Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Al-Ghazy

Menunda-nunda: Kebiasaan Kecil yang Menggerogoti Masa Depan

Curhat | 2025-12-14 22:26:35

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, ironi terbesar justru muncul dari hal yang paling pelan yaitu penundaan. Kita menyebutnya “nanti saja”, “sebentar lagi,” “besok pagi” atau dalam istilah akademiknya yaitu prokrastinasi. Kata yang tampak rumit ini pada dasarnya bermakna cukup sederhana yaitu kita menunda apa yang semestinya dikerjakan saat ini. Fenomena menunda-nunda bukan sekadar kebiasaan buruk. Ia adalah pola piker struktur mental, bahkan budaya yang tanpa sadar telah kita warisi dan rawat. Penundaan bukan hanya masalah manajemen waktu, tetapi masalah keberanian menghadapi diri sendiri.Prokrastinasi seringkali berakar dar emosi. Bukan karena kita tidak mampu tetapi karena pekerjaan itu menimbulkan keemasan tertentu antara memang takut gagal atau bahkan takut tidak semputna. Penelitian oleh Timothy A. Pychycl dari Carleton University (2013) menunjukan bahwa prokrastinasi adalah strategi penghindaran emosi bukan masalah disiplin. Kita menunda bukan karena malas, tetapi karena ingin menghindari perasaan tidak nyaman yang muncul ketika berhadapan dengan tugas. Dengan kata lain penundaan adalah penyelamat semu. Ia memberi kenyamanan sesaat, tetapi menghadiahkan stress yang lebih besar di kemudian hari. Dalam konteks sosial-budaya Indonesia, fenomena ini sering dipoles dengan humor: “Besok masih bisa,” “Nanti juga beres,” atau “Santai, bro.” Tetapi humor itu, seperti yang dikritik banyak penulis muda kontemporer, hanyalah perban untuk luka yang lebih dalam: ketidakmampuan mengelola prioritas.Budaya menunda tidak hanya milik individu; ia merebes ke dalam sistem sosial. Dari birokrasi yang lambat, pekeraan yang selesai lewat tenggat, sampai kebiasaan rapat yag “jam karet” semua dalah contoh betapa penundaan bias menjadi idantitas yang di wariskan. Bahkan dalam lingkup akademik, mahasiswa seringkali mengerjkan skripsi hanya ketika tenggat menabrak dinding. Ini sejalan dengan temuan steel (2007) dalam “The Nature of Procrastination” bahwa prokrastinasi meningkat ketika tugas besar terasa ambigu, tidak terstruktur dan berat secara emosional. Dan dititik ini penundaan berubah dari kebiasaan menjadi sistem hidup.Menurut Daniel H. Pink dalam bukunya When : The Scientific Secrets of Perfect Timing (2018) menusia bekerja paling baik bukan ketika ada waktu luang, tetai ketika ada momentum datanng ketika kita mulai. Dan memulai tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Terkadang cukup dengan hal yang kecil seperti buka laptop lalu menuliskan satu paragraph atau bahkan sekadar merapikan meja belajar itu adalah aksi kecil mematahkan lingkaran prokrastinasi.Menunda adalah seni menipu diri sendiri. Kita mencuri waktu dari masa depan tanpa menyadarinya. Lalu suatu hari kita menoleh ke belakang dan bertanya: Ke mana saja waktu itu pergi? Jawabannya sederhana: waktu itu hilang di sela-sela penundaan kita. Maka, hidup memerlukan keberanian kecil setiap hari. Keberanian untuk memulai, keberanian untuk gagal, keberanian untuk mencoba lagi. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang menunggu waktu yang tepat tetapi tentang membuat waktu itu menjadi tepat. Dan semua itu dimulai dari satu langkah kecil yang kamu pilih untuk lakukan hari ini.

Oleh : Muhamad Shafwan Al-Ghazy/KPI VA

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image