Nataru 2025: Uji Nyali Infrastruktur dan Kedewasaan Digital Pemudik
Info Terkini | 2025-12-29 11:20:32Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) selalu menjadi fenomena tahunan yang unik di Indonesia. Namun, tahun 2025 ini terasa berbeda. Di tengah optimisme ekonomi pasca-pandemi, jutaan orang diprediksi akan tumpah ruah ke jalanan, pelabuhan, dan bandara. Pertanyaannya bukan lagi "siapa yang akan pergi?", melainkan "seberapa siap kita menghadapi ledakan mobilitas ini?
Belajar dari Merak, digitalisasi bukan lagi pilihan peninjauan menko PMK, Muhadjir Effendy, ke Pelabuhan Merak beberapa waktu lalu memberikan sinyal jelas: kunci kelancaran tahun ini ada pada delaying system dan tiket online. Kita harus jujur, antrean horor di Merak-Bakauheni seringkali bermuara pada satu masalah klasik: kebiasaan membeli tiket di lokasi (go-show).
Tahun ini, pemerintah tidak lagi memberi ruang bagi tawar-menawar digital. Penggunaan tiket ferry online bukan sekadar gaya hidup, melainkan instrumen pengendalian massa. Jika masyarakat masih bebal dan baru mencari tiket di gerbang pelabuhan, maka penumpukan adalah kepastian. Di sinilah kedewasaan digital kita sebagai warga negara diuji.
Operasi Lilin dan Dilema Keamanan Pengerahan 150.000 personel gabungan dalam Operasi Lilin 2025 menunjukkan bahwa negara hadir. Namun, pengamanan 2.000 lebih gereja dan ribuan titik wisata bukan sekadar soal menaruh personel berseragam. Ini adalah soal manajemen risiko. Korlantas Polri di bawah Brigjen Pol. Aan Suhanan telah memberikan peringatan keras terhadap pelanggar lalu lintas. Ketegasan ini perlu kita apresiasi, karena di saat volume kendaraan meningkat, satu kesalahan kecil dari pengemudi yang mengantuk bisa berakibat fatal bagi banyak orang.
Ancaman nyata di balik awan satu variabel yang tidak bisa dikontrol oleh pemerintah maupun aparat adalah cuaca. Peringatan BMKG mengenai potensi hujan lebat di Sumatera, Jawa, hingga Sulawesi Selatan, serta gelombang tinggi di perairan kritis seperti Selat Sunda, harus diambil dengan serius
Perjalanan bukan sekadar soal sampai ke tujuan, tapi soal keselamatan. Jangan sampai ambisi untuk merayakan malam pergantian tahun justru membuat kita mengabaikan "lampu kuning" dari alam. Menunda perjalanan saat cuaca ekstrem adalah keputusan yang jauh lebih bijak daripada terjebak dalam badai di tengah laut atau longsor di jalur darat.
Catatan Penutup: Kolaborasi adalah Kunci Libur Nataru 2025 adalah ujian kolaborasi. Pemerintah menyiapkan infrastruktur dan pos pelayanan, Polri menjaga keamanan, dan BMKG memberikan informasi navigasi. Namun, semua itu akan sia-sia jika kita—sebagai pemudik—tidak melakukan persiapan mandiri.
Memastikan saldo e-toll mencukupi, melakukan servis kendaraan secara menyeluruh, dan memantau informasi real-time adalah kontribusi terkecil yang bisa dilakukan masyarakat. Mari jadikan libur akhir tahun ini sebagai momentum untuk membuktikan bahwa kita mampu bergerak secara masif dengan cara yang tertib, cerdas secara digital, dan waspada terhadap alam.
Jangan biarkan euforia liburan mengaburkan kewaspadaan. Karena sejatinya, tujuan akhir dari setiap perjalanan adalah kembali ke rumah dengan selamat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
