Semenjak Hari Itu Aku Tidak Pernah Benar-Benar Hidup
Sastra | 2026-01-11 10:17:14
Semenjak hari itu, aku tidak pernah benar-benar hidup. Bukan karena napasku berhenti, melainkan karena hidupku tak pernah dianggap. Aku ada, tetapi kehadiranku selalu lewat tak dicatat, tak dipedulikan, tak diingat.
Hari itu datang tanpa keributan. Hanya satu pengabaian yang terlalu jujur, yang membuatku mengerti bahwa sejak lama aku hidup sebagai pelengkap.
Suaraku terdengar, tetapi tak didengarkan. Perasaanku ada, tetapi tak pernah dianggap penting.
Sejak saat itu, aku belajar menjalani hari dengan pura-pura. Tersenyum seperlunya, diam secukupnya, kuat sebisanya. Aku bertahan, bukan karena hidup terasa bermakna, melainkan karena tak ada pilihan lain selain melanjutkan langkah.
Karena hidupku tak pernah dianggap, aku pun nyaris lupa bagaimana caranya menganggap diriku sendiri. Aku menurunkan harapan, merapikan mimpi, dan menyembunyikan luka agar tak lagi merepotkan siapa pun.
Semenjak hari itu, aku mengerti: hidup bukan sekadar bernapas dan berjalan. Hidup adalah diakui sebagai manusia. Dan ketika pengakuan itu tak pernah datang, seseorang bisa tetap hidup tanpa pernah benar-benar hidup.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
