Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Donny Syofyan

Mendekolonisasi Inferno: Saat Patois Jamaika Mengguncang Kanon Eropa

Sastra | 2025-12-29 13:28:49

Tinggalkan seluruh harapan, wahai kau yang melangkah masuk (All hope abandon, ye who enter here), demikian peringatan yang terpahat di gerbang neraka dalam Inferno karya Dante Alighieri. Kalimat legendaris ini telah dikutip dalam berbagai konteks—dari kengerian kamp konsentrasi hingga kejemuan ruang kantor—hingga kita sering lupa bahwa baris tersebut lahir di abad ke-14. Namun, yang populer di telinga kita sebenarnya adalah versi terjemahan tahun 1805 milik Henry Francis Cary, yang mengubah skema rima asli Dante menjadi ritme iambic pentameter ala Shakespeare.

Kini, Lorna Goodison hadir dengan visi yang benar-benar segar. Melalui karyanya yang masuk dalam nominasi Governor General’s Literary Award 2025, Goodison membawa Inferno ke arah yang tak terduga. Canto III ia buka dengan baris: "Akulah jalan menuju kota penindasan yang kelam (deep downpression)." Istilah "downpression" bukanlah sembarang kata; ini adalah kosakata khas Rastafarian. Sentuhan vernakular Karibia inilah yang meresap ke dalam jantung mahakarya abad pertengahan tersebut, memberikan nyawa baru pada perjalanan Dante melintasi sembilan lingkaran neraka yang telah menginspirasi banyak film hingga video game modern.

Sebagai pembuka trilogi The Divine Comedy, puisi epik ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris puluhan kali oleh nama-nama besar seperti Longfellow hingga Robert Pinsky. Tantangan mereka selalu sama: bagaimana mempertahankan rima Dante yang rumit dalam bahasa Inggris yang cenderung "miskin" rima?

Di sinilah letak kecerdasan Goodison. Ia tidak hanya memilih bentuk puisi bebas (free verse), tetapi juga mengambil keputusan artistik yang berani. Jika dahulu Dante menentang arus dengan menulis dalam dialek Tuscan saat bahasa Latin masih menjadi kasta tertinggi, Goodison melakukan hal serupa. Ia meninggalkan bahasa Inggris "standar" dan memilih menggunakan bahasa vernakular Jamaika yang hidup dan ekspresif.

Hasilnya adalah sebuah imajinasi ulang yang brilian. Goodison tetap setia pada alur teks asli, namun ia melakukan "lokalisasi" budaya yang radikal: pemberontakan budak menggantikan narasi perang kuno, dan ikon-ikon musik Reggae mengisi posisi tokoh-tokoh Yunani klasik. Bahkan kehadiran pelari legendaris Usain Bolt di tengah puisi teologi ini terasa sangat organik, jauh dari sekadar gimmick.

Lorna Goodison bukanlah sosok sembarangan; mantan penyair resmi (poet laureate) Jamaika dan penerima Medali Emas Ratu untuk Puisi ini menyatukan kedalaman intelektualnya sebagai akademisi di Michigan dan Toronto dengan akar budayanya yang kuat. Lewat tangannya, Inferno bukan lagi sekadar warisan Eropa yang kaku, melainkan sebuah simfoni global yang terasa dekat dan relevan.

Goodison meramu kecerdasan intelektual dan kepekaan estetikanya untuk menaklukkan sebuah tantangan besar: meruntuhkan tembok Eurosentrisme. Ia melawan stigma yang selama ini memojokkan budaya dan dialek Karibia sebagai sesuatu yang marginal, namun secara ajaib ia tetap mampu menjaga marwah karya sang maestro Eropa. Dante sendiri ternyata menjadi sosok yang sangat pas bagi perjuangan pascakolonial ini. Karena ia menulis jauh sebelum era kolonialisme Amerika atau kelamnya perdagangan budak transatlantik dimulai, Dante justru menjadi teladan tentang bagaimana seorang penyair seharusnya setia pada akar lokalnya.

