Masalah Sekolah Tak Perlu Jadi Drama: Kuncinya Kerja Sama Orang Tua dan Guru
Pendidikan | 2025-11-11 06:53:38
Sempat viral di media sosial mengenai kasus kepala sekolah menampar siswa di SMAN 1 Cimarga, Banten. Kejadian ini bermula saat kepala sekolah menggerebek siswa yang sedang merokok di kantin belakang sekolah saat kegiatan jumat bersih.
Kepala sekolah mengaku sudah menegur untuk tidak merokok. Namun, emosinya terpancing saat siswa tersebut masih mengelak dan berbohong, padahal terlihat jelas di tangannya ada rokok mengepul. Pertemuan itu berujung pada tindakan kepala sekolah memberikan pukulan, meskipun mengaku tidak keras.
Kasus seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Tindakan fisik sering dianggap sebagai cara cepat untuk mendisiplinkan siswa. Bedanya kini, setiap kejadian bisa terekspos dan publik semakin sadar bahwa kekerasan tidak memiliki tempat dalam dunia pendidikan modern. Sekolah harus menjadi ruang aman, dan pendidik wajib menjaga kontrol emosi.
Kasus ini semakin rumit saat orang tua membawa kepala sekolah ke jalur hukum, sementara para siswa yang lain melakukan aksi mogok sekolah atas nama solidaritas dan terpancing suasana.
Pelaporan ke jalur hukum ini menimbulkan kekhawatiran atas hilangnya wibawa guru. Jika setiap upaya pendisiplinan dibawa ke jalur hukum, guru akan ragu menegakkan aturan, sementara siswa selalu merasa memiliki tameng di rumah.
Tindakan orang tua otomatis membela anaknya meskipun melakukan kesalahan juga dapat berdampak buruk. Melihat pelanggarannya yakni merokok di lingkungan sekolah juga merupakan pelanggaran yang serius.
Jika setiap kali siswa salah, orang tua mengambil peran sebagai perisai, anak akan tumbuh dengan kesan bahwa aturan dapat dinegosiasikan dan konsekuensi bisa dihindari. Sikap ini justru menimbulkan mental sok jagoan dan tidak mendukung perkembangan karakter.
Konflik seharusnya bisa diselesaikan melalui mekanisme internal, yakni melalui wali kelas, guru BK, komite sekolah, hingga dinas pendidikan. Jalur hukum ditempuh saat kekerasan terjadi berulang dan sangat parah.
Kasus ini seharusnya menjadi pengingat bahwa pembinaan siswa adalah tanggung jawab bersama. Guru harus mampu menegakkan disiplin tanpa kekerasan, sementara orang tua perlu menempatkan diri sebagai mitra sekolah. Siswa juga harus sadar bahwa tindakan mereka memiliki konsekuensi, dan tidak semua kesalahan dihapus hanya karena dukungan orang tua.
Pendidikan berjalan baik ketika orang dewasa di sekeliling anak saling memperkuat, bukan menjatuhkan. Jika sekolah dan orang tua memilih bekerja sama, maka kasus seperti ini tidak perlu menjadi drama nasional.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
