Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Puja Anggita Alvianida

Beranjak untuk Menemukan

Ekspresi | 2025-11-28 17:12:18

Berat sekali rasanya meninggalkan banyak hal yang kau sayangi. Hampa bukan lagi sekadar mitos belaka, sunyi mampu mengitari tanpa rasa peduli, rindu mengambil alih ruang – ruang kosong yang tak berpenghuni. Tak pernah ku sangka, pergi jauh untuk mewujudkan mimpi akan semenakutkan ini. Ibu berkata, “Ini sudah menjadi pilihanmu, Nak”. Memang benar, Ibu tidak keliru. Tapi, apakah ada yang memberi tahu kepada ku sebelumnya bahwa tidak berada di sisi Ibu adalah hal yang sangat menyulitkan?

Rasanya, aku belum sempat membuat upacara perpisahan yang layak dengan Tangerang. Kepada angin, kepada warung soto favoritku, kepada bapak penjual bubur ayam yang ku doakan agar mendapat pahala melimpah karena telah menciptakan makanan se luar biasa itu. Sejenak setelah aku diumumkan lolos seleksi perguruan tinggi yang berlokasi di Surabaya, aku merenung. Apakah Ia akan menyambutku dengan istimewa? Apakah cuaca yang dikabarkan banyak orang tentangnya akan membakar habis diriku? Atau justru itu adalah bentuk cintanya yang lain? Yang tidak semua orang mampu memahaminya.

Sebelum beranjak, aku diam – diam memotret banyak memori di kota lama ku itu. Tiap – tiap sudut di sekolah, doa – doa panjang yang dilontarkan oleh ibu bapak guru, ramai tawa teman – teman ketika aku memberi candaan lucu yang tidak jarang terdengar aneh, hingga mengingat berapa kali aku ketiduran ketika naik transportasi umum. Semua itu aku simpan rapi dalam kotak kecil memori, berjaga – jaga khawatir lupa. Karena itu adalah musuh besar manusia.

Sisa hariku di Tangerang terasa makin berat, bukan karena aku akan pergi dan meninggalkannya, tetapi fakta bahwa nantinya ketika aku kembali, aku hanya akan menjadi pendatang yang singgah beberapa hari, lalu kembali melanjutkan mimpi. Jika semesta menawarkan kekuatan apa yang ingin ku miliki, aku akan dengan lantang menjawab freezing time. Karena yang terlintas di benakku adalah “apakah manusia memang tidak diizinkan untuk berhenti sejenak dan menikmati momen yang membuat hatinya penuh dan utuh?”.

Jika boleh jujur, hatiku berat bukan hanya karena akan meninggalkan kota tempatku bertumbuh saja. Yang sebenarnya paling berat adalah meninggalkan rumah beserta para tokoh yang mengisinya. Di sana, ibuku lah tokoh utamanya. Ia memiliki peran paling signifikan dalam pementasan hidupku. Aku tidak bisa membayangkan menghadapi hari – hari berat itu tanpa dirinya di sisiku.

Tiket sudah dipesan, pakaian sudah dikemas, berpamitan sudah dilakukan. Namun, ternyata aku lupa menyiapkan hati yang lapang. Pikirku tak apa meninggalkan kota istimewa itu hanya 4 tahun saja, nanti juga akan kembali. Itu semua tak bertahan lama sampai roda kereta berputar, tangisku pecah seketika. Bingung, takut, hampa semua menyatu bagai ramuan penyihir yang siap menghancurkan manusia ketika tak sengaja menyentuhnya. Tetapi dunia memang kejam, tidak pernah mau sedikitpun memikirkan perasaan manusia. Ia tidak memberikan waktu lebih lama untuk ku menerima semuanya. “Waktu tidak akan menunggumu siap, kau yang harus segera berkemas, bersiap untuk semua kemungkinan yang akan terjadi di depan sana”. Ya, dunia seakan bergumam begitu.

814 km ku tempuh selama 12 jam, cukup lama untuk membuatku tertidur lalu terbangun lalu tertidur lagi. Hingga akhirnya, patung hiu dan buaya terlihat di kejauhan. Aku sudah tiba. Untuk pertama kalinya, aku melangkah di Surabaya sendirian. Tanpa teman SMA, dan yang paling menyakitkan, tanpa ibu di sisi ku. Aku memesan ojek online menuju rumah baruku. Rumah yang akan ku jadikan sebagai tempat pulang, tempat beristirahat, dan tempat memupuk rindu.

Akan ku peringatkan padamu, hari – hari berikutnya adalah hari terberat dalam hidupku. Menyiapkan bekal sendiri, bangun tidur tanpa ada alarm suara ibu, gagal dan berhasil mengerjakan tugas, hingga berjalan menuju kantin sendirian. Tak jarang aku bepergian untuk sekadar mencari udara segar, untuk berpikir lebih rasional, atau memandangi keluarga yang sedang makan bersama, berharap aku yang ada di sana. Tiada hari tanpa memikirkan masa depanku. Apakah aku akan merasa hidup di sini? Atau aku hanya akan berusaha betahan hidup? Namun, mereka bilang hidup adalah tentang perjuangan. Tetapi menurutku, aku adalah seburuk – buruknya pejuang. Aku kalah. Setidaknya itu ucapan paling jujur yang bisa ku katakan. Ku harap Ibu tidak mengetahuinya.

Kota baru, cuaca baru, makanan baru, bahasa baru, orang – orang baru. Dalam beberapa kesempatan, Surabaya ternyata menyimpan kehangatan. Tanpa aku meminta, bapak supir ojek online langsung memberi tahu lokasi mana saja yang bagus untuk dijelajahi. Bahkan, ketika aku sampai dan kesulitan menaiki koper pakaian ke bagasi mobil, banyak orang yang membantu tanpa pamrih, mereka hanya tulus membantuku. Bu, aku ingin memperkenalkan orang – orang baik ini padamu. Kini warung soto favoritku berubah jadi warung rawon hitam pekat yang gurihnya tiada tanding. Tawa teman – teman yang ku dengar dahulu, kini tetap bisa ku dengar dalam wujud yang lain. Langit jingga yang perlahan menyemburkan indahnya menjadi santapan mataku setiap harinya. Surabaya indah, Bu.

Sejenak ku sadari, betapa tidak adilnya diriku jika hanya mengenang dan berkutat pada apa yang telah berlalu. Aku juga harus berbagi kasih dan merayakan apa yang ada di depan mata. Ku rasa, aku hanya perlu bersabar sedikit lagi, mimpi yang tinggi tak mungkin didapat dengan usaha yang mungil. Aku akan selalu yakin bahwa Surabaya masih punya banyak sekali kabar baik yang menantiku di ujung sana. Aku ingin percaya pada takdir – takdir yang telah ditetapkan Tuhan. Kepada embun pagi, kepada riuh angin, kepada terik sinar mentari, kepada air hujan yang tak mampu memendung perasaannya sendiri. Bantu aku menerima, beranjak, dan menemukan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image