Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Mutiara Efrilia D.

Krisis Pengangguran Gen Z di Tengah Booming Ekonomi Digital Indonesia

Info Terkini | 2025-11-26 11:47:15
https://share.google/nMTg92HsYdFtVp1Tu

Sebuah paradoks yang mengejutkan saat ini melanda Indonesia: sementara ekonomi digital nasional diperkirakan akan melonjak mencapai nilai US$90 miliar pada tahun 2024, jutaan pemuda dari Generasi Z terjebak dalam siklus pengangguran yang semakin mengkhawatirkan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024 menunjukkan fakta mengejutkan bahwa 5,18 juta generasi Z berusia 15-29 tahun menganggur, yang menyumbang 70 persen dari total tingkat pengangguran nasional.

Angka ini ironis di tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang mencatat kenaikan 13 persen, menjadikan negara ini sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara.Lebih mengkhawatirkan lagi, lebih dari 800.000 generasi Z dilaporkan telah kehilangan harapan untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka merupakan bagian dari 17,6 persen pengangguran yang merasa tidak lagi mungkin diterima di pasar kerja—suatu kondisi yang menunjukkan krisis kepercayaan di kalangan generasi muda tentang masa depan mereka.

“Ada ketidakcocokan antara keterampilan yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan pasar kerja,” kata psikolog Universitas Paramadina, Tia Rahmania. Masalah ini semakin parah akibat penurunan penciptaan lapangan kerja formal. Meskipun antara tahun 2009 dan 2014 tercipta 15,6 juta lapangan kerja formal, angka ini turun drastis menjadi hanya 2 juta antara tahun 2019 dan 2024.

Sementara itu, sektor e-commerce menyumbang US$65 miliar bagi ekonomi digital, dan perdagangan video tumbuh pesat hingga mencapai 22 persen dari total aktivitas perdagangan online. Perjalanan online melonjak 24 persen, sementara layanan keuangan digital mencatat pertumbuhan 19 persen. Namun, ekspansi spektakuler ini tampaknya tidak berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja muda.

Masalah ini menjadi semakin kompleks ketika perusahaan teknologi melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah besar lulusan baru. Sebuah laporan dari platform konsultasi karier Intelligent mengungkapkan bahwa enam dari sepuluh perusahaan telah memecat lulusan baru yang baru saja mereka rekrut. Alasan-alasannya bervariasi: kurangnya motivasi, profesionalisme yang rendah, dan keterampilan komunikasi yang buruk.

Fenomena ini menciptakan kesenjangan antara potensi yang menjanjikan dari ekonomi digital dan kenyataan yang keras yang dihadapi oleh generasi muda. Meskipun Generasi Z dikenal adaptif terhadap teknologi, tingkat pengangguran terbuka mereka mencapai 9,37 persen—jauh di atas rata-rata nasional sebesar 4,76 persen.

Pemerintah didesak untuk mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi krisis ini. Target untuk mencapai ekonomi digital senilai US$360 miliar pada tahun 2030 akan sia-sia jika 70 persen dari 71,5 juta generasi Z di Indonesia tidak dapat menikmati manfaat dari transformasi digital yang sedang berlangsung.Tanpa intervensi yang serius dalam bentuk pelatihan vokasi yang relevan, sinkronisasi kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri, dan pembentukan ekosistem kerja yang inklusif, bonus demografi Indonesia berisiko berubah menjadi bom waktu sosial yang mengancam stabilitas ekonomi nasional di masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image