Banjir Semarang Ujian Kota Pesisir di Tengah Cuaca Ekstrem
Info Terkini | 2025-11-19 23:26:46Hujan belum reda ketika sejumlah warga di Kaligawe bergegas memindahkan perabotan rumah ke tempat yang lebih tinggi. Di antara genangan yang terus naik, mereka saling membantu, menunjukkan semangat gotong royong yang selalu muncul setiap kali banjir kembali datang.
Kota Semarang kembali dilanda banjir pada sejumlah titik pesisir dan permukiman padat. Curah hujan tinggi, kondisi drainase yang terbatas, serta penurunan muka tanah menjadi faktor yang saling memperkuat. Pemerintah daerah berupaya meredam dampak melalui operasi modifikasi cuaca, sementara masyarakat berharap langkah penanganan lebih menyeluruh dapat segera terwujud.
BMKG mencatat bahwa Jawa Tengah, termasuk Semarang, memasuki periode hujan lebat hingga sangat lebat pada November–Desember 2025.
BMKG menjelaskan bahwa fenomena gelombang konvektif dan aliran uap air dari Laut Jawa memperkuat terbentuknya awan hujan. Hal ini membuat potensi genangan meningkat, terutama di wilayah pesisir dan dataran rendah Semarang.
“Potensi hujan lebat hingga sangat lebat pada November–Desember perlu diwaspadai oleh daerah-daerah pesisir.” BMKG
Untuk menekan risiko banjir, pemerintah provinsi bekerja sama dengan BNPB melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC). Teknologi ini diklaim mampu mengurangi curah hujan yang memasuki wilayah Pantura hingga 70 persen.
Meski demikian, para ahli menilai OMC bersifat mitigatif jangka pendek, sehingga tidak menggantikan kebutuhan perbaikan infrastruktur air di kota-kota pesisir.
Semarang merupakan salah satu kota di Indonesia yang mengalami penurunan muka tanah cukup cepat. Di beberapa wilayah pesisir dan kawasan industri, penurunan tanah terjadi lebih cepat dibanding kenaikan muka air laut.
Data PPID Kota Semarang mencatat bahwa hujan deras sejak 21 Oktober 2025 menyebabkan genangan di sejumlah titik, seperti Kaligawe, Genuk, Trimulyo, dan Tlogosari.
Penurunan muka tanah ini membuat air lebih mudah mengalir ke kawasan permukiman ketika curah hujan tinggi atau terjadi pasang laut.
BPBD melaporkan bahwa banjir diperparah oleh keterbatasan kapasitas drainase, penumpukan sedimen, serta berkurangnya area resapan air akibat pembangunan. Pompa dan saluran air telah dioperasikan secara intensif, tetapi debit air yang tinggi membuat sebagian wilayah tetap tergenang.
“Genangan diperparah oleh curah hujan tinggi dan kondisi drainase yang belum optimal. BPBD
Laporan lapangan menunjukkan bahwa puluhan ribu warga terdampak banjir dalam beberapa hari terakhir. iNews mencatat sekitar 38.180 warga yang terdampak di berbagai wilayah Semarang.
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, banjir telah menjadi bagian dari rutinitas yang dihadapi setiap musim hujan. Mereka berharap penanganan yang lebih sistematis, terutama dalam memperbaiki drainase dan memperluas ruang resapan.
“Yang kami khawatirkan bukan hanya airnya, tetapi ketidakpastian kapan banjir kembali datang.” Warga Semarang
Sejumlah program mitigasi banjir telah disiapkan pemerintah daerah, termasuk peningkatan kapasitas pompa, revitalisasi drainase, pembangunan kolam retensi, serta penanganan kawasan pesisir yang terus mengalami penurunan tanah. Namun implementasi di lapangan masih membutuhkan waktu dan dukungan anggaran yang memadai.
Diperlukan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah pusat, daerah, sektor swasta, dan masyarakat untuk membangun sistem pengendalian banjir yang lebih tangguh. Edukasi kebencanaan dan penguatan komunitas lokal juga menjadi elemen penting untuk menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.
Banjir Semarang adalah peringatan tentang kerentanan kota pesisir di tengah perubahan iklim dan tekanan urbanisasi. Upaya mitigasi jangka pendek seperti modifikasi cuaca dapat membantu mengurangi risiko, namun solusi permanen tetap bergantung pada perbaikan infrastruktur, tata ruang, dan penguatan kesadaran publik. Tanpa upaya terpadu, ancaman banjir akan terus datang dan menyulitkan warga yang harus berjuang di garis depan dampaknya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
