Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image I Made Lucky

Jalan Kesalahan

Ekspresi | 2026-01-07 22:07:06
Ilustrasi Jalan Kesalahan — Gemini

Di awal tahun 2026 ini, setelah hari demi hari saya lalui dan perdebatan panjang dalam benak yang terjadi selama melakukan refleksi di tahun lalu, saya dipertemukan dengan sebuah resolusi.
Resolusi yang sederhana, namun cukup membuat diri ini mampu beradaptasi dengan segala warna dunia, berbagai interaksi manusia, serta hiruk pikuk masalah. Resolusi yang dimaksud adalah—meningkatkan kemampuan dalam berpikir. Ya, sederhana. Namun mampu menopang kaki kecil ini dalam menjalani kehidupan yang terus bergerak melampaui waktu.


Dalam hal ini—secara metodologis dengan orientasi pada peningkatan kemampuan berpikir—dibutuhkan suatu jalan. Jalan yang dihindari oleh banyak orang. Jalan yang terjal dan berliku. Jalan yang sunyi, karena hanya orang-orang tertentu yang memilihnya. Jalan yang akan membuat kita tersingkirkan untuk sementara waktu. Dan jalan yang menjadikan kita berbeda pada kesempatan yang baru. Jalan tersebut adalah—JALAN KESALAHAN.


Terdengar nyeleneh? Mungkin karena kita belum memahami substansinya. Padahal, jalan kesalahan justru memiliki peran penting dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir.


Mayoritas masyarakat Indonesia lebih takut “membuat kesalahan” daripada “tidak membuat kesalahan sama sekali”. Perhatikan teman-teman, keduanya tampak serupa, tetapi sejatinya merupakan dua hal yang berbeda. Perbedaan kecil ini sering diabaikan, padahal ia menjadi faktor penting dalam esensi manusia untuk berkembang.


Mungkin banyak dari kita yang takut membuat kesalahan, karena kecaman lingkungan. Mereka terlalu takut untuk menjadi berbeda. Terlalu takut untuk dikucilkan. Terlalu takut untuk direndahkan. Terlalu takut tertinggal dari bayangan kesempurnaan. Semua ketakutan itu menghasilkan sebuah doktrin: bahwa segala sesuatu harus sempurna dan penuh kebenaran.


Padahal, tidak ada kesempurnaan dan kebenaran yang absolut di kehidupan ini. Kesempurnaan lahir dari kegagalan. Kebenaran lahir dari kesalahan. Bahkan, kesalahan dan kegagalan sering muncul justru karena konsep kesempurnaan dan kebenaran yang terdapat kekeliruan atau berada di luar batas penalaran.


Seorang bijak pernah berkata bahwa “kebenaran adalah sekadar batas penalaran kita, batas sementara, batas yang nyatanya bergerak terus memperluas diri juga. Bagaikan langit batas lautan, yang senantiasa mundur bergerak menjauh saat kita mulai berlayar.”


Karena itu, tidak ada kebenaran yang benar-benar terbebaskan dari kesalahan. Karena, kebenaran hanya batas dari penalaran kita, yang mungkin saja menurut kita sudah benar, belum tentu menurut orang lain juga benar.


Maka, bukan kesempurnaan yang mendewasakan kita, melainkan keberanian untuk belajar dari kesalahan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image