Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dhia Disti

Tempoyak Rasa Asam yang Menyimpan Cerita Panjang Tanah Jambi

Kuliner | 2025-12-15 00:02:58
sumber : myzanjourney

Aroma durian yang menyengat perlahan berubah ketika waktu bekerja. Dari buah yang manis dan legit, durian mengalami fermentasi hingga menghasilkan rasa asam yang tajam, khas, dan tak mudah dilupakan. Inilah tempoyak, salah satu makanan tradisional yang menjadi identitas kuliner masyarakat Jambi.

Tempoyak lahir dari kebutuhan sederhana masyarakat Melayu di Sumatra, termasuk Jambi, untuk mengawetkan durian pada musim panen yang melimpah. Di masa lalu, ketika lemari pendingin belum dikenal, fermentasi menjadi cara paling masuk akal agar durian bisa dinikmati lebih lama. Daging durian disimpan dalam wadah tertutup, dibiarkan berhari-hari hingga berubah rasa dan tekstur. Dari proses alami inilah tempoyak tercipta.

Bagi masyarakat Jambi, tempoyak bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari keseharian. Ia hadir di meja makan sebagai sambal, campuran gulai ikan patin, hingga pelengkap nasi hangat. Rasa asam yang kuat berpadu dengan gurihnya rempah, menciptakan sensasi yang mungkin terasa ekstrem bagi sebagian orang, tetapi justru menjadi kelezatan bagi mereka yang terbiasa.

Cita rasa tempoyak khas Jambi cenderung lebih seimbang. Keasaman yang dihasilkan dari fermentasi tidak berdiri sendiri, melainkan diimbangi dengan cabai, bawang, dan rempah lokal. Saat dimasak bersama ikan sungai, tempoyak menyerap aroma amis sekaligus memperkaya rasa kuah. Asamnya tidak sekadar menusuk lidah, tetapi perlahan menyebar, meninggalkan rasa segar dan hangat.

Di balik keunikannya, tempoyak juga menyimpan nilai budaya. Proses pembuatannya sering dilakukan bersama, terutama saat musim durian tiba. Aktivitas mengolah durian menjadi tempoyak menjadi ruang kebersamaan, tempat cerita dan tawa dibagikan. Dari dapur rumah hingga acara adat, tempoyak menjadi simbol kecermatan masyarakat dalam mengolah alam tanpa menyia-nyiakan hasilnya.

Seiring waktu, tempoyak tetap bertahan meski selera masyarakat terus berubah. Di tengah maraknya kuliner modern, tempoyak justru menemukan ruangnya sendiri sebagai penanda identitas. Ia tidak berusaha menyesuaikan diri dengan lidah semua orang, tetapi setia pada rasa aslinya—asam, tajam, dan jujur.

Tempoyak mengajarkan bahwa cita rasa bukan sekadar soal enak atau tidak, melainkan tentang sejarah dan cara hidup. Dari fermentasi sederhana lahir sebuah makanan yang merekam kebiasaan, lingkungan, dan kearifan lokal masyarakat Jambi. Dalam setiap sendok tempoyak, tersimpan cerita panjang tentang bagaimana manusia berdamai dengan alam dan waktu.

Penulis : Dhia Disti Salsabila

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image