Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Balqis Meira Salwa

Relasi Ibu dan Anak dalam Dua Cerpen Indonesia Bertema Masakan Keluarga

Sastra | 2025-12-26 15:24:47
Gambar tersebut menampilkan sebuah momen hangat di dapur antara seorang perempuan dan seorang anak kecil. Sumber gambar: https://freepik.com

Struktur Penceritaan Cerpen “Lidah Masakan Ibu” dan “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan”

Cerpen “Lidah Masakan Ibu” dan “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan” sama-sama menempatkan aktivitas memasak sebagai inti penggerak cerita. Memasak tidak hadir sekadar sebagai latar kegiatan domestik, melainkan menjadi sarana utama penyampai makna dan emosi. Meski demikian, pengalaman batin yang ditawarkan kedua cerpen ini berkembang dengan cara yang berbeda, terutama melalui struktur penceritaan, sudut pandang, serta penekanan konflik yang dibangun masing-masing pengarang. Dalam “Lidah Masakan Ibu”, cerita berpusat pada tema kehilangan dan ingatan masa kecil yang terus hidup dalam diri tokoh Yudhis. Masakan menjadi jembatan emosional antara masa lalu dan masa kini, sekaligus pengikat antara sosok ibu yang telah tiada dengan kehidupan keluarga yang kini ia jalani. Sebaliknya, “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan” menampilkan tema perpisahan dan pewarisan nilai hidup secara lebih terbuka, terutama melalui dialog-dialog reflektif antara tokoh “Aku” dan ibunya. Di sini, memasak dimaknai sebagai ruang pendidikan batin, sarana merenungkan kematian, dan simbol keseimbangan dalam menjalani kehidupan.

Perbedaan tema tersebut berpengaruh langsung terhadap penggambaran tokoh utama dalam masing-masing cerpen. Yudhis dalam “Lidah Masakan Ibu” tampil sebagai sosok yang tenang, cenderung tertutup, dan sangat terikat pada kenangan masa kecilnya. Aktivitas memasak yang ia lakukan tidak semata-mata didorong oleh keterampilan teknis, melainkan oleh dorongan emosional untuk menepati janji yang tak sempat ia sampaikan kepada ibunya. Kehadiran sosok Mamak memang tidak muncul secara fisik, tetapi terasa begitu kuat melalui ingatan, resep, dan ritual memasak yang terus diulang oleh Yudhis. Berbeda dengan itu, tokoh “Aku” dalam “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan” digambarkan sebagai perempuan modern yang rasional, berpendidikan tinggi, dan pada awalnya memandang kegiatan memasak sebagai sesuatu yang tidak lagi mendesak di tengah kemajuan teknologi. Pergulatan batin tokoh ini perlahan berkembang melalui interaksi intens dengan ibunya, sosok perempuan yang bijak, reflektif, dan memiliki kesadaran mendalam tentang kefanaan hidup. Perubahan cara pandang tokoh “Aku” menjadi bagian penting yang menggerakkan dinamika cerita.

Dari segi alur, “Lidah Masakan Ibu” disusun dengan alur campuran yang banyak memanfaatkan kilas balik. Pergeseran antara masa kini dan masa lalu berfungsi mempertegas trauma kehilangan yang dialami Yudhis sekaligus menjelaskan keterikatannya yang kuat terhadap dapur dan masakan. Pola alur semacam ini menciptakan suasana melankolis dan kontemplatif yang menyelimuti keseluruhan cerita. Sementara itu, “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan” disajikan melalui alur maju yang lebih lurus dan kronologis. Cerita bergerak dari konflik ringan antara ibu dan anak, berlanjut pada proses belajar memasak, hingga mencapai puncak emosional pada peristiwa kematian ibu yang datang secara tiba-tiba. Alur yang sederhana ini justru memperkuat kesan realistis dan membuat akhir cerita terasa menggugah.

Latar dalam kedua cerpen sama-sama berakar pada ruang domestik, khususnya dapur dan meja makan, tetapi suasana yang dibangun berbeda. Dalam “Lidah Masakan Ibu”, dapur tampil sebagai ruang yang personal dan hampir sakral, tempat Yudhis berjumpa dengan kenangan masa kecil serta kehadiran simbolik ibunya. Suasana yang tercipta cenderung sunyi dan intim, seolah dapur menjadi ruang dialog batin antara anak dan ibu yang telah tiada. Sebaliknya, dapur dalam “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan” menjadi ruang percakapan dan pembelajaran, tempat nilai-nilai kehidupan disampaikan secara langsung melalui aktivitas memasak yang sarat makna simbolik.

