Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Marketing DT Peduli 2

Nyawa Hampir Melayang, Ketika Pulang Semua Hilang

Kisah | 2026-01-07 13:40:40
Nurhayati, Salah satu warga di Cot Ara, Kuta Blang yang terdampak banjir bandang (Sumber : DT Peduli)

DTPEDULI.ORG | BIREUEN - Bencana banjir yang melanda Sumatera datang sebagai luka, menyisakan kehilangan yang tak bisa segera ditutup waktu. Di Aceh, salah satu wilayah yang paling terdampak adalah Kabupaten Bireuen, daerah yang seharusnya tenang, kini berubah menjadi hamparan lumpur, puing, dan kenangan getir yang tidak rela diulang.

Hampir seluruh kecamatan di Bireuen terdampak. Air bah yang datang sejak akhir November itu merangsek dari hulu hingga ke pesisir, membawa lumpur tebal, batang pohon, dan reruntuhan rumah. Jalan-jalan yang biasanya ramai kini dipenuhi lumpur kecokelatan setebal betis orang dewasa.

Di beberapa titik, badan jalan nyaris tak terlihat, berubah menjadi parit panjang. Beberapa jembatan penghubung antar-gampong pun rusak, membuat sejumlah desa terputus aksesnya selama berhari-hari.

Kondisi Wilayah Cot Ara, Kec. Kuta Blang, Kab. Bireuen, Aceh pasca terjadi Banjir Bandang (Sumber : DT Peduli)

Rumah-rumah warga tenggelam dalam lumpur yang seolah tak habis-habis. Sebagian warga menggambarkannya seperti "ditimbun tanah hidup-hidup". Ada rumah yang roboh karena fondasinya tergerus, ada yang hanyut seluruhnya, menyisakan hanya atap atau dinding patah.

Sawah yang menjadi tumpuan hidup petani berubah menjadi kolam besar penuh lumpur pekat. Padi yang tinggal menunggu panen musnah dalam sekejap. Banyak ternak hilang terbawa arus-sapi, kambing, bahkan unggas yang biasanya lincah menghindari ancaman, kali ini tak bisa lari dari derasnya air.

Kondisi Wilayah Cot Ara, Kec. Kuta Blang, Kab. Bireuen, Aceh pasca terjadi Banjir Bandang (Sumber : DT Peduli)

Menurut data BNPB per Rabu (10/12/2025), korban jiwa akibat banjir di Bireuen mencapai 29 orang. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan potret kepedihan keluarga yang kehilangan ayah, ibu, anak, atau saudara tanpa sempat mengucap salam terakhir. Sebagian besar korban terseret arus deras saat berusaha menyelamatkan diri atau menolong orang lain.

Kisah Nurhayati Terseret Banjir

Di tengah semua itu, ada sosok perempuan berusia sekitar 60-an yang duduk di halaman rumah yang kini berubah menjadi posko pengungsian. Dialah Nurhayati, warga Cot Ara, Kecamatan Kuta Blang. Rumahnya tenggelam lumpur hingga mustahil dibersihkan lagi. Ia tinggal berdua dengan saudaranya. Perempuan yang sudah menjanda ini, tak punya banyak tempat lain untuk dituju.

"Kios-kios yang dekat simpang itu semuanya hanyut dibawa air. Sawah-sawah juga gak bisa dipakai lagi," kenangnya dengan suara yang pecah di ujung.

Ia duduk menatap hamparan lumpur yang dulu adalah sawah hijau yang menghidupkan banyak keluarga. Sekarang, hamparan itu tampak seperti danau keruh. Rumah-rumah di sekitarnya seperti bangkai yang ditinggalkan badai.

Nurhayati, Salah satu warga di Cot Ara, Kuta Blang yang terdampak banjir bandang (Sumber : DT Peduli)

Nurhayati yang sehari-hari hidup sederhana sebagai ibu rumah tangga, mengulang-ulang pemandangan yang menghancurkan itu dalam pikirannya. Ia masih seperti tak percaya bahwa sebagian hidupnya hanyut dalam hitungan jam. Sesekali, ia menghela napas pelan seakan mencoba menerima kenyataan bahwa sesudah hari itu, hidupnya tak akan sama lagi.

Desa Cot Ara memang salah satu titik yang mengalami kerusakan paling parah. Tiga puluh rumah hilang terbawa arus. Beberapa bahkan tak ditemukan lagi jejaknya. Arus yang begitu kuat membuat warga tak sempat menyelamatkan barang apa pun selain pakaian yang sedang melekat di tubuh. Dan di antara mereka, Nurhayati mengalami detik-detik paling mengerikan, saat tubuhnya yang sudah renta terseret aliran banjir.

Nyawanya hampir melayang. Dalam kepanikan, ia berusaha menggapai apa pun yang bisa menjadi pegangan. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah pohon mangga yang kokoh berdiri di halaman rumah tetangganya. Dengan sisa tenaga ia meraih batangnya, memeluk sekuat mungkin, dan bertahan hingga warga datang menolong.

"(Saat banjir) airnya tinggi terus menerus sehingga rumah tenggelam. Saya hanyut terbawa air. Sehingga selamat berkat ada pohon mangga itu," ujarnya sambil mengusap wajah dengan kerudung merahnya, kerudung yang kini seperti satu-satunya benda yang masih menemaninya. Sudah tiga hari dia tinggal di pengungsian dan baru Jumat (5/12/2025) pulang menengok rumahnya.

Posko pengungsian sederhana untuk penyintas banjir di Cot Ara, Kuta Blang, Bireuen (Sumber : DT Peduli)

Ketika ditanya apa kebutuhan paling mendesak untuk hidupnya ke depan, Nurhayati terdiam lama. Matanya memerah, kemudian berkaca-kaca. Air matanya tumpah sebelum ia sempat bicara apa pun. Ia hanya mengusapnya dengan kerudung lusuh. Tanpa kata, tanpa keluhan.

Diamnya bukan berarti ia tidak tahu apa yang ia butuhkan. Diamnya adalah bentuk kelelahan yang tak bisa dijelaskan. Bagaimana seseorang bisa menjelaskan kebutuhan ketika yang hilang adalah rumah, tempat tinggal, rasa aman, bahkan bagian dari dirinya sendiri?

Di halaman yang kini menjadi posko pengungsian, ia menyaksikan warga lain mondar-mandir, relawan memasak makanan hangat, anak-anak berlarian tanpa alas kaki, dan suara tawa kecil yang mencoba menyembunyikan rasa takut. Halaman rumahnya menjadi tempat berlindung bagi banyak orang. DT Peduli datang menyalurkan bentuan berupa sembako, hygiene kit, popok bayi, dan air mineral, memberi harapan bahwa mereka tidak sendiri dan masih banyak yang peduli.

DT Peduli turun langsung berikan bantuan untuk posko-posko yang ada di daerah Bireuen, termasuk Kec. Kuta Blang (Sumber : DT Peduli)

Bireuen kini mulai memasuki fase pemulihan. Bantuan mulai berdatangan, posko-posko dibangun, dan warga perlahan membereskan puing. Namun jalan menuju pulih masih panjang. Lumpur perlu dibersihkan, rumah perlu dibangun kembali, mata pencaharian harus dipikirkan ulang.

Bagi seseorang seperti Nurhayati, pulih bukan hanya membangun kembali rumah fisik yang hilang. Melainkan membangun kembali keyakinan bahwa hidupnya masih punya arah, meski untuk saat ini ia masih duduk memandang lumpur, sambil menggenggam kerudung merahnya erat-erat, seolah itu satu-satunya hal yang tak dapat direbut banjir darinya.

(Agus ID)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image