Media Sosial dan Keterampilan Generasi Z: Antara Peluang dan Tantangan
Teknologi | 2026-01-07 21:18:50
BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Rabu(07/01/2026) – Artikel berjudul “Media Sosial dan KeterampilanGenerasi Z: Antara Peluang dan Tantangan” ini ditulis oleh Cahya Putri Awaliya yang sehari-harinya sebagai mahasiswaUniversitas Pamulang (UNPAM), Serang, Provinsi Banten.
Pernyataan dari Onno W. Purbo. pakar it tentang media sosialterhadap perkembangan gen z, Saya menggunakan media sosialsebagai [ruang] kelas besar dan gratis. Proses pemberdayaanyang efektif dan efisien tidak mungkin dilakukan denganmekanisme lama... Saat ini, misalnya, ribuan penonton dapatdengan mudah melihat video saya di YouTube
Pernyataan ini menunjukkan bagaimana Onno memandangmedia sosial sebagai sarana edukasi dan pemberdayaan, termasuk untuk generasi muda yang aktif belajar lewat internet dan platform digital.
Pertama, media sosial terhadap perkembangan gen z, mengenaifenomena media sosial yang sangat sering di akses oleh anakmuda terutama generasi z layak menjadi perhatian serius bagiseluruh elemen bangsa. Ini bukan sekadar soal media sosial dan kebiasaan dari generaswi z, melainkan sebuah keputusanstrategis yang akan menentukan arah masa depan generasi z karena ada peluang dan tantangan di dalamnya,Dalam konteksini, kita harus berpikir jernih dan mengedepankan kepentingannasional yang lebih besar.
Kedua, kritik Onno W Purbo dalam konteks ini yaitu bahwainternet tidak hanya mengajarkan hal positif, tetapi juga keburukan seperti pornografi, terorisme, dan judi online. Iamenekankan bahwa teknologi semata tidak cukup untukmemblokir konten negatif karena keterbatasan teknologi itusendiri, sehingga pendekatan yang lebih luas (termasuk karakterdan perilaku pengguna) sangat penting
Menurut pandangan yang dikaitkan dengan pesan Onno, teknologi-teknologi canggih seperti AI seharusnya menjadi alatyang dikendalikan manusia, bukan sebaliknya. Ketergantunganpada AI tanpa pemahaman yang kuat bisa membuat manusia“dikendalikan” oleh teknologi itu sendiri
Ketiga, Pemerintah Indonesia menyadari bahwa Generasi Z merupakan “digital natives” yang hidup dan berkembang di era internet serta media sosial. Karena itu, pemerintah melaluiberbagai kebijakan dan program menekankan pentingnyapenguasaan teknologi digital bagi Gen Z agar bisa bersaing di dunia kerja dan berkontribusi pada pembangunan bangsa. Inisiatif ini mencakup pelatihan, pendidikan teknologi, dan kampanye literasi digital yang dirancang untuk meningkatkanpemahaman dan keterampilan digital generasi muda.
Terakhir, Media sosial dipandang sebagai sarana yang sangat kuat untuk pengembangan keterampilan dan pengetahuanGenerasi Z, namun juga memiliki risiko besar jika tidakdigunakan dengan bijak.
Onno W. Purbo menekankan bahwa media sosial seharusnyadimanfaatkan sebagai media pembelajaran, pemberdayaan, dan berbagi ilmu, bukan sekadar hiburan. Ia juga mengingatkanpentingnya kesadaran etika, perlindungan data pribadi, sertakemampuan berpikir kritis, karena teknologi saja tidak cukupuntuk mengatasi dampak negatif media sosial.
Sementara itu, pemerintah melihat media sosial sebagai peluangstrategis untuk meningkatkan literasi digital, keterampilan kerja, dan daya saing Gen Z di era ekonomi digital. Namun, pemerintah juga menyoroti tantangan serius, seperti penyebaranhoaks, konten negatif, dan rendahnya literasi digital di sebagiankalangan, sehingga diperlukan regulasi, edukasi, dan perlindungan pengguna, khususnya generasi muda.
Kritis tetapi Mendukung : Media sosial sering dikritik sebagaipenyebab menurunnya kualitas keterampilan Generasi Z, terutama dalam hal konsentrasi, komunikasi tatap muka, dan kedisiplinan. Namun, kritik tersebut perlu dilihat secara lebihseimbang dan konstruktif. Alih-alih hanya menyoroti dampaknegatif, media sosial justru membuka peluang besar bagiGenerasi Z untuk mengembangkan keterampilan yang relevandengan tuntutan zaman.
Generasi Z terbukti memiliki kemampuan adaptasi teknologiyang tinggi. Melalui media sosial, mereka belajar keterampilandigital seperti pembuatan konten, desain visual, pemasarandigital, analisis tren, hingga personal branding keterampilanyang sangat dibutuhkan di era ekonomi kreatif dan industridigital. Banyak anak muda yang bahkan mampu mengubahaktivitas bermedia sosial menjadi peluang ekonomi, wirausaha, dan karier professional.
Pemerintah harus mengawal aktivitas media sosial yang Sehat: Pemerintah perlu memperluas program literasi digital yang tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga pada etika bermedia, berpikir kritis, keamanan data pribadi, dan pencegahan hoaks. Program ini sebaiknya menyasar pelajar, orang tua, pendidik, hingga masyarakat umum secaraberkelanjutan.
Mengedepankan Kepentingan Nasional: Generasi Z perlumembiasakan diri untuk memverifikasi informasi sebelummembagikannya. Sikap kritis terhadap hoaks, propaganda, dan konten provokatif merupakan bentuk nyata kontribusi dalammenjaga stabilitas sosial dan persatuan bangsa.
Mendukung Produk dan Inovasi Lokal . Denganmempromosikan UMKM, produk dalam negeri, serta karya anakbangsa melalui media sosial, Generasi Z turut berkontribusipada penguatan ekonomi nasional dan kemandirian bangsa.[Cahya Putri Awaliya]
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
