Kesehatan Mental Remaja Kita Memang Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Gaya Hidup | 2025-11-23 12:09:51Sejujurnya, beberapa tahun terakhir ini aku makin sering lihat teman-teman yang kelihatannya kuat, tapi ternyata lagi berat banget secara mental. Dan makin aku baca data terbaru, makin kerasa kalau masalah ini bukan cuma “lagi capek kuliah” atau “lagi mumet tugas”.
Survei kesehatan mental remaja Indonesia yang dilakukan tahun 2022 (I-NAMHS) bilang kalau 1 dari 3 remaja pernah mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir. Angkanya sekitar 34,9%, dan itu bukan angka kecil. Dari jumlah itu, sekitar 5,5% bahkan sudah masuk kategori gangguan mental yang bisa didiagnosis. Yang bikin miris, hanya sedikit banget yang mencari bantuan—sekitar 2,6% aja yang sempat mengakses layanan profesional.
Masalah yang paling banyak dialami? Kecemasan dan depresi. Data dari UGM menyebut kecemasan dialami sekitar 3,7% remaja, sementara depresi mayor sekitar 1%. Memangnya sekecil itu? Tidak juga. Studi lain yang fokus ke usia 16–18 tahun mencatat angka psychological distress bisa tembus 24%, dan depresi sekitar 12%. Jadi apa yang teman-teman kita rasakan itu nyata.
Kalau lihat Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi depresi di kelompok usia 15–24 tahun ada di angka 2%. Mungkin kelihatannya kecil, tapi itu tetap berarti ratusan ribu anak muda sedang berjuang sendiri dengan pikiran mereka.
Yang bikin masalah ini makin rumit adalah stigma. Banyak yang merasa harus “kuat” atau takut dianggap lebay kalau cerita. Akhirnya numpuk, dan cuma keliatan ketika sudah berat banget. Padahal sebenarnya bantuan profesional itu bukan buat orang yang “parah”, tapi buat siapa pun yang merasa butuh ruang aman.
Jadi menurutku, kesehatan mental ini bukan sekadar isu tren. Ini masalah nyata yang lagi dialami generasi kita. Kita bisa mulai dari hal kecil: nanya kabar teman dengan tulus, ngasih ruang buat mereka cerita, sampai berani ajak mereka cari bantuan kalau memang perlu.
Mental sehat itu bukan kemewahan. Itu kebutuhan paling dasar supaya kita bisa hidup dengan benar.
refrensi:
• Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), 2022
• UGM – Laporan Prevalensi Gangguan Mental Remaja Indonesia, 2023
• Survei Kesehatan Indonesia (SKI), Kemenkes RI, 2023 • Studi “Psychological distress among adolescents”, PubMed, 2024
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
