Aksen Feminis dalam Bahasa Media Sosial: Membaca Relasi Kuasa di Balik Tuturan Sehari-hari
Sastra | 2025-12-25 08:55:31
Aksen Feminis dalam Bahasa Media Sosial: Membaca Relasi Kuasa di Balik Tuturan Sehari-hari
Media sosial telah menjadi ruang komunikasi publik yang paling aktif dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Berbagai opini, emosi, dan identitas diekspresikan melalui bahasa yang digunakan pengguna dalam unggahan maupun kolom komentar. Bahasa di media sosial seringkali dipersepsikan sebagai sesuatu yang ringan, spontan, dan personal. Namun, jika ditinjau lebih jauh, bahasa tersebut menyimpan struktur sosial yang kompleks, termasuk relasi kuasa berbasis gender. Dalam konteks inilah aksen feminis menjadi penting sebagai alat analisis untuk membaca bagaimana bahasa sehari-hari mereproduksi atau menantang ketimpangan gender.
Dalam kajian sosiolinguistik feminis, bahasa dipahami bukan sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai praktik sosial yang sarat ideologi. Perbedaan cara bertutur antara perempuan dan laki-laki tidak muncul secara alamiah, tetapi dibentuk oleh konstruksi sosial yang berlangsung lama. Furfey (1994) menyatakan bahwa variasi bahasa berdasarkan gender mencerminkan pembagian peran sosial dalam masyarakat. Bahasa kemudian berfungsi sebagai medium yang merepresentasikan sekaligus mempertahankan struktur sosial tersebut.
Penelitian Deborah Tannen (1990) menunjukkan bahwa gaya bahasa perempuan kerap diasosiasikan dengan kesopanan, kehati-hatian, dan ekspresi emosional, sementara bahasa laki-laki dilekatkan pada ketegasan dan dominasi. Stereotipe ini tidak hanya memengaruhi cara individu berbicara, tetapi juga cara tuturan tersebut dinilai di ruang publik. Dalam media sosial, standar ganda ini tampak jelas ketika perempuan dianggap berlebihan atau “terlalu sensitif”, sementara tuturan keras dari laki-laki dipersepsikan sebagai hal yang wajar atau bahkan tegas.
Fenomena ini semakin diperkuat oleh karakteristik media sosial yang anonim dan minim kontrol sosial. Kolom komentar menjadi ruang di mana bahasa digunakan tanpa banyak pertimbangan etika. Banyak komentar yang dibungkus sebagai candaan, tetapi sesungguhnya mengandung bias gender. Komentar yang menyoroti tubuh, penampilan, atau mereduksi perempuan pada aspek fisik merupakan contoh bagaimana bahasa digunakan untuk mempertahankan posisi subordinat perempuan dalam wacana publik.
Dalam perspektif feminis, humor tidak selalu bersifat netral. Candaan dapat berfungsi sebagai strategi simbolik untuk menormalisasi relasi kuasa yang timpang. Ketika komentar seksis dikritik, respons yang sering muncul adalah tudingan bahwa pihak yang merasa dirugikan tidak memiliki selera humor. Pola ini menunjukkan bagaimana bahasa digunakan bukan hanya untuk menyampaikan pesan, tetapi juga untuk membungkam kritik dan mempertahankan dominasi simbolik.
Aksen feminis dalam analisis bahasa media sosial berfokus pada pembongkaran relasi kuasa yang tersembunyi di balik tuturan sehari-hari. Pendekatan ini menyoroti pilihan kata, penempatan subjek, serta konteks sosial yang melatarbelakangi sebuah ujaran. Bahasa yang tampak sederhana dapat mengandung makna ideologis yang kuat ketika ditempatkan dalam struktur sosial patriarkal. Oleh karena itu, analisis feminis tidak berhenti pada teks, tetapi juga mempertimbangkan siapa yang berbicara, kepada siapa, dan dalam situasi apa tuturan tersebut muncul.
Lebih jauh, bahasa di media sosial juga berperan dalam pembentukan identitas gender. Representasi perempuan dan laki-laki dalam wacana digital memengaruhi cara masyarakat memahami peran dan posisi gender. Ketika bahasa yang bias terus direproduksi, ketimpangan tersebut menjadi bagian dari kebiasaan komunikasi yang dianggap normal. Di sinilah media sosial berfungsi tidak hanya sebagai cermin realitas sosial, tetapi juga sebagai agen pembentuk realitas itu sendiri.
Namun demikian, media sosial juga memiliki potensi sebagai ruang resistensi. Banyak pengguna, terutama perempuan, mulai menggunakan bahasa sebagai alat perlawanan simbolik terhadap wacana yang menindas. Kritik terhadap komentar seksis, penggunaan bahasa inklusif, serta kampanye digital berbasis kesadaran gender menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi sarana emansipasi. Aksen feminis dalam bahasa tidak hanya membongkar ketimpangan, tetapi juga membuka kemungkinan terciptanya komunikasi yang lebih setara.
Pada akhirnya, membaca bahasa media sosial melalui kacamata feminis mengajak kita untuk lebih reflektif terhadap tuturan sehari-hari. Bahasa bukanlah sesuatu yang netral atau sepele. Setiap kata membawa makna sosial dan ideologis yang berdampak pada relasi antarindividu. Kesadaran terhadap aksen feminis dalam bahasa media sosial menjadi langkah awal untuk membangun ruang komunikasi digital yang tidak hanya bebas, tetapi juga adil dan beretika.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
