Multitasking: Skill Andalan atau Justru Pembunuh Fokus?
Eduaksi | 2025-12-01 09:46:46
Pendahuluan
Di era sekarang, banyak orang merasa bangga bisa multitasking. Kemampuan ini sering dianggap tanda seseorang produktif, cekatan, dan punya banyak kemampuan. Ngerjain tugas sambil dengerin lagu, belanja online sambil nge-cek keuangan, bahkan cuci baju sambil ikut kuliah online, semuanya dianggap keren. Tapi sebenarnya apa benar kita bisa multitasking?
Penjelasan Utama
Kenapa Ada Orang yang Terlihat Cocok Multitasking?
Faktanya, ada sebagian kecil orang yang memang tampak “cocok” multitasking. Bukan karena otaknya bekerja dua kali lebih cepat, tapi karena mereka memiliki kapasitas kognitif yang berbeda dari kebanyakan orang. Penelitian menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kapasitas memori kerja yang berbeda. Nah, orang multitasking ini biasanya memiliki memori kerja yang lebih kuat, sehingga mampu menyimpan dan mengolah beberapa informasi dalam satu waktu. Akibatnya mereka jauh lebih fokus, lebih tahan terhadap distraksi, lebih cepat pindah tugas (task switching), dan lebih stabil dalam menghadapi situasi padat.
Selain itu, sebagian orang memang punya kecenderungan kerja yang disebut polikronik, yaitu mereka merasa nyaman melakukan beberapa aktivitas sekaligus. Karena gaya kerjanya cocok, multitasking mereka cenderung lebih baik. Penilaian diri yang realistis juga menjadi alasan kenapa seseorang punya performa baik dalam multitasking. Orang ini tahu kapan mereka harus multitasking dan kapan tidak. Mereka memahami batas energinya, dan memilih multitasking hanya ketika tugasnya memungkinkan (Pollard & Courage, 2017).
Kenapa Sebagian Besar Orang Sebenarnya Tidak Bisa Multitasking?
Namun, meskipun ada sebagian kecil orang yang “cocok” multitasking, ternyata mayoritas manusia sebenarnya tidak dirancang untuk memproses dua tugas berat secara bersamaan. Secara umum, otak manusia hanya bisa memberikan fokus penuh pada satu atau dua tugas pada saat waktu. Artinya, mau sebanyak apa pun pekerjaan yang bisa kita lakukan dalam satu waktu, hanya satu atau dua tugas saja yang bisa mendapat fokus kita secara menyeluruh (Nabila et al., 2023). Ketika kita memaksa otak untuk “mengerjakan” banyak hal sekaligus, yang sebenarnya terjadi adalah perpindahan fokus yang sangat cepat, bukan benar-benar bekerja searah.
Dampak Multitasking
Dalam penelitian psikologis, proses ini disebut task switching, dan pergantian tugas yang terus menerus inilah yang menciptakan beban mental besar. Akibatnya, multitasking dapat menyebabkan:
- Meningkatkan beban besar pada memori kerja
- Perhatian yang mudah teralihkan
- Terganggunya kualitas dan kinerja tugas
- Hilangnya sebagian informasi penting
- Kelelahan mental dan stres
- Meningkatkan risiko kesalahan dan kegagalan dalam melakukan suatu pekerjaan
Multitasking di Indonesia
Fenomena multitasking sendiri bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami oleh banyak negara dengan cara dan dorongan yang berbeda-beda. Di Indonesia, pola multitasking memiliki ciri khas tersendiri. Pelajar Indonesia sudah terbiasa dengan jadwal yang padat, mulai dari sekolah, les, tugas, hingga kegiatan lain. Tekanan untuk selalu bergerak cepat membuat multitasking terasa seperti kebutuhan, bukan pilihan. Dalam penggunaan gadget, masyarakat Indonesia cenderung tidak memiliki regulasi waktu, sehingga dapat memperburuk situasi, seperti notifikasi yang bisa muncul kapan saja dan mengganggu konsentrasi.
Berbeda dengan beberapa negara seperti Korea Selatan dan Singapura, pembatasan dalam akses gadget sudah diterapkan, atau Amerika dan negara Eropa yang memberikan literasi mengenai teknik single-tasking seperti time-block dan deep work, Indonesia masih memiliki pemahaman yang minim tentang metode fokus yang efektif. Di sisi lain, tekanan sosial akademik juga cukup tinggi, di mana para pelajar dituntut untuk memiliki nilai bagus, aktif organisasi, prestasi, lomba, hingga branding di media sosial. Semua itu dilakukan karena ada anggapan bahwa seseorang yang melakukan banyak hal akan terlihat keren, produktif, dan inspiratif. Muncul pula keyakinan bahwa “produktif = sibuk”, padahal yang lebih tepat adalah “produktif = fokus”.
Karena itu, multitasking bukan lagi hal yang aneh bagi masyarakat Indonesia. Ia telah menjadi sesuatu yang normal, bahkan dianggap wajar, meskipun dampaknya tidak selalu positif.
Strategi Agar Tetap Produktif Tanpa Terjebak Multitasking
Pertanyaannya, bagaimana sih caranya supaya kita tetap produktif tanpa jatuh ke perangkap multitasking ini?
Ada beberapa teknik yang bisa membantu meningkatkan fokus dan menjaga keseimbangan mental kalian:
- Single tasking, yaitu mengerjakan satu tugas dengan perhatian penuh untuk mendapatkan hasil maksimal.
- Manajemen waktu, seperti membuat target dan menentukan prioritas harian.
- Teknik Pomodoro, bekerja dalam waktu fokus 25 menit diselingi istirahat singkat 5 menit.
- Mengaktifkan mode fokus HP agar tidak mudah ter distraksi.
- To-do list, untuk menjaga alur kerja dan memastikan tidak ada tugas yang terlewat.
- Istirahat cukup, untuk memulihkan energi mental demi menjaga fokus.
- Batasi notifikasi, khususnya dari aplikasi yang tidak penting.
Walaupun begitu, multitasking tidak selalu buruk kok. Ada situasi tertentu di mana multitasking masih bisa dilakukan, terutama jika aktivitasnya masih bersifat ringan dan tidak membutuhkan tingkat kefokusan yang tinggi, misalnya belajar sambil dengerin lagu atau nyapu sambil dengerin podcast. Aktivitas seperti ini masih sejalan sehingga tidak mengganggu fokus. Hindari melakukan multitasking untuk aktivitas berat seperti membaca materi baru, menghafal, atau memahami konsep sulit.
Kesimpulan
Pada akhirnya, fokus tetap menjadi kunci utama dalam menghasilkan kualitas pekerjaan yang baik. Multitasking bukan musuh, tetapi juga bukan jalan pintas menuju produktivitas. Ia hanya bisa bekerja ketika waktunya tepat dan bebannya ringan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita mengelola perhatian, karena produktif bukan berarti sibuk, tetapi mampu memberikan fokus penuh pada hal yang benar-benar penting.
Referensi
Nabila, S., Ain, I. Q., & Asbari, M. (2023). Monotasking: Solusi Distraksi Era Modern. Journal of Information Systems and Management (JISMA), 2(5), 73–80.
Pollard, M. A., & Courage, M. L. (2017). Working memory capacity predicts effective multitasking. Computers in Human Behavior, 76, 450–462. https://doi.org/10.1016/j.chb.2017.08.008
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
