Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jasmine Anindita

Sultan Fatih: Inspirasi atau Sekedar Kagum?

Sejarah | 2026-01-09 14:31:40


Oleh: Jasmine Anindita(Mahasiswa Universitas Pamulang)
Penaklukannya bukan hanya soal kemenangan, tapi strategi peradabanKonstantinopel jatuh bukan karena kebetulan, melainkan karena persiapan matang yang dibangun bertahun-tahun. Al-Fatih mewarisi mimpi besar para sultan sebelumnya, tetapi ia tidak hanya mewarisi ambisi—ia mewarisi cetak biru strategi.Ia menggambarkan kekuatan militer, membangun teknologi perang paling maju di zamannya (meriam raksasa Urban), memperkuat armada laut, hingga membuat manuver cerdas dengan memindahkan 70 kapal melalui daratan demi mengecoh pertahanan Bizantium.Ini menegaskan bahwa kemenangan Al-Fatih bukan hanya penaklukan kota, tetapi penaklukan masalah logistik, inovasi teknologi, dan kecerdasan strategi.

Usia muda bukan simbol, tapi modal eksekusiSultan Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun. Usia muda sering menjadi bagian paling viral dari kisahnya, tetapi yang sering terlewatkan adalah fakta bahwa usia muda bukanlah label, melainkan modal eksekusi.Ia belajar banyak disiplin ilmu: bahasa, matematika, astronomi, geografi, hingga fiqh kepemimpinan. Ia mempersiapkan dirinya sebagai pemimpin yang menguasai medan sebelum menguasai kemenangan.Sayangnya, generasi muda hari ini sering menyanjung usia 21-nya, tetapi jarang meniru jam belajar dan roadmap keilmuannya.

Kagum yang tidak diiringi cetak birunya hanya jadi romantisasi

Dalam banyak diskusi sejarah Islam, narasi Al-Fatih sering berhenti pada glorifikasi: pemimpin muda, penakluk besar, janji Rasulullah SAW terpenuhi. Semuanya benar, tetapi jika yang ditonjolkan hanya kekagumannya, bukan peta strateginya, maka sejarah berubah menjadi konsumsi emosional, bukan modal kebangkitan.Ini menjadi tantangan besar umat hari ini: sejarah Islam lebih sering dijadikan bahan kebanggaan, bukan bahan desain masa depan.

Relevansi Al-Fatih di era modern: membangun peta sebelum membangun gebrakan

Jika Al-Fatih hidup di era kini, ia mungkin tidak akan memikirkan “apakah aksinya viral”, tetapi “apakah aksinya punya peta, teknologi, dan sistem pendukung”.Maka generasi muda—khususnya pelajar Muslimah yang sedang membangun kapasitas akademik seperti saya—harus mulai bertanya ulang:Sudahkah kita membangun peta belajar sebelum ingin mencapai pencapaian?Sudahkah kita menyiapkan inovasi, bukan hanya ambisi?Sudahkah kita menguasai medan, bukan hanya narasinya?Karena Konstantinopel modern bukan lagi benteng kota, melainkan benteng pertahanan ilmu, sistem, dan inovasi.

Peran institusi pendidikan dan komunitas sejarah Islam

Agar mencontoh Al-Fatih tidak berhenti menjadi suatu hal yang menakjubkan, perlu ada realisasi ruang:Kampus perlu mendorong strategi kajian sejarah Islam berbasis roadmap, bukan sekedar seremonial penaklukanKomunitas sejarah dan dakwah harus jadi ruang transfer cetak biru kepemimpinan IslamMahasiswa perlu diajak menyusun “Konstantinopel versi dirinya”: target keilmuan, kontribusi sosial, dan strategi eksekusinyaKarena sejarah besar selalu dimulai dari peta kecil yang jelas.

Indonesia dan rantai peradaban yang harus disambung

Bangsa ini pernah memiliki banyak ulama, kerajaan Islam, dan tokoh perlawanan yang bergerak dengan strategi peradaban, bukan hanya militansi perang. Namun ketika generasi muda kehilangan cetak biru sejarahnya sendiri, rantai peradaban terputus bukan karena kalah, tetapi karena lupa meneladani.Maka, meneladani Al-Fatih berarti menyambung strategi rantai, bukan sekedar cerita penaklukannya.

Kesimpulan : sejarah Al-Fatih adalah kompas, bukan pajangan narasi

Sultan Muhammad Al-Fatih tidak butuh dikagumi sebagai pemimpin muda—ia butuh diteladani sebagai pemimpin strategi.Jika kita hanya berhenti pada rasa takjub, maka Al-Fatih akan tetap besar di masa lalu, namun tidak bertransformasi menjadi pemantik kebangkitan masa depan.Namun jika mencontohkan strateginya dijadikan kompas, maka sejarah tidak lagi menjadi nostalgia, melainkan peta menuju Konstantinopel baru yang lebih luas: peradaban ilmu, inovasi, dan kemaslahatan umat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image