Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dhia Disti

Colenak Sajian Sederhana yang Menyimpan Panjangnya Sejarah

Kuliner | 2025-12-14 23:18:28
sumber : www.gotravelly.com

Di pinggir jalan raya yang sealalu ramai pastinya Jalan Raya Cibiru, asap arang mengepul pelan dari tungku kecil di depan sebuah kedai sederhana.Aroma tape singkong yang dibakar menguar, menyatu dengan wangi gula merah cair yang hangat. Di momen seperti inilah, waktu seolah berjalan lebih pelan, membawa ingatan pada satu babak panjang sejarah kuliner Bandung yang masih bertahan hingga hari ini, colenak.

Colenak merupakan singkatan dari “dicocol enak”, sebuah istilah yang lahir dari celetukan spontan para noni dan meneer Belanda pada masa kolonial saat mencicipi peuyeum bakar khas Sunda. Pada sekitar tahun 1930-an, seorang penjual bernama Pak Murdi mulai menjajakan tape singkong bakar yang disajikan bersama saus gula merah dan parutan kelapa. Sajian yang tampak sederhana ini justru menghadirkan perpaduan rasa yang kuat manis, gurih, sedikit asam dengan aroma bakar yang khas dan membekas.

Eksistensi colenak terus berlanjut dari generasi ke generasi. Bahkan, kuliner ini pernah dikenal sebagai salah satu sajian lokal yang hadir dalam perhelatan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung. Sejak saat itu, colenak tidak lagi dipandang sekadar sebagai jajanan pinggir jalan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas rasa kota Bandung.

Hingga kini, colenak masih dapat ditemui di beberapa tempat legendaris di Bandung, salah satunya kedai yang dikelola oleh keluarga Pak Murdi. Usaha tersebut kini diteruskan oleh anaknya, yang setiap hari menjaga tungku tetap menyala dan mempertahankan resep turun-temurun. Di tengah gempuran kuliner modern, colenak tetap dijual dengan cara yang nyaris sama seperti puluhan tahun lalu.

“Colenak itu bukan cuma makanan, tapi bagian dari perjalanan keluarga kami,” ujar Dadan, salah satu anak Pak Murdi, sambil terus mengaduk saus gula merah di atas api kecil. Ia menuturkan bahwa resep colenak tidak banyak berubah sejak dulu. “Yang berubah itu paling siapa yang jaga tungkunya,” katanya sambil tersenyum.

Menariknya, colenak kini juga diminati generasi muda. Banyak anak muda datang bukan hanya untuk mencicipi rasanya, tetapi juga karena cerita di baliknya. Menurut Dadan, banyak pelanggan muda menyebut colenak sebagai makanan nostalgia, meski mereka belum mengalami langsung masa ketika colenak pertama kali dijual oleh ayahnya.

Dari segi bahan, colenak memang tidak rumit. Peuyeum atau tape singkong dipilih yang tidak terlalu lembek agar tetap kokoh saat dibakar. Gula merah dilelehkan hingga mengental, lalu dicampur kelapa parut untuk menghasilkan rasa gurih yang seimbang. Proses pembakaran di atas arang memberi sentuhan aroma karamel yang khas, membungkus rasa manis dan asam dalam satu gigitan hangat.

Tekstur colenak lembut dan sedikit lengket, dengan saus manis yang tidak berlebihan. Sajian ini paling nikmat disantap selagi hangat, dicocol perlahan, dan dinikmati tanpa terburu-buru. Kesederhanaan rasa inilah yang membuat colenak tetap bertahan, bahkan ketika selera pasar terus berubah.

Di tengah maraknya kuliner kekinian, colenak hadir sebagai pengingat bahwa makanan bukan hanya soal tren, tetapi juga soal ingatan dan warisan. Di kedai kecil di Cicadas itu, tungku masih terus menyala. Selama api dijaga dan resep dipertahankan, colenak akan tetap hidup—menyimpan panjangnya sejarah dalam setiap cocolan rasa.

Penulis : Dhia Disti Salsabila

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image