Ketika Media Sosial Lebih Cepat dari Nalar Publik
Eduaksi | 2026-01-09 13:53:35Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat Indonesia hidup dalam situasi yang serba cepat. Berita datang silih berganti, notifikasi terus berbunyi, dan linimasa tidak pernah benar-benar sepi. Namun di balik kecepatan itu, muncul persoalan besar: tidak semua informasi yang beredar layak dipercaya.
Banyak orang hari ini lebih mengenal isu dari potongan video, judul sensasional, atau pesan berantai dibandingkan dari sumber yang jelas. Akibatnya, opini publik sering terbentuk bukan oleh fakta, melainkan oleh emosi. Kita mudah marah, cepat curiga, dan gampang tersulut, hanya karena satu unggahan yang belum tentu benar.
Fenomena ini bukan sekadar soal hoaks, tetapi soal cara masyarakat memperlakukan informasi. Di era digital, setiap orang bisa menjadi penyebar berita, tetapi tidak semua siap menjadi penjaga kebenaran. Tombol “bagikan” sering ditekan tanpa sempat berpikir: apakah ini bermanfaat, apakah ini akurat, atau justru merugikan orang lain?
Selama ini, solusi yang sering muncul adalah pemblokiran akun atau penindakan hukum terhadap penyebar kabar bohong. Langkah ini memang penting, tetapi belum menyentuh akar masalah. Ibarat memadamkan api tanpa menghilangkan sumber percikannya. Selama masyarakat belum dibekali daya kritis, masalah serupa akan terus berulang dengan wajah yang berbeda.
Yang lebih dibutuhkan adalah penguatan budaya berpikir. Literasi informasi seharusnya tidak berhenti pada kemampuan memakai gawai, tetapi pada kemampuan menilai isi. Masyarakat perlu dibiasakan membedakan mana fakta dan mana opini, mana kritik dan mana provokasi, mana kepedulian dan mana kepentingan tersembunyi.
Sekolah memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan ini. Diskusi tentang berita aktual, latihan mengecek sumber, hingga membiasakan siswa bertanya sebelum percaya dapat menjadi fondasi kuat. Namun peran keluarga juga tidak kalah besar. Keteladanan orang tua yang tidak mudah menyebarkan kabar belum jelas kebenarannya adalah pendidikan paling nyata bagi anak-anak.
Media massa pun memegang peran strategis. Di tengah derasnya arus informasi instan, media profesional harus tetap menjadi jangkar kepercayaan. Kecepatan boleh dikejar, tetapi ketepatan harus dijaga. Ketika media konsisten menghadirkan informasi yang akurat dan berimbang, masyarakat memiliki rujukan yang lebih aman di tengah kebisingan digital.
Di sisi lain, platform media sosial juga perlu mengambil tanggung jawab lebih besar. Selama algoritma lebih mengutamakan sensasi daripada kebenaran, maka konten emosional akan selalu mengalahkan konten rasional. Sudah saatnya kepentingan bisnis diseimbangkan dengan tanggung jawab sosial.
Namun, benteng terakhir tetap ada pada diri setiap individu. Tidak ada sistem yang sepenuhnya bisa menggantikan kesadaran pribadi. Ketika masyarakat mau berhenti sejenak sebelum membagikan informasi, ruang publik perlahan menjadi lebih sehat.
Indonesia tidak hanya membutuhkan masyarakat yang melek teknologi, tetapi juga melek nalar. Masyarakat yang tidak mudah terseret arus, tidak cepat menghakimi, dan tidak tergesa menyimpulkan. Di tengah dunia yang semakin ramai oleh konten, kemampuan berpikir jernih justru menjadi bentuk kecerdasan baru.
Karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa cepat informasi menyebar, tetapi oleh seberapa bijak kita memperlakukannya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
