Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Marketing DT Peduli 2

Air Mata dan Harapan di Balik Banjir Tapanuli Tengah

Filantropi | 2025-12-29 14:00:35
Relawan DT Peduli Saat meninjau lokasi Banjir di wilayah Tapanuli Tengah (Sumber : DT Peduli)

DTPEDULI.ORG | TAPANULI TENGAH - Hujan memang sudah reda. Arus sungai pun telah kembali tenang. Tapi bagi warga di Kecamatan Tukka, luka yang ditinggalkan banjir bandang belum benar-benar kering. Lumpur masih menempel di dinding rumah. Perabotan yang hanyut tak bisa lagi kembali. Dan yang lebih menyakitkan, selama berhari-hari tak ada satu pun bantuan yang berhasil menembus wilayah mereka yang terisolasi.

Barulah pada Kamis (4/12/2025), rombongan tim DT Peduli dan relawan Sisisa datang membawa setitik harapan. Disambut oleh wajah-wajah letih namun tetap berusaha tegar, bantuan kemanusiaan itu dipusatkan di Masjid Jami, Bona Lumban, Kecamatan Tukka. Pakaian layak pakai, mi instan, snack, perlengkapan mandi, 1,7 ton beras, minyak, gula, roti kering, popok bayi, pembalut wanita, hingga layanan trauma healing dibawa dengan enam armada pick-up dan satu mobil pribadi untuk 650 kepala keluarga terdampak.

"Kita sudah tiba di Kecamatan Tukka. Di sini merupakan desa yang terisolir dan ini adalah bantuan pertama dari masyarakat yang masuk ke desa Tukka. Alhamdulillah setelah melewati berbagai rintangan, kita bisa sampai di desa ini. In sya Allah kita akan membangun dapur umum di sini bersama DT Peduli Sumatera Utara dan Sisisa. Tentunya kami masih sangat berharap bantuan daripada masyarakat untuk sama-sama kita menolong saudara-saudari kita di sini yang terkena bencana banjir dan longsor," kata Sani, salah satu relawan DT Peduli di lokasi.

Ketika Obat Menjadi Kemewahan

Ada kenyataan pahit yang menyelip, yakni banyak warga kini mulai jatuh sakit. Air yang masih menggenang bersumber dari lumpur dan sisa banjir yang berbau tak sedap. Anak-anak demam, orang tua batuk tak henti, dan keluhan kesehatan lainnya bermunculan setiap hari. Semua itu menjadi ancaman baru yang ikut membayangi pemulihan.

Di momen itulah, kenyataan paling memilukan menohok hati para relawan.

Sani menggigit bibirnya saat mengingat kejadian yang membuatnya hampir roboh secara emosional. Seorang ibu tiba-tiba menangis ketika melihat tim relawan datang.

"Jauh kami datang. Banyak barang yang kami bawa. Sedikit saja yang ibu minta, kami nggak bisa kasih," ucapnya pelan, matanya menerawang.

Salah satu Relawan DT Peduli sedang memberikan arahan kepada penyintas banjir saat akan membagikan bantuan (Sumber : DT Peduli)

Ibu itu hanya meminta satu hal, yakni obat demam untuk bayinya yang terbaring lemah. Suaminya lumpuh, tak mampu bergerak, apalagi membawa anaknya ke fasilitas medis.

"Beliau minta obat untuk bayinya. Suaminya lumpuh dan anaknya sakit. Tapi kami nggak bawa obat-obatan, kami cuma bawa sembako. Pecah tangisnya mengatakan, 'Ada obat demam untuk anak, Dek?' Sakit kepala rasanya leherku mengatakan, 'nggak ada, Bu...'," kenang Sani, suaranya bergetar menahan tangis.

Relawan datang membawa banyak bantuan, tapi tetap tidak cukup ketika yang diminta warga adalah sesuatu yang sangat mendesak untuk menyelamatkan nyawa.

Kesehatan warga masih menjadi pekerjaan rumah terbesar. Relawan harus menyeberangi air yang menggenang, demi memastikan bantuan benar-benar sampai. Mereka tahu, di balik air berbau itu, ada sumber penyakit yang bisa memicu tragedi baru kapan saja.

"In sya Allah, untuk bantuan selanjutnya ya, Bu, kita bawa obat-obatan. Nanti kita sampaikan ke masyarakat dan donatur bahwa ibu butuh obat-obatan," ujar Sani, matanya berkaca-kaca.

Keceriaan Anak-anak saat sedang bermain dengan relawan DT Peduli (Sumber : DT Peduli)

Kalimat itu bukan sekadar respons. Itu adalah janji yang menempel di hati, dan mereka berniat memenuhi janji tersebut secepat mungkin.

Senyum Anak-Anak di Tengah Lumpur

Allah Taala selalu menghadirkan ruang kecil untuk kebahagiaan. Kedatangan relawan menghidupkan kembali keriangan anak-anak. Mereka berlari, tertawa, bahkan bermain dengan genangan air yang masih tersisa. Seolah bencana tak boleh sepenuhnya merampas masa kecil mereka.

Para ibu dengan mata penuh kekhawatiran tetap mencoba tersenyum, saling menguatkan satu sama lain. Relawan akhwat duduk bersama mereka, mendengarkan cerita tentang pakaian sekolah yang hanyut, dapur yang hilang, serta ketakutan menghadapi hujan berikutnya.

Para bapak yang biasanya sibuk di sawah kini membantu menurunkan paket bantuan. Meski kecil, kontribusi itu menjaga harga diri dan tanggung jawab mereka sebagai kepala keluarga.

Saat matahari mulai turun, tibalah waktu yang paling berat. Warga penyintas harus melepas kepergian relawan menuju daerah lain yang juga membutuhkan pertolongan.

Tangis pecah. Ada pelukan hangat. Ada lambaian tangan yang enggan terangkat. Ada ucapan terima kasih yang tak sempat tersusun rapi dalam kalimat.

Sebagian warga menahan rombongan lebih lama. Mungkin hanya untuk memastikan bahwa mereka sungguh akan kembali. Atau sekadar untuk mencuri secuil rasa aman sebelum malam tiba.

Relawan berjalan meninggalkan masjid dengan langkah berat, menyusuri jalan yang masih tergenang. Mereka membawa pulang kisah, luka, dan harapan yang harus disampaikan kepada masyarakat luas.

Hari itu, tawa, tangis, dan doa menyatu di satu tempat yang sama. Masjid Jami yang berubah seketika menjadi ruang penyembuhan.

Banjir telah merampas banyak hal. Tapi tidak semuanya hilang. Masih ada kepedulian. Masih ada tangan-tangan yang tak mau melepaskan sesama manusia sendirian dalam bencana. Di Kecamatan Tukka, air mata, pelukan, dan semangat untuk bangkit bersama kembali menyala. (Agus ID)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image