Namun, di luar strategi politik bahasa yang cerdas itu, ada alasan yang jauh lebih sederhana mengapa Inferno versi Goodison begitu memikat: menjelajahi neraka ternyata bisa sangat menyenangkan.

Tren terjemahan yang berani memang tengah naik daun. Kita tentu ingat bagaimana Emily Wilson mengguncang dunia sastra pada tahun 2017 saat ia menjadi wanita pertama yang menerjemahkan The Odyssey. Ia membedah sosok Odysseus sebagai pria yang rumit, sebuah terjemahan yang memicu diskusi panas karena ia berhasil menyoroti standar ganda seksis dalam mitologi klasik—di mana Penelope dipaksa setia di rumah sementara suaminya bebas memadu kasih dengan para dewi.

Jika Wilson melihat adanya gesekan dengan materi aslinya, Goodison justru menjadikan Dante sebagai sekutu karibnya. Dalam sebuah diskusi di Berlin pada 2021, Goodison menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Dante yang telah memberikan mandat bagi para penyair dunia untuk menulis dalam bahasa ibu mereka.

Jauh di masa lalu, melalui esai De vulgari eloquentia, Dante memang bersikeras bahwa bahasa rakyat sehari-hari jauh lebih berjiwa ketimbang bahasa Latin yang kaku. Dengan menulis dalam dialek Tuscan, ia ingin mengangkat derajat bahasa kelas bawah agar bisa dinikmati oleh khalayak luas. Namun, sejarah memiliki sisi ironisnya sendiri: dialek Florentine yang ia gunakan justru tumbuh menjadi bahasa kekuasaan yang kaku. Mahakarya The Divine Comedy malah menjadi standar baku bahasa Italia yang pada akhirnya meminggirkan dialek-dialek lokal lainnya di semenanjung tersebut.

Membawa bait-bait Dante ke dalam bahasa Inggris beraksen Jamaika bukan sekadar eksperimen bahasa, melainkan upaya menghidupkan kembali ruh estetika aslinya. Namun, menyebutnya sebagai "Bahasa Inggris" mungkin kurang tepat. Mengacu pada kuliah legendaris Kamau Brathwaite tahun 1979, "History of the Voice", bahasa vernakular Karibia bukanlah sekadar "dialek" yang inferior. Brathwaite menyebutnya sebagai "bahasa bangsa" (nation language)—sebuah tutur kata yang berdenyut dengan infleksi Afrika. Dengan gagah ia pernah berujar, "Badai tidak menderu dalam ritme pentameter," sebuah ajakan bagi para penyair untuk memeluk ritme lokal, sembari tetap menempatkan Dante sebagai inspirasi utamanya.

Goodison memperluas garis perjuangan ini. Ia melompat dari satu register bahasa ke register lainnya; menggunakan ejaan fonetik seperti “Gwey! You wutliss crowbait” untuk menghadirkan jiwa Patois Jamaika yang kental. Bagi banyak ahli bahasa, ini bukan lagi sekadar dialek, melainkan sebuah bahasa mandiri yang berdiri tegak.

Hasilnya? Jauh dari kesan kaku khas buku teks. The Inferno versi Goodison terasa dinamis, meledak-ledak, dan penuh selera humor yang getir. Lihat saja bagaimana ia menggambarkan lingkaran nafsu: dihuni oleh mereka yang ia sebut sebagai "si darah panas tanpa kendali diri." Di sana, kita bertemu dengan seorang "ratu kekumuhan" (empress of slackness), sang penguasa dunia dancehall—genre musik yang sering dicibir kaum puritan layaknya rap dan hip-hop. Tak jauh darinya, muncul "Miss Klio," sosok Cleopatra kolokial yang dikisahkan mengakhiri hidup karena depresi akibat hasrat yang tak terpenuhi.

