Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Imanina Chairani Siregar

Emotional Loneliness: Ketika Notifikasi Selalu Ada, Tapi Tempat Cerita Tidak

Gaya Hidup | 2025-12-25 00:48:14

Di tengah notifikasi yang terus muncul tanpa henti, kita hidup di dunia yang tampak ramai. Grup chat yang ramai, notif media sosial yang bermunculan, dan komunikasi yang terasa sangat mudah. Namun, di balik suara notif yang berisik, ada perasaan yang diam-diam tumbuh dan merambat di dalam: rasa sepi. Ini bukan sepi karena sedang sendiri, melainkan sepi yang muncul saat berada di tengah keramaian.

Fenomena ini kerap membuat seseorang bertanya-tanya kepada diri sendiri. Bagaimana mungkin ia merasa kesepian padahal ia dikelilingi banyak orang? Dalam psikologi, perasaan ini dikenal sebagai Emotional Loneliness, yaitu perasaan tidak terhubung secara emosional meskipun secara sosial seseorang memiliki relasi yang banyak. Rasa kesepian ini tidak diukur dari seberapa banyak orang yang ia kenal, namun dari kualitas kedekatan orang tersebut dengan relasinya.

Di masa kini yang serba digital, hubungan sering kali terjadi dengan cepat tetapi tidak begitu dalam. Kita saling mengetahui kabar, mengikuti aktivitas orang lain, bahkan merasa terhubung hanya karena terus berinteraksi. Namun, keintiman secara emosional tidak bisa dicapai hanya dengan respons singkat atau kehadiran virtual. Kita butuh ruang yang aman untuk bersikap jujur, didengar, dan dipahami tanpa takut dihakimi. Sayangnya, masyarakat sekarang cenderung mendorong setiap orang untuk terus menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.

Media sosial menjadi tempat di mana kebahagiaan, kemampuan, dan pencapaian lebih sering ditampilkan dibandingkan rasa sedih atau lemah. Karena itu, banyak orang memilih untuk menyembunyikan perasaannya. Tidak berbicara dianggap lebih aman daripada berisiko dianggap tidak kuat, berlebihan, atau mengganggu orang lain.

Kesepian yang terjadi dalam jiwa selama waktu lama bisa memengaruhi pikiran seseorang. Mungkin ia merasa hampa, mental nya mudah terganggu, atau merasa tidak ada satu orang pun yang benar-benar mengerti dirinya. Perasaan ini sering kali tidak disadari sebagai kesepian, karena dari luar, kehidupan sosial tetap terlihat sebagaimana biasa. Namun di dalam diri, jarak antara dirinya dengan orang lain semakin membesar.

Kondisi merasa sepi di tengah keramaian juga memaksa kita untuk mengecek diri. Apakah kita sungguh hadir dalam pertemanan atau hanya sekadar terlibat secara luar biasa? Apakah kita punya ruang untuk menjadi diri sendiri, atau justru membangun tembok demi menyesuaikan diri dengan harapan orang lain?

Pada akhirnya, mungkin yang diperlukan bukanlah banyak relasi, melainkan teman yang lebih bermakna. Satu hubungan yang membuat kita merasa aman untuk diceritakan dan dipahami seringkali lebih berharga daripada banyak kenalan tanpa ikatan perasaan. Di tengah dunia yang semakin ramai, kebutuhan akan kehadiran yang tulus justru semakin terasa penting.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image