Perbedaan sudut pandang turut memberi warna emosional yang khas pada masing-masing cerpen. “Lidah Masakan Ibu” menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, sehingga pembaca dapat melihat pergulatan batin Yudhis secara lebih luas dan berjarak. Sementara itu, “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan” disampaikan melalui sudut pandang orang pertama, yang membuat pengalaman kehilangan, penyesalan, dan kesadaran tokoh terasa lebih dekat dan personal. Sudut pandang ini menempatkan pembaca seolah ikut terlibat dalam proses batin tokoh saat memahami nilai-nilai yang diwariskan ibunya.

Secara keseluruhan, kedua cerpen menunjukkan kesamaan dalam penggunaan masakan sebagai simbol cinta ibu dan ikatan keluarga, namun berbeda dalam cara pengisahan dan penekanan makna. “Lidah Masakan Ibu” lebih menonjolkan ingatan, kesetiaan, dan keabadian cinta melalui pengulangan ritual memasak, sedangkan “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan” menekankan proses belajar, kesadaran akan kefanaan hidup, serta pewarisan nilai menjelang perpisahan. Dengan demikian, kedua cerpen ini saling melengkapi dalam menghadirkan gambaran relasi ibu dan anak dari sudut pandang emosional yang berbeda, tetapi sama-sama menyentuh.

Pemaknaan Tanda dalam Cerpen “Lidah Masakan Ibu” dan “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan”

Berdasarkan hasil analisis, ditemukan dua ikon utama, dua indeks, dan dua simbol dominan dalam kedua cerpen yang dikaji. Klasifikasi tanda-tanda tersebut digunakan untuk menafsirkan makna yang tersembunyi di balik teks cerpen dengan merujuk pada teori semiotika Charles Sanders Peirce.

Hasil dan pembahasan dalam kajian ini menguraikan tanda-tanda semiotis berupa ikon, indeks, dan simbol yang terdapat dalam dua cerpen, yaitu “Lidah Masakan Ibu” dan “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan”. Analisis dilakukan dengan merujuk pada teori semiotika Charles Sanders Peirce untuk menafsirkan makna tanda dalam konteks cerita. Tanda-tanda tersebut dipahami sebagai representasi persoalan keluarga, ingatan, kehilangan, serta relasi emosional antartokoh.

Ikon

Peirce menjelaskan bahwa ikon merupakan tanda yang memiliki hubungan kemiripan atau keserupaan dengan objek yang diwakilinya. Karena hubungan ini bersifat langsung, pembaca dapat dengan mudah mengenali makna yang ditampilkan. Dalam dua cerpen yang dikaji, ikon muncul melalui objek-objek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama makanan dan ruang domestik.Dalam cerpen “Lidah Masakan Ibu”, ikon yang paling dominan adalah masakan ibu. Hal ini tampak dari bagaimana tokoh terus mengingat rasa masakan tersebut, sebagaimana terlihat dalam kutipan berikut.

“Rasa masakan ibu itu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatanku. Lidahku selalu mengenalinya, bahkan ketika ibu sudah tidak lagi memasak untuk kami.” (Edwin, 2023)

Kutipan ini menunjukkan bahwa masakan ibu memiliki kemiripan langsung dengan sosok ibu itu sendiri. Masakan bukan sekadar makanan, melainkan menjadi representasi kehadiran ibu yang masih hidup dalam ingatan tokoh. Dengan demikian, masakan ibu berfungsi sebagai ikon yang menghadirkan kembali kasih sayang, kehangatan, dan peran ibu dalam keluarga meskipun secara fisik ia telah tiada. Melalui ikon ini, pembaca dapat merasakan kuatnya ikatan emosional antara ibu dan anak.

Selain itu, aktivitas memasak juga dapat dipahami sebagai ikon pengabdian dan peran domestik seorang ibu. Keserupaan antara masakan dan peran ibu sebagai pemberi kehidupan menjadikan ikon ini sarat makna emosional dan memperkuat nuansa kehilangan dalam cerita.

Sementara itu, dalam cerpen “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan”, ikon yang menonjol adalah semangkuk makanan dan meja makan, sebagaimana tergambar dalam kutipan berikut.

“Semangkuk makanan itu terhidang di tengah meja. Tak ada yang segera menyentuhnya, seolah kami semua tahu bahwa ini bukan sekadar makan bersama.” (Miranda Seftiana, 2019)

Kutipan ini menunjukkan bahwa semangkuk makanan dan meja makan memiliki kemiripan langsung dengan pengalaman kebersamaan keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dalam konteks cerita, ikon tersebut tidak lagi bermakna netral. Kehadiran makanan yang tak segera disentuh menandakan adanya ketegangan emosional dan kesadaran akan perpisahan. Dengan demikian, ikon semangkuk makanan dan meja makan merepresentasikan kebersamaan yang rapuh, dibayangi oleh perasaan kehilangan yang akan datang.

