Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Siti Nur Lathipah

Krisis Lingkungan Melalui Sastra

Sastra | 2026-01-09 22:12:46
Gambar ilustrasi tentang krisis lingkungan melalui ekologi sastra

Di tengah krisis lingkungan yang semakin nyata, sastra hadir sebagai ruang refleksi dan perlawanan. Tulisan ini mengulas ekologi sastra dengan mengaitkan karya sastra Indonesia dan fenomena kerusakan alam hari ini, sekaligus menegaskan peran sastra dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat.

Ekologi sastra merupakan pendekatan kritik sastra yang memusatkan perhatian pada relasi antara manusia, alam, dan representasinya dalam teks sastra. Pendekatan ini berangkat dari kesadaran bahwa krisis lingkungan tidak hanya persoalan ekologis semata, melainkan juga persoalan budaya, ideologi, dan cara manusia memaknai alam. Sastra, sebagai produk kebudayaan, memiliki peran penting dalam merekam, mengkritik, dan bahkan melawan praktik eksploitasi lingkungan yang semakin masif. Dalam konteks Indonesia saat ini, ekologi sastra menjadi semakin relevan karena kerusakan alam telah hadir sebagai pengalaman kolektif masyarakat.

Fenomena lingkungan di Indonesia menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Banjir yang berulang di Jakarta, Semarang, dan Kalimantan, kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan, serta konflik agraria akibat ekspansi tambang dan perkebunan sawit merupakan contoh nyata krisis ekologis yang sedang berlangsung. Kerusakan ini tidak terjadi secara alamiah, melainkan akibat relasi manusia dan alam yang timpang. Alam diposisikan sebagai komoditas ekonomi, bukan sebagai ruang hidup bersama. Dalam situasi inilah sastra melalui perspektif ekologi berfungsi sebagai medium kritik dan refleksi.

Ekologi sastra menolak pandangan antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat semesta dan alam sebagai objek pasif. Sebaliknya, pendekatan ini melihat alam sebagai subjek yang memiliki suara, nilai, dan hak untuk hidup. Dalam banyak karya sastra Indonesia, alam sering kali hadir bukan sekadar latar, tetapi sebagai entitas yang terluka dan berusaha “berbicara” melalui narasi. Misalnya, dalam novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, laut tidak hanya berfungsi sebagai simbol kehilangan dan ingatan, tetapi juga sebagai ruang ekologis yang menyimpan jejak kekerasan negara. Laut menjadi saksi bisu sekaligus korban dari kekuasaan yang menyingkirkan manusia dan alam secara bersamaan.

Contoh lain dapat ditemukan dalam cerpen dan puisi-puisi W.S. Rendra, terutama dalam kumpulan Potret Pembangunan dalam Puisi. Rendra secara lantang mengkritik pembangunan yang mengabaikan keseimbangan alam. Dalam puisinya, alam digambarkan rusak oleh proyek-proyek modernisasi yang tidak berpihak pada kehidupan. Kritik tersebut masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia hari ini, ketika pembangunan infrastruktur sering kali mengorbankan hutan, sungai, dan ruang hidup masyarakat adat. Sastra, dalam hal ini, berperan sebagai suara alternatif yang berani mempertanyakan narasi “kemajuan”.

Fenomena tambang di berbagai wilayah Indonesia juga menjadi isu penting dalam kajian ekologi sastra. Di Sulawesi dan Kalimantan, ekspansi tambang nikel dan batu bara telah mengubah lanskap alam secara drastis. Sungai tercemar, tanah kehilangan kesuburan, dan masyarakat sekitar kehilangan ruang hidupnya. Kondisi ini selaras dengan apa yang kerap direpresentasikan dalam sastra ekologis: kerusakan alam selalu beriringan dengan penderitaan manusia. Alam dan manusia sama-sama menjadi korban sistem ekonomi yang eksploitatif. Sastra mampu menjembatani persoalan ini dengan menghadirkan narasi yang bersifat empatik dan manusiawi.

Dalam novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf, misalnya, konflik agraria dan perusakan lingkungan di Papua digambarkan secara mendalam melalui perspektif masyarakat lokal. Alam Papua tidak digambarkan sebagai ruang kosong yang siap dieksploitasi, melainkan sebagai bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat adat. Novel ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan juga berarti penghancuran budaya dan ingatan kolektif. Di sinilah ekologi sastra berfungsi sebagai upaya dekolonisasi cara pandang terhadap alam.

Selain karya sastra cetak, fenomena ekologi sastra juga dapat dilihat dalam karya-karya sastra digital dan sastra populer yang berkembang di kalangan generasi muda. Puisi-puisi bertema lingkungan yang beredar di media sosial menunjukkan meningkatnya kesadaran ekologis generasi Z. Isu perubahan iklim, sampah plastik, dan krisis air sering kali diangkat dengan bahasa yang sederhana namun emosional. Hal ini menunjukkan bahwa sastra tidak lagi eksklusif, tetapi menjadi medium edukasi ekologis yang menjangkau khalayak luas.

Dalam konteks krisis iklim global, sastra memiliki keunggulan dibandingkan wacana ilmiah yang sering kali terasa jauh dari pengalaman sehari-hari. Sastra mampu mengubah data menjadi cerita, angka menjadi emosi, dan fakta menjadi kesadaran. Melalui narasi, pembaca diajak merasakan dampak ekologis secara personal. Misalnya, cerita tentang petani yang kehilangan sawah akibat kekeringan atau nelayan yang kehilangan mata pencaharian karena laut tercemar akan lebih mudah membangkitkan empati dibandingkan laporan statistik semata.

Ekologi sastra juga berkaitan erat dengan upaya menjaga kearifan lokal. Banyak tradisi lisan dan sastra daerah di Indonesia yang sebenarnya mengandung nilai-nilai ekologis, seperti mitos hutan larangan, sungai sakral, dan pantangan merusak alam. Sayangnya, nilai-nilai ini semakin terpinggirkan oleh modernisasi. Sastra modern yang mengangkat kembali kearifan lokal dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap homogenisasi budaya dan eksploitasi lingkungan.

Dengan demikian, ekologi sastra tidak hanya penting sebagai pendekatan akademik, tetapi juga sebagai bentuk praktik budaya yang berpihak pada keberlanjutan. Di tengah krisis lingkungan Indonesia saat ini, sastra memiliki potensi besar untuk membangun kesadaran kritis masyarakat. Sastra mengingatkan bahwa alam bukan milik manusia semata, melainkan ruang hidup bersama yang harus dijaga. Melalui kata-kata, sastra mengajukan pertanyaan etis: sampai kapan manusia akan terus mengeksploitasi alam tanpa memikirkan masa depan?

Pada akhirnya, ekologi sastra mengajarkan bahwa krisis lingkungan adalah cermin dari krisis nilai. Ketika alam rusak, yang runtuh bukan hanya ekosistem, tetapi juga kemanusiaan. Sastra, dengan segala keterbatasannya, tetap memiliki kekuatan untuk merawat harapan: harapan akan relasi manusia dan alam yang lebih adil, harmonis, dan berkelanjutan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image