Wangi Kopi Rahtawu : Bisnis Jujur, Hati Tenang, Rezeki Berkah
Ekonomi Syariah | 2025-12-24 23:58:51Siapa yang tidak kenal Desa Rahtawu? Desa di lereng Gunung Muria, Kudus ini tidak hanya memiliki pemandangan indah, tapi juga hasil kopi yang jempolan. Namun, ada satu hal yang lebih menarik dari sekadar rasa kopinya, yaitu cara warga di sana berjualan. Di desa ini, transaksi jual beli bukan sekedar menukar barang dengan uang, tapi soal menjaga amanah.
“Pesan Dulu, Bayar Dulu ” ala Warga Rahtawu
Salah satu keunikan di Rahtawu adalah kebiasaan pembeli (biasanya tengkulak) memberikan uang di awal, sementara kopinya baru akan diserahkan nanti saat sudah panen. Dalam istilah agama, ini disebut Akad Salam .
Mungkin bagi sebagian orang, cara ini terlihat berisiko. Tapi bagi petani Rahtawu, sistem ini adalah penolong. Petani dapat modal lebih cepat, dan pembeli dapat menjamin barang. Hebatnya, meski banyak yang hanya berjanji lewat kata-kata karena sudah saling kenal, para tengkulak besar tetap rajin membuat catatan. Ini membuktikan bahwa kejujuran tetap harus dibarengi dengan kerapian administrasi agar tidak ada yang bingung di kemudian hari.
“ Rahasianya Ada di "Suka Sama Suka"
Kenapa sistem ini awet? Jawabannya sederhana: jujur dan tanpa paksaan . Warga Rahtawu menanamkan aturan jual beli Islam dengan cara yang sangat membumi:
· Orangnya Jelas: Penjual dan pembeli sama-sama dewasa dan sadar penuh, bukan anak kecil yang asal main transaksi.
· Barangnya Jelas: Kopi yang dijual sesuai dengan kesepakatan kualitasnya.
· Kesepakatannya Jelas: Tidak ada yang disembunyikan (tidak ada unsur tipu-tipu).
Inilah yang membuat bisnis kopi di sana tidak hanya menguntungkan secara uang, tetapi juga menjalin hubungan tetangga yang semakin baik. Tidak ada yang merasa dirugikan, semuanya berjalan di atas dasar rela sama rela.
Tantangan di Zaman Baru
Meski sudah berjalan sangat baik, tantangan tetap ada. Di masa depan, sekadar "percaya" mungkin memerlukan dukungan tambahan. Masyarakat perlu mulai memanfaatkan teknologi sederhana—seperti catatan digital atau bukti transaksi yang lebih rapi—untuk menjaga keadilan tetap tegak. Jangan sampai karena urusan lupa mencatat, persaudaraan jadi retak.
Teladan dari Desa untuk Kita Semua
Apa yang dilakukan warga Rahtawu adalah bukti nyata bahwa berbisnis sesuai aturan agama itu tidak ribet. Kuncinya hanya satu: transparan . Jika semua transaksi dilandasi kejujuran dan saling rida, maka ekonomi akan kuat dan hidup pun jadi berkah.
Desa Rahtawu sudah memberi contoh. Bahwa dari secangkir kopi, kita bisa belajar cara berbisnis yang adil dan memanusiakan manusia.
Nama : Nairul wulansari
Prodi : Perbankkan Syari'ah
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
