Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ismail Suardi Wekke

Memanggul Kitab, Menggenggam Cloud: Wajah Baru Pesantren Berbasis Digital di Sulawesi Selatan

Agama | 2026-01-03 21:18:41
Pesantren Maccopa (Photo Antara)

Langkah kaki seorang santriwati terhenti di depan gerbang kayu yang mulai menua, namun suasana di dalamnya jauh dari kesan kuno. Di pundaknya tidak lagi hanya tersampir tas berisi kitab kuning fisik, melainkan sebuah perangkat Chromebook yang menyimpan ribuan literasi digital.

Ia adalah potret santriwati di Maros, Sulawesi Selatan, yang datang untuk melakukan mappatabe (beradab) kepada sang guru, namun kini dengan cara yang lebih canggih—mengintegrasikan nilai adab tradisional ke dalam interaksi di ruang kelas digital yang dinamis.

Di bawah naungan gedung yang memadukan arsitektur lokal dan fasilitas modern, aroma wangi masakan tradisional dari kantin tetap menyeruak, mengingatkan pada tradisi Maudu’ (Maulid). Namun, persiapan perayaan keagamaan kini dikoordinasikan melalui Google Calendar dan Google Keep. Para santriwati tidak lagi hanya menyusun telur warna-warni secara manual, tetapi juga mendesain narasi filosofis dari setiap simbol budaya tersebut menggunakan Google Slides untuk dipresentasikan dalam forum lintas budaya secara virtual.

Malam hari di asrama, suara barzanji tetap menggema dengan cengkok Bugis-Makassar yang kental, namun teksnya dibaca melalui layar tablet yang terhubung ke Google Drive. Irama tradisional yang mendayu itu kini bersanding dengan aktivitas para santriwati yang sedang menyusun esai kritis mengenai fikih kontemporer di Google Docs. Mereka belajar bahwa menjadi Muslimah yang taat tidak berarti membuang identitas sebagai orang Sulawesi, melainkan memperkuatnya dengan literasi global yang dapat diakses hanya dengan satu klik.

Kehidupan pesantren kini menjadi laboratorium sosial dan digital. Di sela-sela hafalan Al-Qur'an, para santriwati di Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) terlibat dalam proyek komunitas yang dikelola melalui Google Workspace for Education.

Mereka menerapkan nilai Siri’ na Paccé (martabat dan empati) dengan menciptakan solusi digital bagi warga sekitar. Agama tidak lagi hanya berhenti di atas sajadah, tetapi bertransformasi menjadi algoritma kebaikan yang membantu sesama di era disrupsi.

Saat fajar menyingsing, para santriwati merapikan seragamnya dengan rapi. Mereka menatap ufuk timur dengan keyakinan bahwa mereka adalah penjaga gawang moral sekaligus pionir teknologi.

Di Sulawesi Selatan, pesantren telah berevolusi menjadi institusi yang memastikan bahwa modernitas tidak akan pernah mencabut akar tradisi. Mereka membuktikan bahwa iman yang kokoh dapat bersemi indah di dalam ekosistem digital yang maju.

Studi Kasus: Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) dan Ekosistem Google

Dalam konteks pesantren modern di Sulawesi Selatan, Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) muncul sebagai model percontohan sekolah putri yang sepenuhnya berbasis digital. Dengan mengadopsi ekosistem Google, SPIDI melakukan lompatan besar dalam manajemen pendidikan dan proses pembelajaran:

 

  1. Transformasi Ruang Kelas dengan Google Classroom: SPIDI telah meninggalkan metode konvensional dengan beralih ke pembelajaran berbasis paperless. Seluruh kurikulum pesantren dan akademik terintegrasi dalam Google Classroom, memungkinkan interaksi antara ustadzah dan santriwati terjadi secara real-time dan terukur.
  2. Kemandirian Digital Santriwati: Melalui penggunaan Chromebook dan Google Workspace, para santriwati dididik untuk menjadi produsen konten, bukan sekadar konsumen. Mereka terbiasa melakukan kolaborasi dokumen secara daring, yang secara tidak langsung mengasah keterampilan komunikasi dan kerja sama tim yang dibutuhkan di dunia profesional global.
  3. Manajemen Peradaban Berbasis Data: Sejalan dengan pemikiran Ismail Suardi Wekke tentang reorientasi mindset dari takmir ritual ke manajer peradaban, SPIDI mengelola database pendidikan dan perkembangan santriwati menggunakan sistem manajemen data yang transparan dan akuntabel. Penggunaan teknologi bukan sekadar gaya hidup, melainkan instrumen profesionalisme untuk menjaga amanah pendidikan.

Penutup: Menuju Masa Depan Peradaban

Evolusi pesantren modern di Sulawesi Selatan seperti yang ditunjukkan oleh SPIDI membuktikan bahwa keteguhan memegang tradisi bukanlah penghalang untuk berselancar di arus modernitas. Transformasi ini menciptakan sebuah sintesis unik: sebuah institusi yang mampu mencetak intelektual muslimah yang tidak hanya fasih berbicara tentang kecerdasan buatan, tetapi juga tetap tunduk pada nilai Pangadereng (norma adat). Pesantren telah menjadi jangkar yang menjaga identitas agar tidak hanyut dalam gelombang globalisasi.

Ke depannya, tantangan pesantren modern adalah konsistensi adaptasi teknologi yang dibarengi dengan kedalaman spiritualitas. Keberhasilan dalam mengintegrasikan perangkat digital dengan nilai-nilai luhur leluhur akan menjadi cetak biru bagi pendidikan Islam di Indonesia Timur. Pesantren tidak lagi sekadar tempat pelarian dari dunia, melainkan menjadi pusat komando bagi lahirnya inovasi sosial yang berlandaskan etika ketuhanan dan kearifan lokal.

Pada akhirnya, derap langkah santriwati di koridor digital SPIDI adalah simbol harapan baru bagi Sulawesi Selatan. Di tangan generasi "Neosantri" inilah, warisan para ulama terdahulu dan nilai-nilai keberanian Bugis-Makassar akan terus hidup. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu yang agung dengan masa depan yang penuh tantangan, memastikan bahwa cahaya ilmu dan kehangatan tradisi akan selalu berjalan beriringan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image