Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muadz Amirul Islam

PSN di Papua: Pembangunan Besar dan Alam yang Kian Rentan

Info Terkini | 2025-12-26 12:14:20

Pembangunan hampir selalu datang dengan narasi optimisme. Jalan dibangun, investasi masuk serta lapangan kerja dijanjikan. Di Papua, optimisme itu hadir melalui berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digadang-gadang mampu mempercepat kemajuan wilayah timur Indonesia. Namun di tengah ambisi tersebut, muncul pertanyaan yang jarang dibahas secara serius: sejauh mana alam Papua sanggup menanggung dampak pembangunan berskala besar ini?Papua bukan wilayah biasa. Ia menyimpan hutan hujan tropis yang luas, lahan basah yang sensitif, serta sistem ekologis yang selama ratusan tahun menjadi penopang kehidupan masyarakat adat. Ketika proyek berskala nasional masuk ke ruang hidup yang rapuh ini, perubahan yang terjadi tidak pernah sederhana.Skala Pembangunan dan Risiko LingkunganSalah satu PSN yang banyak disorot adalah pengembangan kawasan pangan berskala besar di Papua Selatan. Dari sudut pandang kebijakan nasional, proyek ini diposisikan sebagai solusi ketahanan pangan. Namun di lapangan, pembukaan lahan dalam skala luas memunculkan risiko ekologis yang tidak kecil.Pembukaan hutan dan pengeringan lahan basah berdampak langsung pada daya serap air dan stabilitas tanah. Dalam jangka pendek, perubahan ini mungkin belum terasa. Namun dalam jangka panjang, ia meningkatkan kerentanan terhadap banjir, kerusakan lahan, dan perubahan pola air. Bencana alam yang sering disebut sebagai faktor cuaca semata, pada titik tertentu, tidak bisa dilepaskan dari keputusan manusia dalam mengelola ruang.Indonesia sendiri tengah menghadapi peningkatan bencana hidrometeorologi. Papua tidak berada di luar konteks ini. Ketika kawasan alami yang selama ini berfungsi sebagai penyangga rusak, risiko bencana menjadi bagian dari harga yang harus dibayar.Masyarakat Adat dan Ruang Hidup yang TerdesakDampak pembangunan tidak hanya berhenti pada lingkungan. Di Papua, alam dan masyarakat adat adalah satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Hutan bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan ruang hidup, identitas, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.Ketika lahan adat masuk ke dalam wilayah proyek tanpa proses konsultasi yang memadai, yang hilang bukan hanya tanah, tetapi juga kedaulatan masyarakat atas ruang hidupnya. Banyak masyarakat adat dipaksa beradaptasi dengan perubahan yang tidak mereka rancang dan tidak sepenuhnya mereka pahami.Di titik ini, pembangunan menjadi persoalan keadilan. Mereka yang paling sedikit menikmati manfaat proyek justru sering menjadi pihak yang paling terdampak. Ketimpangan ini berpotensi memicu konflik sosial dan memperdalam rasa ketidakpercayaan terhadap negara.Bencana Bukan Sekadar MusibahSetiap kali bencana terjadi, respons yang muncul hampir selalu sama: bantuan darurat, rehabilitasi, lalu kembali ke rutinitas. Pendekatan ini penting, tetapi tidak cukup. Tanpa refleksi terhadap akar masalah, bencana hanya akan menjadi siklus yang berulang.PSN sebagai kebijakan nasional seharusnya tidak hanya diukur dari kecepatan realisasi dan nilai investasi. Ia juga perlu dinilai dari kemampuannya menjaga keseimbangan ekologis dan sosial. Ketika pembangunan mengabaikan daya dukung lingkungan, biaya yang muncul di kemudian hari justru jauh lebih besar—baik secara ekonomi maupun kemanusiaan.Bencana alam, dalam konteks ini, bukan hanya peristiwa alamiah. Ia adalah peringatan bahwa ada relasi yang timpang antara manusia, kebijakan, dan alam.Menjaga keseimbangan dalam pembangunan PapuaMengkritik PSN di Papua bukan berarti menolak pembangunan. Papua memang membutuhkan akses, layanan publik, dan peluang ekonomi yang lebih adil. Namun pembangunan yang terburu-buru dan abai terhadap konteks lokal berisiko menciptakan masalah baru yang lebih kompleks.Pembangunan yang berkelanjutan menuntut pendekatan yang lebih hati-hati: perencanaan berbasis lingkungan, pelibatan masyarakat adat secara bermakna, serta pengakuan bahwa tidak semua wilayah bisa diperlakukan dengan logika yang sama. Alam Papua memiliki batas, dan batas itu seharusnya menjadi pijakan kebijakan, bukan hambatan yang diabaikan.Jika pembangunan hanya mengejar target jangka pendek, maka bencana dan konflik akan menjadi warisan yang ditinggalkan. Namun jika alam diperlakukan sebagai bagian dari sistem, bukan sekadar objek, pembangunan justru bisa menjadi jalan menuju masa depan yang lebih aman dan adil.Papua tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan untuk membangun tanpa merusak fondasi kehidupan itu sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image