hubungan toksik. Perempuan dalam situasi tersebut tidak membutuhkan penghakiman, melainkan pemahaman yang lebih mendalam secara psikologis. Perlu disadari bahwa hubungan toksik tidak selalu merupakan pilihan yang dibuat secara sadar. Dalam banyak kasus, relasi semacam ini muncul sebagai bentuk dari luka emosional masa lalu yang belum terselesaikan.

Fenomena ini juga menjadi pengingat penting bagi kita semua, terutama bagi mereka yang kelak akan menjadi orang tua. Kehadiran emosional, kasih sayang, dan perhatian yang konsisten memiliki peran besar dalam perkembangan psikologis anak. Hubungan orang tua dan anak yang sehat sejak dini akan membentuk cara anak memandang dirinya dan orang lain di masa dewasa. Dengan fondasi tersebut, diharapkan generasi mendatang tidak lagi mencari cinta dalam hubungan yang melukai, tetapi mampu membangun relasi yang aman, setara, dan menyehatkan secara psikologis.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image