Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Siti Zulia Aprilia M

Rumah Makin Mahal dan Lahan Makin Sempit: Apa Kabar Masa Depan Milenial?

Gaya Hidup | 2026-01-07 19:27:40
Dihasilkan oleh Ai

Bagi milenial dan Gen Z, obrolan soal "kapan beli rumah" sekarang rasanya lebih horor daripada nonton film hantu. Bukan apa-apa, harga tanah dan rumah saat ini naiknya bukan main, sementara saldo di rekening rasanya jalan di tempat. Fenomena ini bukan cuma soal apes, tapi ada masalah ekonomi kependudukan yang nyata di baliknya.

1. Gaji "Siput" vs Harga Rumah "Roket" Masalah utamanya sederhana tapi menyakitkan: kenaikan gaji tahunan kita seringkali kalah jauh dibanding kenaikan harga properti. Data menunjukkan harga rumah bisa naik 10% per tahun, sedangkan kenaikan gaji paling mentok di angka 5%. Kalau terus begini, menabung secara konvensional rasanya seperti mengejar kereta yang sudah berangkat duluan.

2. Berebut Lahan di Kota Besar Penduduk Indonesia terus membanjiri kota besar untuk mencari kerja. Dampaknya? Lahan jadi barang langka dan mewah. Karena semua orang ingin tinggal dekat kantor, harga tanah di pusat kota jadi tak masuk akal. Akhirnya, banyak milenial terpaksa melirik pinggiran kota yang jarak tempuhnya bikin tua di jalan. 3. Dilema Gaya Hidup vs Cicilan Gaya hidup masa kini juga jadi tantangan. Kopi susu harian, langganan streaming, hingga hobi traveling seringkali dianggap "penghambat" beli rumah. Padahal, meski kita berhenti jajan kopi sekalipun, harga rumah tetap saja selangit. Ini adalah masalah struktural di mana lahan makin sempit sementara jumlah penduduk yang butuh rumah terus bertambah.

4. Solusinya Apa? Karena beli rumah tapak (dengan tanah) makin sulit, tren hunian mulai bergeser. Sekarang pilihannya adalah: - Hunian Vertikal: Hidup di apartemen atau rusunawa yang lebih efisien lahan. - Rumah Mikro: Desain rumah fungsional di lahan yang sangat terbatas. - Sewa Jangka Panjang: Mulai menerima kenyataan bahwa "ngontrak" bukan berarti gagal, asalkan keuangan tetap sehat.
Masa depan hunian milenial memang penuh tantangan. Perlu ada campur tangan pemerintah dalam mengatur harga lahan dan memperbanyak transportasi publik agar rumah di pinggir kota tidak terasa seperti di luar planet.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image