Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Annisa Khairani Ritonga

Peran Self-Compassion dalam Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis Remaja

Eduaksi | 2025-12-24 21:11:43

Masa remaja adalah masa yang sangat penting dalam perkembangan seseorang, di mana terjadi berbagai perubahan fisik, perasaan, dan hubungan sosial. Pada masa ini, remaja sering menghadapi tekanan dari belajar, harapan lingkungan sekitar, dan usaha mencari jati diri. Hal ini bisa menyebabkan stres, kecemasan, bahkan depresi. Menurut data dari lembaga kesehatan, gangguan mental pada remaja menjadi salah satu penyebab utama masalah kesehatan di dunia. Oleh karena itu, penting untuk memiliki cara adaptif yang dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan mental remaja.

Salah satu cara yang kian diperhatikan dalam bidang psikologi adalah self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri.

Self-compassion adalah kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri dengan penuh kasih, pemahaman, dan tanpa menghakimi saat menghadapi kesalahan atau kesulitan. Pendekatan ini dianggap lebih sehat dibandingkan dengan sikap mengkritik diri sendiri yang terlalu keras.

Penelitian terbaru dari tahun 2020 hingga 2025 menunjukkan bahwa remaja dengan self-compassion tinggi lebih mampu menghadapi stres, kecemasan, dan depresi.

Mereka cenderung lebih sehat secara mental dan bisa menghadapi masalah dengan cara yang lebih bijak. Menurut Kristin Neff, pendiri konsep self-compassion, ada tiga bagian utama dalam sikap ini.

Pertama adalah kebaikan diri sendiri, yang berarti sikap lembut dan perhatian terhadap diri sendiri ketika menghadapi kesulitan. Remaja dengan kebaikan diri sendiri tidak terjebak dalam rasa bersalah yang berlebihan saat gagal, melainkan bisa mendorong diri untuk bangkit dan belajar dari pengalaman.

Kedua adalah common human, yaitu pemahaman bahwa kesedihan atau kesusahan adalah bagian dari pengalaman manusia yang umum. Dengan kesadaran ini, remaja tidak merasa sendirian ketika mengalami masalah, sehingga bisa mengurangi rasa tertinggal atau terasing yang bisa membantu kondisi mental.

Ketiga adalah mindfulness, yaitu kemampuan untuk menyadari dan menerima perasaan negatif secara seimbang, tanpa terlalu menghargainya atau menekannya.

Mindfulness membantu remaja menjaga stabilitas emosi dan menghindari pikiran yang terlalu berlebihan yang dapat merugikan.

Ketiga komponen tersebut saling bekerja sama dan membentuk cara berpikir serta berperilaku yang lebih sehat ketika menghadapi tekanan dalam kehidupan. Berbagai penelitian menyatakan bahwa remaja yang memiliki tingkat self-compassion yang tinggi cenderung bisa mengelola perasaan mereka dengan lebih baik, tahan terhadap tekanan, dan merasa lebih bahagia dalam hidup. Bahkan, penelitian di bidang neuropsikologi menunjukkan bahwa self-compassion terkait dengan pengaktifan area otak yang berperan dalam mengatasi stres dan merasakan empati, sehingga memperkuat dasar biologi manfaat yang diberikan.

Bukti-bukti dari para peneliti menunjukkan bahwa peran self-compassion terhadap kesejahteraan psikologis remaja konsisten.

Penelitian terhadap remaja yang berasal dari keluarga yang tidak utuh menunjukkan hubungan yang positif dan signifikan antara self-compassion dengan tingkat kebahagiaan subjektif. Temuan serupa juga hadir pada remaja yang mengalami dampak negatif terhadap bentuk tubuh mereka, di mana self-compassion terbukti dapat mengurangi kecemasan sosial, meminimalkan perasaan terasing, serta meningkatkan kesejahteraan secara umum.

Self-compassion membantu remaja dengan beberapa cara yang penting.

Pertama, sikap ini mampu menahan respons terhadap stres, memberi waktu bagi individu untuk menyadari perasaan negatif tanpa menyalahkan diri sendiri yang memaafkan kondisi emosionalnya. Kedua, self-compassion mendorong motivasi batin untuk memperbaiki diri, bukan karena rasa malu atau ketakutan akan kegagalan. Ketiga, self-compassion membantu remaja merasa terhubung dengan orang lain karena mereka menyadari bahwa kesulitan yang dialami bukanlah hal yang unik dan merupakan bagian dari pengalaman manusia secara umum.

Selain itu, self-compassion juga berperan dalam mengurangi risiko depresi dan gangguan kecemasan yang terjadi cukup banyak di kalangan remaja. Dengan kemampuan mengelola emosi yang lebih baik, remaja dapat menghadapi masalah sehari-hari dengan mental yang lebih kuat dan stabil. Dengan demikian, peningkatan self-compassion memiliki potensi besar menjadi dasar strategi pencegahan gangguan kesehatan mental yang efektif dan berkelanjutan. Dalam konteks yang lebih luas, self-compassion juga dapat terlibat dalam pendidikan kesehatan mental.

Literasi kesehatan mental mencakup pengetahuan, sikap, dan kemampuan untuk mengenali, mencegah, serta mencari bantuan terkait masalah kesehatan mental. Dengan menambahkan self-compassion dalam pendidikan ini, fokus edukasi tidak hanya mencakup pengenalan gangguan mental, tetapi juga melatih keterampilan praktis dalam merawat diri secara emosional.

Pengembangan program pendidikan di sekolah atau komunitas yang menggabungkan pelatihan kepedulian terhadap diri sendiri, kesadaran diri, serta pemahaman bahwa semua orang mengalami kesulitan dalam hidup, dianggap sangat efektif.

Program ini dapat dilakukan melalui workshop, pelatihan berbasis kesadaran diri, dan bimbingan psikologis yang menanamkan praktik self-compassion dalam kehidupan sehari-hari. Upaya ini juga membantu mengurangi stigma yang masih kuat terhadap isu kesehatan mental di masyarakat.

Dengan literasi kesehatan mental yang berbasis self-compassion, remaja dapat memiliki kemampuan untuk merawat diri, mengenali kapan mereka membutuhkan bantuan dari pihak profesional, serta mengurangi rasa malu dan takut mencari pertolongan. Jika diterapkan secara jangka panjang, pendekatan ini berpotensi meningkatkan kesejahteraan psikologis secara kolektif dan membentuk budaya kesehatan mental yang lebih baik dan mendukung.

Pada akhirnya, self-compassion terbukti menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan mental remaja. Dengan nada lembut terhadap diri sendiri, memahami bahwa kesedihan adalah bagian dari kehidupan manusia, serta memiliki kepekaan emosional yang seimbang, remaja dapat mengelola stres, kecemasan, dan depresi dengan lebih baik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa self-compassion tidak hanya membuat seseorang merasa lebih bahagia, tapi juga melindungi mereka dari masalah kesehatan mental. Oleh karena itu, membangun pemahaman tentang kesehatan mental yang melibatkan self-compassion menjadi penting untuk memperkuat ketahanan mental generasi muda di tengah tantangan psikologis sekarang dan di masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image