Pancasila: Bintang Penuntun di Tengah Gelombang Zaman
Eduaksi | 2026-01-02 18:39:24Pancasila bukan sekadar urutan kata yang diucapkan saat upacara bendera, bukan pula artefak sejarah yang usang. Sejak disahkan pada 18 Agustus 1945, Pancasila hadir sebagai Weltanschauung (pandangan hidup) dan Leitstar (bintang penuntun) bagi bangsa yang mendiami ribuan pulau ini. Di tengah derasnya arus globalisasi dan gelombang perubahan zaman, memahami kembali cahaya dari kelima sila ini menjadi krusial agar kapal besar bernama Indonesia tidak kehilangan arah.
1. Jantung Fondasi Kehidupan Bangsa
Pancasila berfungsi sebagai titik temu (kalimatun sawa) yang merekatkan keragaman. Ia adalah kontrak sosial luhur yang memastikan bahwa Indonesia bukan negara sekuler yang anti-agama, namun juga bukan negara teokrasi; bukan negara liberal yang mementingkan individu, namun tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Makna Filosofis dalam Setiap Sila:
Setiap sila dalam Pancasila memiliki keterkaitan yang utuh dan saling menjiwai.
• Ketuhanan Yang Maha Esa: Menjadi landasan moral dan spiritual, mengingatkan kita bahwa setiap tindakan diawasi oleh Tuhan.
• Persatuan Indonesia: Mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan.
• Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan...: Mengedepankan musyawarah dan rasionalitas dalam menyelesaikan masalah, bukan pemaksaan kehendak.
• Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Tujuan akhir bernegara, yaitu kemakmuran yang dapat dirasakan oleh semua, bukan segelintir orang saja.
2. Menghadapi Badai di Era Modern
Di abad ke-21, "gelombang zaman" datang dalam bentuk disrupsi teknologi dan perang ideologi. Tantangan Pancasila kini bukan lagi serangan fisik, melainkan hal-hal yang lebih subtil:
• Erosi Identitas: Masuknya budaya asing tanpa filter yang membuat generasi muda perlahan melupakan akar budayanya sendiri.
• Polarisasi Digital: Algoritma media sosial yang kerap menciptakan perpecahan, hoaks, dan ujaran kebencian yang bertentangan dengan sila ketiga.
• Individualisme Ekstrem: Gaya hidup yang menggerus semangat gotong royong.
"Pancasila itu jiwa dan raga kita. Ada di aliran darah dan detak jantung kita sebagai perekat keutuhan bangsa dan negara."
3. Menghidupkan Pancasila dalam Keseharian
Agar tetap menjadi bintang penuntun, Pancasila harus dibumikan dalam tindakan nyata, bukan hanya dihafal di lisan:
1. Etika Digital: Menerapkan adab (Sila ke-2) saat berkomentar di media sosial; menyaring informasi sebelum menyebarkannya demi menjaga persatuan (Sila ke-3).
2. Toleransi Aktif: Tidak sekadar membiarkan perbedaan, tetapi saling bekerja sama dan menghormati perayaan agama lain (Sila ke-1).
3. Bela Beli Produk Lokal: Mencintai produk dalam negeri adalah wujud nyata nasionalisme dan upaya memeratakan ekonomi (Sila ke-5).
Kesimpulan
Sebagai "Bintang Penuntun", Pancasila adalah kompas yang tidak pernah salah arah. Ia statis sebagai pemersatu, namun dinamis dalam merespons tantangan zaman. Selama kita berpegang teguh pada nilai-nilainya, Indonesia akan mampu mengarungi gelombang zaman apa pun dan sampai pada tujuan kemakmuran yang dicita-citakan
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
