Tradisi Sosiokultural dalam Teori Komunikasi
Sejarah | 2026-01-07 16:38:28Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari proses komunikasi. Melalui komunikasi, kita saling berbagi makna, membangun hubungan, dan memahami dunia sosial di sekitar kita. Salah satu pendekatan penting dalam teori komunikasi yang membahas hal ini adalah tradisi sosiokultural. Tradisi ini menekankan bahwa komunikasi bukan sekadar penyampaian pesan, melainkan proses sosial yang membentuk realitas bersama.
Tradisi sosiokultural memandang interaksi antarmanusia sebagai pusat dari proses komunikasi. Fokus utamanya bukan pada karakter individu atau apa yang ada di dalam pikiran seseorang, melainkan pada bagaimana manusia berinteraksi, bernegosiasi, dan menciptakan makna secara bersama-sama. Melalui interaksi inilah nilai budaya, norma sosial, peran, serta aturan dalam masyarakat dijalankan dan dipertahankan.
Menurut Littlejohn, tradisi sosiokultural memiliki beragam sudut pandang, seperti interaksi simbolis, konstruksionisme sosial, sosiolinguistik, filosofi bahasa, etnografi, dan etnometodologi. Masing-masing perspektif ini membantu kita memahami bagaimana makna muncul dan berkembang dalam kehidupan sosial. Misalnya, interaksi simbolis menekankan penggunaan simbol dalam hubungan sosial, sementara sosiolinguistik melihat bagaimana bahasa berkaitan erat dengan budaya dan konteks sosial.
Salah satu gagasan utama dalam tradisi sosiokultural adalah bahwa realitas sosial tidak bersifat objektif, melainkan dibentuk melalui proses interaksi. Apa yang dianggap benar, wajar, atau penting dalam suatu masyarakat merupakan hasil kesepakatan sosial yang terus diperbarui melalui komunikasi. Oleh karena itu, konteks menjadi faktor yang sangat penting. Sebuah simbol, kata, atau tindakan bisa memiliki makna yang berbeda tergantung pada situasi, budaya, dan hubungan antarindividu yang terlibat.
Tradisi ini juga menaruh perhatian besar pada pola-pola interaksi yang terjadi dalam kehidupan nyata. Peneliti sosiokultural lebih tertarik mengamati bagaimana komunikasi berlangsung secara aktual dibandingkan sekadar menganalisis pikiran individu. Pendekatan ini banyak digunakan untuk memahami komunikasi dalam kelompok, organisasi, komunitas, hingga budaya yang lebih luas.
Dalam kaitannya dengan konsep diri, tradisi sosiokultural menjelaskan bahwa identitas seseorang tidak terbentuk secara terpisah dari lingkungan sosialnya. Pemahaman individu tentang dirinya sendiri berkembang melalui interaksi dengan orang lain. Cara seseorang memandang dirinya dapat berubah sesuai dengan situasi dan pengalaman sosial yang dihadapi. Dengan kata lain, diri manusia merupakan hasil dari proses sosial yang dinamis.
Salah satu metode penting dalam tradisi ini adalah etnografi. Etnografi merupakan pendekatan penelitian kualitatif yang berusaha memahami pola nilai, perilaku, keyakinan, dan bahasa dalam suatu kelompok budaya. Peneliti biasanya melakukan observasi mendalam terhadap perilaku manusia dalam situasi nyata. Dalam konteks komunikasi, etnografi dan etnometodologi membantu menjelaskan bagaimana individu mengelola percakapan, menggunakan bahasa, serta menafsirkan perilaku verbal dan nonverbal dalam interaksi sosial.
Secara keseluruhan, tradisi sosiokultural memberikan pemahaman yang komprehensif tentang komunikasi sebagai proses sosial dan budaya. Tradisi ini menegaskan bahwa makna, norma, dan identitas tidak muncul begitu saja, melainkan dibangun melalui interaksi yang terus berlangsung. Dengan memahami tradisi sosiokultural, kita dapat melihat komunikasi tidak hanya sebagai alat penyampaian pesan, tetapi sebagai dasar pembentukan realitas sosial dalam kehidupan manusia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
