Mengintip Tradisi Masyarakat Osing Lewat Pasar Kampoeng Osing
Culture | 2025-09-22 10:29:41Oleh : Rifa Cahya Muzaqina, mahasiswa Kedokteran Hewan fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam Universitas Airlangga
Banyuwangi, Minggu (19/10/2025). Rintik hujan yang turun sejak pagi tidak menyurutkan antusias masyarakat Desa Kemiren, Banyuwangi, untuk tetap menggelar tradisi Pasar Kampoeng Osing. Sejak dini hari, para pedagang telah mempersiapkan lapak-lapak sederhana dan tradisional khas budaya Osing.
Tak hanya antusias dari masyarakat lokal, wisatawan dari luar daerah juga turut meramaikan pasar tradisional ini. Rintik hujan tipis yang turun membuat suasana pagi terasa lebih dingin dan syahdu, menciptakan pengalaman berbeda bagi pengunjung.

Memasuki area pasar, pengunjung disuguhi penampilan Othek, salah satu pertunjukan musik tradisional khas Osing. Di sana tampak para ibu-ibu memegang kayu panjang sambil diketuk mengikuti irama musik, sementara seorang bapak memainkan alat musik tradisional sebagai pengiring. Alunan musik dan nyanyian tersebut menciptakan suasana meriah seolah menyambut para pengunjung yang datang ke Pasar Kampoeng Osing.
Menurut Pak Anto, salah satu pemain angklung dalam pertunjukan Othek tersebut, kelompok Othek di Pasar Kampoeng Osing sudah rutin menampilkan Othek sejak sekitar delapan tahun lalu. Namun, tradisi Othek sendiri sendiri sebenarnya telah ada sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun di masyarakat Osing. Filosofi dibalik pertunjukan ini berakar pada kehidupan bertani, di mana ketukan yang dihasilkan dari tumbukan lesung dan lumpang melambangkan kerja sama antara pria dan wanita. Nilai yang terkandung di dalamnya adalah bahwa segala pekerjaan akan berhasil jika dikerjakan bersama dengan semangat gotong royong.
Masuk lebih dalam, terlihat jejeran pedagang tradisional dengan gerobak kayunya menjajakan masakan dan jajanan khas Banyuwangi. Mulai dari lontong kupat sayur hingga pecel pitik yang menggugah selera, membuat siapa saja yang lewat tergoda untuk berhenti sejenak. Tak ketinggalan ada pula jajanan pasar seperti kue cucur, jenang, lupis, cenil, dan berbagai kue tradisional lainnya tersusun rapi dalam tampah beralaskan daun pisang.
Pengalaman mengunjungi Pasar Kampoeng Osing menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Bukan hanya karena keramaian pasar dan kelezatan kuliner tradisionalnya, tetapi juga karena hangatnya sambutan pertunjukan tradisional serta kekayaan budaya lokal yang masih dijaga dengan baik. Menjadikan Pasar Kampoeng Osing sebagai ruang untuk merasakan secara langsung denyut kehidupan masyarakat Osing.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
