Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dyahayu Oktavia Rahmadhani

Kemalasan tidak Bisa Dipukul Rata untuk Satu Generasi

Edukasi | 2026-01-09 15:35:04


Perdebatan antara generasi milenial dan generasi z sedang marak dibicarakan hampir seluruh media sosial terutama Tiktok, X, dan Instagram, namun perdebatan ini justu lebih condong ke generasi z, dikarenankan generasi milenial berkata jika generasi z itu pemalas dan lebih suka menganggur karena adanya peluang kerja namun yang tidak sesuai dengan passion mereka. Sehingga perdebatan antargenerasi kembali mengemuka di ruang publik digital Indonesia. Kali ini, sorotan tertuju pada relasi antara generasi milenial dan generasi Z.

Media sosial seperti TikTok, X, dan Instagram dipenuhi narasi yang mempertentangkan dua kelompok usia ini, dengan generasi Z kerap ditempatkan sebagai pihak yang disudutkan. Tuduhan yang paling sering muncul adalah bahwa generasi Z dianggap malas, enggan bekerja, dan terlalu selektif dalam memilih pekerjaan karena berpegang pada konsep “passion”.

Narasi ini berulang, masif, dan perlahan membentuk opini publik yang menyederhanakan persoalan kompleks menjadi stigma generasional semata.Labelisasi tersebut sejatinya problematik. Menggeneralisasi satu generasi sebagai pemalas bukan hanya tidak adil, tetapi juga mengaburkan konteks sosial, ekonomi, dan struktural yang melingkupi realitas generasi Z hari ini.

Dunia kerja yang dihadapi generasi Z sangat berbeda dengan situasi yang dialami generasi milenial satu dekade lalu. Ketidakstabilan ekonomi global, perubahan pola kerja akibat digitalisasi, serta meningkatnya biaya hidup menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Namun, dalam perdebatan di media sosial, kompleksitas ini kerap hilang dan digantikan oleh narasi moralistik yang menyalahkan individu.

Dalam perspektif komunikasi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori framing yang dikemukakan oleh Erving Goffman. Teori ini menjelaskan bahwa realitas sosial tidak pernah hadir secara netral, melainkan dibingkai melalui sudut pandang tertentu oleh aktor komunikasi, termasuk media dan pengguna media sosial. Dalam konteks perdebatan generasi, generasi Z kerap dibingkai sebagai kelompok yang manja, tidak tahan tekanan, dan terlalu idealis.

Bingkai ini diperkuat oleh potongan-potongan video viral, opini personal yang digeneralisasi, serta algoritma media sosial yang mendorong konten kontroversial untuk menjangkau audiens lebih luas.Framing semacam ini berimplikasi serius. Ketika satu generasi terus-menerus dipersepsikan negatif, publik cenderung menerima narasi tersebut sebagai kebenaran sosial.

Padahal, realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang jauh lebih beragam. Banyak generasi Z yang bekerja di sektor informal, menjadi pekerja lepas digital, membangun usaha rintisan kecil, atau memilih pekerjaan dengan fleksibilitas waktu karena keterbatasan kesempatan kerja formal yang layak. Pilihan-pilihan ini sering kali tidak dianggap sebagai “kerja” dalam definisi konvensional yang dianut generasi sebelumnya.

Di sisi lain, konsep “passion” yang sering dipermasalahkan juga perlu dibaca secara lebih proporsional. Keinginan generasi Z untuk bekerja sesuai minat tidak selalu berangkat dari sikap malas atau enggan berjuang. Dalam banyak kasus, hal tersebut justru merupakan respons terhadap pengalaman kolektif melihat generasi sebelumnya mengalami kelelahan kerja, stagnasi karier, dan tekanan mental akibat sistem kerja yang tidak manusiawi.

Generasi Z tumbuh dalam era keterbukaan informasi, di mana isu kesehatan mental, keseimbangan hidup, dan makna kerja menjadi diskursus arus utama. Wajar jika nilai-nilai ini memengaruhi cara mereka memandang pekerjaan.Sayangnya, perbedaan nilai ini jarang dikomunikasikan secara dialogis. Yang terjadi justru komunikasi satu arah yang sarat penghakiman.

Dalam kerangka teori spiral keheningan dari Elisabeth Noelle-Neumann, narasi dominan yang menyebut generasi Z malas dapat membuat suara-suara alternatif menjadi terpinggirkan. Generasi Z yang memiliki pengalaman kerja positif atau alasan rasional di balik pilihan kariernya enggan bersuara karena takut diserang atau dianggap tidak sesuai dengan opini mayoritas. Akibatnya, ruang publik digital menjadi tidak seimbang dan memperkuat stigma yang sudah ada.

Lebih jauh, perdebatan ini juga mencerminkan kegagalan komunikasi antargenerasi. Alih-alih membangun empati dan pemahaman lintas pengalaman hidup, media sosial justru menjadi arena kompetisi narasi. Generasi milenial, yang dahulu juga pernah dicap sebagai generasi “lemah” dan “tidak loyal”, kini tanpa sadar mereproduksi pola komunikasi yang sama terhadap generasi setelahnya.

Siklus ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada karakter generasi, melainkan pada cara masyarakat memaknai perubahan sosial.Jika ditarik lebih luas, narasi kemalasan generasi Z juga berpotensi mengalihkan perhatian dari tanggung jawab struktural negara dan dunia usaha. Tingginya angka pengangguran usia muda, ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan industri, serta minimnya jaminan kerja yang layak sering kali luput dari perbincangan.

Menyalahkan generasi Z menjadi jalan pintas yang mudah, tetapi tidak menyentuh akar persoalan. Dalam konteks ini, framing media sosial berfungsi bukan hanya sebagai pembentuk opini, tetapi juga sebagai alat depolitisasi masalah ketenagakerjaan.Oleh karena itu, penting bagi publik untuk lebih kritis dalam menerima dan menyebarkan narasi antargenerasi.

Kemalasan tidak bisa dipukul rata untuk satu generasi, sebagaimana etos kerja tidak bisa diukur dengan standar tunggal lintas zaman. Dibutuhkan komunikasi yang lebih reflektif, yang membuka ruang dialog, bukan sekadar pertukaran tudingan. Media, tokoh publik, dan pengguna media sosial memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan wacana yang adil dan kontekstual.Pada akhirnya, perdebatan antara generasi milenial dan generasi Z seharusnya menjadi momentum untuk saling belajar, bukan saling menyalahkan.

Setiap generasi lahir dan tumbuh dalam tantangan zamannya masing-masing. Memahami hal tersebut adalah langkah awal untuk membangun solidaritas sosial, alih-alih memperlebar jurang antargenerasi yang justru merugikan semua pihak. Jika komunikasi publik terus dibangun di atas stigma dan simplifikasi, maka yang lahir bukan solusi, melainkan konflik yang berulang dalam wajah yang berbeda.

Dibuat oleh: Dyah Ayu Oktavia Rahmadhani

Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi

Universitas Dian Nuswantoro

dyahayuoktavia31@gmail.com

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image