Literasi Digital Generasi Muda Masih Setengah Matang
Teknologi | 2026-01-09 14:15:28Oleh: Jasmine Anindita(Mahasiswa Universitas Pamulang)
Mahir scrolling, belum tentu mahir memilah Banyak anak muda menghabiskan waktu di ruang digital untuk belajar, berdakwah, dan berkarya. Saya sendiri merasakan manfaatnya—ruang digital menjadi media dakwah dan pengembangan diri yang efektif sejak masa sekolah. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan, kemampuan memilah informasi masih lemah.Hoaks dipercaya lebih cepat daripada data yang dipublikasikan. Tren diikuti sebelum dampaknya dipahami. Algoritma kompas menjadi opini, bukan logika dan analisis pribadi.
Digital tanpa literasi = bising arah tanpa masalah bukan pada penggunaan teknologi, tetapi pada kedangkalan pemahaman. Literasi digital yang belum matang memberikan beberapa dampak: Misinformasi menyebar lebih cepat dari klarifikasiDiskusi publik berubah menjadi ajang menang-menangan, bukan menyebarkan gagasanValidasi diri bergantung pada engagement, bukan kualitas karya Etika digital tergerus oleh budaya impulsif dan instan Ini menciptakan ironi baru: ruang digital semakin luas, tetapi kualitas penggunanya belum seimbang.Yang kurang bukan aksesnya, tetapi pendidikannyaLiterasi digital tidak cukup terbentuk dari kebiasaan online, melainkan dari pendampingan dan pendidikan yang terarah. Sayangnya, kurikulum literasi digital di banyak institusi pendidikan masih normatif, teoritis, dan minim praktik. Mahasiswa dan pelajar perlu belajar tentang keamanan data, etika bermedia, algoritma logika, hingga dampak sosial teknologi—bukan hanya cara menggunakan aplikasinya, tetapi cara bertanggung jawab di dalamnya . Pembentukan etika dan tanggung jawab digitalKomunitas muda: didukung sebagai mitra edukasi, bukan sekadar teknologi konsumenKarena literasi digital yang matang bukan lahir dari teknologi, melainkan dari manusia yang dididik untuk mengendalikannya.
Kesimpulan : digital harus diimbangi dengan kritis Generasi muda tidak gagal dalam mengakses teknologi—mereka belum sepenuhnya mendapatkan fasilitas untuk memahami teknologi. Jika literasi digital dibiarkan setengah matang, maka transformasi digital Indonesia hanya akan melahirkan generasi yang cepat terhubung, tetapi lambat berpikir. Padahal, masa depan digital bukan milik mereka yang paling sering online, tetapi milik mereka yang paham, kritis, dan bertanggung jawab di dalamnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
