Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image M. Bagas Widiyan Saputro

Respon Netizen terhadap Pelatih Baru Timnas: Antara Harapan dan Penghakiman Dini

Olahraga | 2026-01-09 16:24:45

Pengumuman pelatih baru Timnas Indonesia hampir selalu jadi bahan obrolan publik. di era media sosial, momen seperti ini bahkan langsung berubah jadi perdebatan yang sangat ramai di media sosial. Belum juga pelatih tersebut memimpin satu pertandingan, linimasa sudah dipenuhi berbagai komentar, dari pujian setinggi langit hingga kritik yang cukup pedas. Media sosial membuat setiap keputusan timnas terasa dekat, tapi sekaligus sangat cepat dihakimi.

Respon netizen terhadap pelatih baru timnas (John Herdman) tampak terbelah jelas. Di satu sisi, muncul gelombang optimisme. Banyak netizen menyambut kehadiran John Herdman sebagai harapan baru bagi sepak bola nasional. Komentar bernada positif seperti “King Herdman, I belive” atau “ini saatnya timnas berubah” ramai beredar. Antusiasme ini mencerminkan besarnya ekspektasi publik terhadap perbaikan prestasi timnas.

Namun jika kita melihat di sisi lain, keraguan juga langsung muncul. Sebagian netizen tentunya mempertanyakan rekam jejak John Herdman (Kepala Pelatih Baru Timnas Indonesia), mulai dari gaya bermain yang akan diterapkan, hingga kecocokannya dengan pemain lokal. Bahkan ada yang sudah lebih dulu menyimpulkan bahwa ia akan gagal. Komentar seperti “gaya bermain yang belum tentu cocok” atau “dulu sukses hanya karena dibantu pemain bintang” menunjukkan sikap skeptis yang muncul tanpa menunggu proses berjalan.

Dari gambar diatas kita dapat melihat beberapa bentuk komentar netizen di postingan yang membahas mengenai John Herdman.

Dengan melihat respons netizen yang terbelah terhadap penunjukan John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia dapat dijelaskan melalui Teori Social Judgment, yakni teori komunikasi yang menjelaskan bahwa publik menilai suatu pesan atau keputusan berdasarkan sikap awal yang telah mereka miliki sebelumnya. Bagi sebagian netizen yang sejak awal menyimpan harapan besar terhadap perubahan Timnas, kehadiran John Herdman langsung masuk dalam latitude of acceptance, sehingga memunculkan ungkapan optimisme dan kepercayaan bahkan sebelum ia membuktikan kinerjanya di lapangan. Pelatih baru kemudian dipersepsikan bukan sekadar figur teknis, melainkan simbol harapan akan kebangkitan sepak bola nasional. Sebaliknya, pengalaman kegagalan di masa lalu membuat sebagian publik berada pada posisi skeptis, sehingga keputusan ini lebih mudah ditempatkan dalam latitude of rejection dan memicu kritik. Situasi ini menunjukkan bagaimana media sosial mempercepat proses penilaian publik, sementara tingginya keterlibatan emosional terhadap Timnas membuat setiap keputusan cepat dimaknai secara subjektif dan ekstrem.

Pro dan kontra ini sejatinya sangat wajar terjadi dalam dunia sepak bola. Namun yang menjadi persoalan adalah kecepatan netizen dalam menghakimi serta menilai. Media sosial mendorong budaya reaksi instan, di mana opini dibentuk tanpa menunggu konteks dan proses. Pelatih baru belum bekerja, tim belum bermain, tetapi kesimpulan sudah lebih dulu diambil.

Situasi ini tentunya makin rumit karena banyak netizen yang belum bisa lupa begitu saja (move on) dari pelatih sebelumnya, Shin Tae-yong, yang digantikan oleh Patrick Kluivert. Dimana rasa kehilangan dan kekecewaan membuat sebagian publik sulit memberi kepercayaan penuh pada arah baru timnas. Emosi masa lalu ini akhirnya terbawa ke penilaian terhadap pelatih baru, meskipun konteks dan tantangannya berbeda.

Di sinilah media sosial berperan besar dalam membentuk cara pandang publik. Topik pelatih baru dengan cepat menjadi bahan utama perbincangan, diulang terus lewat komentar, unggahan, dan meme. Tanpa disadari, publik diarahkan untuk fokus pada isu tertentu, sementara pembahasan yang lebih tenang dan menunggu proses justru kalah ramai.

Akibatnya, diskusi tentang timnas jadi terasa hitam-putih. Pelatih baru dianggap sebagai penyelamat atau justru ancaman. Padahal, membangun tim nasional bukan soal satu orang saja. Banyak faktor lain yang ikut menentukan, mulai dari kualitas pemain, sistem kompetisi, sampai dukungan federasi. Sayangnya, hal-hal ini sering tenggelam di tengah debat emosional netizen.

Dalam hal ini sikap kritis tentu tetap diperlukan. Publik berhak bertanya dan memberikan penilaian mereka. Namun kritik yang sehat seharusnya memberi waktu dan ruang bagi proses. Ketika kritik berubah menjadi penghakiman dini, tekanan yang muncul justru bisa mengganggu kinerja pelatih dan tim. di sepak bola modern, tekanan tidak hanya datang dari stadion, tetapi juga dari layar ponsel yang setiap saat dipenuhi komentar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa netizen mudah terpolarisasi, terlalu berharap atau terlalu kecewa. Padahal, perubahan dalam sepak bola itu tidak instan. Butuh waktu, kesabaran, support dari supporter dan keberanian untuk mencoba. Tanpa itu, setiap pergantian pelatih hanya akan mengulang siklus yang sama, euforia di awal, kekecewaan yang juga tentunya muncul di tengah jalan.

Netizen sebenarnya memegang peran penting dalam ekosistem sepak bola nasional. Dukungan bisa menjadi energi positif bagi tim, sementara kritik yang masuk akal bisa menjadi pengingat agar tidak salah arah. Namun semua itu akan kehilangan makna jika disampaikan tanpa kedewasaan dan empati. Antusiasme dan kritik boleh terus hidup, tetapi penghakiman dini seharusnya ditahan. Sepak bola nasional tidak hanya membutuhkan strategi dan taktik, melainkan juga publik yang mampu mendukung dengan nalar, bukan sekadar emosi.

Penulis merupakan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image