Gaya penceritaan yang penuh gosip ini justru mempertegas daya tarik utama Inferno: kepuasan melihat orang-orang ternama disiksa. Puisi Dante, jika dilihat dari kacamata modern, adalah sebuah fan fiction kelas atas. Dante membayangkan berbagai tokoh sejarah dan mitologi mendekam di neraka dengan hukuman yang dirancang khusus sesuai dosa mereka. Ia bahkan menggunakan puisinya untuk membalas dendam pada musuh politiknya: Filippo Argenti dipaksa berenang di lumpur busuk Sungai Styx, sementara Paus Bonifasius VIII telah dipesankan tempat di lingkaran kedelapan—terkubur terbalik dengan kaki yang terus-menerus dijilat api.

Tak mau kalah dengan Dante, Goodison merancang fantasi pembalasannya sendiri dengan presisi yang tajam. Ia menjebloskan Paus Alexander VI ke dalam kubangan kotoran sebagai hukuman atas restunya terhadap kolonisasi Amerika. Tak jauh dari sana, kita melihat "T. May" (mantan PM Inggris Theresa May) mendidih di dalam sungai darah. Dosanya? Ia dianggap telah menghancurkan martabat warga Windrush—sebuah tragedi kemanusiaan tahun 2018 di mana ratusan imigran legal Karibia dideportasi secara sewenang-wenang oleh Inggris. Tak ketinggalan, sosok "Elon si Geek" turut terpanggang di neraka, berdampingan dengan para pemuja Bitcoin dalam sebuah ironi modern yang getir.

Strategi puitis Goodison adalah perpaduan antara kesetiaan pada struktur asli dan keberanian dalam berinovasi. Ia berhasil membedah citraan klasik dan menjauhkannya dari klise: air mata kini disebut sebagai "eyewater", arwah penasaran berubah menjadi "duppies" (sebutan hantu dalam budaya Karibia), dan makhluk yang kecepatannya dulu dibandingkan dengan anak panah, kini digambarkan "melesat bak peluru yang diletuskan dari sebuah Glock." Kepadatan makna dalam setiap barisnya menuntut pembaca untuk berhenti sejenak dan meresapi setiap kata. Cara terbaik menikmati karya ini adalah dengan menyandingkannya dengan teks asli Italia; di sanalah kita bisa melihat betapa lihainya Goodison berimprovisasi tanpa kehilangan esensi aslinya.

Transformasi paling radikal terjadi pada level karakter. Goodison mengambil peran Dante sebagai narator utama, namun ia mengganti Virgil—sang pemandu legendaris—dengan sosok Louise Bennett-Coverley. Louise, atau yang akrab disapa "Miss Lou," adalah penyair karismatik yang menghidupkan balada patois Jamaika sejak era 1940-an.

Kehadiran Miss Lou menyuntikkan napas feminisme yang kuat ke dalam Inferno. Puisi epik ini kini bertransformasi menjadi perjalanan spiritual yang berporos pada dua perempuan Jamaika yang tangguh. Melalui penghormatan ini, Goodison mengakui Miss Lou sebagai mentor spiritual dan teladan utamanya, sosok yang memungkinkannya menciptakan gaya hibrida unik yang kini diakui oleh dunia sastra internasional.

Di ambang Canto IV, wilayah Limbo yang sunyi, Goodison menghadirkan jajaran tokoh cameo yang memukau. Jika dahulu Dante menaruh hormat pada jiwa Homer, Goodison justru menempatkan Derek Walcott, sang peraih Nobel Sastra, di sana. Nanny of the Maroons—pemimpin legendaris budak pelarian yang menggentarkan kekuatan kolonial—kini mengambil alih posisi Electra, didampingi sekutu setianya, Cudjoe, yang menggantikan para ksatria Troy. Bahkan posisi Aristoteles, sang "Guru dari Segala yang Tahu", kini ditempati oleh Marcus Garvey, sang pemantik kebanggaan ras kulit hitam melalui UNIA.

Visi ini seolah menghidupkan kembali kiasan "Karibia Mediterania"—sebuah konsep abad ke-20 yang melihat kemajemukan Karibia sebagai kembaran modern dari kejayaan Yunani kuno. Namun, ada teka-teki teologis yang tersisa. Jika Dante "terpaksa" menempatkan para pemikir Yunani di Limbo karena mereka bukan Kristiani, apa alasan Goodison mengasingkan sosok seperti pematung Edna Manley atau koreografer Rex Nettleford dari surga?