Indeks

Indeks merupakan tanda yang menunjukkan hubungan sebab-akibat antara representamen dan objeknya. Hubungan ini bersifat kausal, sehingga suatu peristiwa dapat dipahami sebagai akibat dari peristiwa lainnya. Dalam kedua cerpen, indeks tampak melalui rangkaian pengalaman batin tokoh yang berkembang secara emosional.

Dalam cerpen “Lidah Masakan Ibu”, ingatan tokoh terhadap rasa masakan ibu menjadi indeks dari perasaan kehilangan dan kerinduan, sebagaimana tampak dalam kutipan berikut.

“Sejak ibu tak lagi ada, setiap suapan selalu terasa kurang. Ada rasa yang hilang, yang tak pernah bisa digantikan oleh masakan siapa pun.” (Edwin, 2023)

Kutipan ini menunjukkan hubungan sebab-akibat yang jelas: ketiadaan ibu menjadi sebab munculnya rasa kehilangan yang kemudian termanifestasi melalui pengalaman makan. Rasa masakan yang “terasa kurang” menjadi akibat dari kondisi emosional tokoh yang masih berduka. Dengan demikian, perubahan rasa makanan berfungsi sebagai indeks yang menandai perubahan keadaan batin tokoh.

Dalam cerpen “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan”, peristiwa makan bersama juga berfungsi sebagai indeks dari perpisahan yang akan terjadi, seperti terlihat dalam kutipan berikut.

“Kami makan dalam diam. Tak ada percakapan panjang, hanya bunyi sendok yang saling beradu, seolah menandai sesuatu yang akan berakhir.” (Miranda Seftiana, 2019)

Kutipan ini menunjukkan bahwa keheningan saat makan merupakan akibat dari kesadaran tokoh akan perpisahan yang tidak terelakkan. Diam dan minimnya percakapan menjadi indeks dari ketegangan emosional dan kegamangan batin tokoh. Dengan demikian, suasana makan bersama tidak lagi menghadirkan kehangatan, melainkan menjadi penanda kuat akan kehilangan yang segera terjadi.

Simbol

Simbol merupakan tanda yang maknanya ditentukan oleh kesepakatan sosial dan budaya. Tidak seperti ikon dan indeks, simbol tidak memiliki hubungan langsung dengan objeknya, melainkan dipahami melalui pengalaman kolektif masyarakat. Dalam kedua cerpen, simbol berkaitan erat dengan makanan dan ruang makan sebagai representasi relasi keluarga.

Dalam cerpen “Lidah Masakan Ibu”, masakan ibu tidak hanya berfungsi sebagai ikon, tetapi juga sebagai simbol kasih sayang dan pengorbanan ibu, sebagaimana terlihat dalam kutipan berikut.

“Tak ada yang bisa meniru rasa masakan ibu. Bukan soal bumbu atau cara memasak, tetapi ada sesuatu yang tak terlihat di dalamnya.” (Edwin, 2023)

Kutipan ini menunjukkan bahwa masakan ibu dimaknai lebih dari sekadar hasil olahan bahan makanan. Secara simbolik, masakan ibu merepresentasikan cinta, perhatian, dan ketulusan yang tidak dapat digantikan. Makna tersebut lahir dari konvensi sosial yang memandang masakan ibu sebagai wujud kasih sayang keluarga yang paling tulus.

Sementara itu, dalam cerpen “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan”, meja makan menjadi simbol kebersamaan yang perlahan berubah menjadi simbol perpisahan, sebagaimana tergambar dalam kutipan berikut.

“Meja makan itu seperti biasa, tetapi malam ini terasa berbeda. Kami duduk berhadapan, namun masing-masing seperti menyimpan jarak.” (Miranda Seftiana, 2019)

Kutipan ini menunjukkan bahwa meja makan tidak lagi sepenuhnya merepresentasikan kehangatan keluarga. Secara simbolik, meja makan berubah menjadi ruang yang menandai jarak emosional dan keterpisahan batin antaranggota keluarga. Pergeseran makna simbol ini menegaskan konflik batin tokoh-tokoh dalam cerita.

Selain itu, semangkuk makanan juga berfungsi sebagai simbol momen terakhir kebersamaan keluarga. Kehadirannya menandai peristiwa penting yang sarat makna emosional, bukan sekadar aktivitas makan bersama.

Dengan demikian, simbol-simbol yang dihadirkan dalam kedua cerpen memperkuat pesan tentang relasi keluarga, kasih sayang, dan perpisahan. Rangkaian tanda berupa ikon, indeks, dan simbol membentuk kesatuan makna yang saling melengkapi dalam menyampaikan pesan pengarang tentang pentingnya ikatan emosional dalam kehidupan manusia.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image