Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image melinda budiati putri

Ketika Tenaga Kesehatan Kelelahan, Siapa yang Menjaga Kita?

Gaya Hidup | 2025-11-27 23:55:33

Siang hari di rumah sakit selalu menjadi waktu paling sibuk. Di lorong-lorong sempit itu, langkah tenaga kesehatan tidak pernah benar-benar berhenti. Di antara mereka, sering terlihat seorang perawat yang berjalan sambil memegangi punggungnya, ekspresi lelah tampak jelas di wajahnya. Meski begitu, panggilan pasien membuatnya tetap melangkah. Pemandangan sederhana ini sebenarnya menggambarkan masalah besar yang lama tersembunyi: tingginya kelelahan kerja tenaga kesehatan.

Sebuah riset kesehatan kerja di Jakarta menemukan bahwa hampir separuh tenaga kesehatan mengalami kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat jam kerja panjang dan tuntutan pelayanan yang intens. Penelitian itu mencatat bahwa sekitar 45–48 persen tenaga kesehatan menunjukkan gejala fatigue (kelelahan) yang memengaruhi konsentrasi dan ketepatan kerja. Dalam konteks rumah sakit, kelelahan seperti ini bukan sekadar masalah kesejahteraan tenaga medis, tetapi dapat berimplikasi langsung terhadap keselamatan pasien.

Kelelahan yang menumpuk dapat mengganggu kemampuan komunikasi tenaga kesehatan. Penjelasan menjadi terburu-buru, nada suara berubah tidak ramah, atau informasi penting terlewat tanpa disengaja. Bagi pasien, komunikasi yang kurang jelas bisa membuat mereka bingung tentang kondisi kesehatannya atau merasa tidak diperlakukan dengan baik. Padahal, komunikasi interpersonal adalah inti dari pelayanan kesehatan yang manusiawi.

Di sinilah peran Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) seharusnya hadir lebih kuat. Banyak orang memahami K3RS sebatas pencegahan kecelakaan kerja atau paparan bahan berbahaya. Padahal, lebih dari itu, K3RS mencakup pemantauan beban kerja, pengaturan jam istirahat, dukungan kesehatan mental, hingga penciptaan lingkungan kerja yang aman dan manusiawi. Dengan implementasi K3RS yang baik, tenaga kesehatan dapat memperoleh ruang bernapas yang layak baik secara fisik maupun psikologis.

Sejumlah laporan menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan yang menerapkan kebijakan K3RS secara serius mengalami penurunan insiden kecelakaan kerja dan peningkatan kualitas komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien. Lingkungan kerja yang sehat bukan hanya membuat tenaga medis bekerja lebih efektif, tetapi juga lebih berempati, lebih tenang, dan lebih siap menghadapi tekanan di lapangan.

Tenaga kesehatan adalah garda terdepan layanan publik. Mereka bekerja dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan empati. Namun, tidak ada empati yang bisa lahir dari tubuh yang kelelahan. Karena itu, memperhatikan kesehatan mereka bukan hanya kewajiban rumah sakit atau pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama, termasuk kita sebagai pengguna layanan kesehatan.

Ketika tenaga kesehatan dijaga melalui kebijakan K3RS yang baik, maka yang terlindungi bukan hanya mereka tetapi juga kita, para pasien. Karena pada akhirnya, yang menjaga kita juga membutuhkan kesempatan untuk dijaga.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image