Di titik inilah kita melihat perbedaan tajam antara Goodison dan Derek Walcott. Dalam Omeros, Walcott memperlakukan Homer hanya sebagai inspirasi lepas, namun Goodison memilih untuk menghuni Inferno baris demi baris. Hasilnya adalah sinkronisasi yang luar biasa namun terkadang menyesakkan. Saat Dante melukiskan kota Cesena yang terjepit di antara dataran dan gunung—seperti politiknya yang terjepit antara tirani dan kebebasan—Goodison menarik garis lurus ke ibu kota Jamaika: "Adapun Kingston yang menatap birunya Karibia, selebar itu pula jurang antara si miskin dan si kaya. Luas, dan kian melebar."

Ada kalanya batasan teks asli membuat Goodison memberontak. Momen paling emosional muncul saat ia berhadapan dengan penggambaran kejam Dante terhadap Nabi Muhammad di lingkaran kedelapan. Di sini, Goodison berhenti sejenak, beralih peran menjadi "tetua Rastafarian yang tegas" untuk menegur sang penyair Italia tersebut. Inilah satu-satunya fragmen di mana ia meragukan keberaniannya sendiri, sebuah renungan yang jujur: "Apakah aku sudah melampaui batas? Apakah ini ambisi yang terlalu berani? Apakah aku cukup bijak untuk menyentuh 'Commedia Divine' ini?"

Kini dunia menanti: akankah Goodison merampungkan seluruh trilogi ini? Meski ia telah merilis beberapa bagian dari Purgatorio, sebuah tantangan besar membentang—ia harus memilah siapa yang layak naik ke singgasana suci, sementara begitu banyak tokoh hebat telah ia "pesankan tempat" di dunia bawah. Namun, dalam Inferno ini, ia telah sukses menghidupkan kembali kengerian Gotik Dante dengan cara yang mencekam. Kita diajak menyaksikan pepohonan yang merintih—hutan bagi jiwa-jiwa yang mengakhiri hidupnya sendiri—yang berdarah dan bersuara melalui dahan yang patah. Tak kalah ganjil, deskripsi tentang ular berkaki enam yang melilit manusia hingga keduanya meleleh dan menyatu dalam satu rupa, sebuah transformasi mengerikan di mana identitas masing-masing hilang ditelan satu sama lain.

Keberanian artistik ini berakar pada integritas yang kokoh. Bagi Goodison, bahasa Jamaika bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bentuk kebanggaan dan kepedulian atas nasib bangsanya. Ia menggunakan neraka sebagai panggung untuk menguliti kejahatan "politrik" (politik kotor). Ia menggambarkan aliran api neraka serupa dengan danau lumpur merah asam akibat limbah tambang bauksit—atau semerah mata para politisi yang tega menjual kekayaan alam mereka, mulai dari lembah Cockpit hingga Blue Mountain. Dengan tegas, ia mengguncang tatanan dunia sastra: ia menuntut agar tanah airnya mendapatkan penghormatan dan representasi yang sama agungnya dengan Florence di mata Dante.

Di baris-baris terakhir The Inferno, Goodison dan pemandunya mulai mendaki kembali menuju permukaan. Mereka menatap "lingkaran tak terputus yang terbuka luas," hingga akhirnya mereka melangkah keluar untuk kembali "melihat bintang-bintang itu (see the stars dem)."

Penutup ini adalah sebuah pernyataan politik yang indah. Dengan menyisipkan kata "dem"—sebuah kata ganti yang mungkin akan dicibir oleh ahli tata bahasa konvensional sebagai kesalahan eja atau pemborosan—Goodison justru melakukan tindakan subversif. Melalui suku kata yang melawan pakem ritme klasik tersebut, ia secara resmi menancapkan bendera budayanya di wilayah sastra dunia. Ia membuktikan bahwa keagungan karya klasik tidak akan luntur saat disuarakan dalam bahasa rakyat; ia justru menjadi lebih hidup, lebih jujur, dan abadi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image