Pandemi dan Tuntutan Nilai

Image
Widyastuti, S.S.
Guru Menulis | Tuesday, 01 Mar 2022, 20:11 WIB

Covid-19 menggemparkan dunia, semua perekonomian menjadi lumpuh yang berimbas juga pendidikan. Sekolah mengadakan pembelajaran jarak jauh untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan corona. Dalam dunia pendidikan Corona memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positif disini terjadi pembelajaran kaloboratif antara guru dan orang tua. Guru memberikan materi dan tugas secara daring. Sedangkan orang tua memantau dan mendampingi anak-anaknya dalam belajar dan mengerjakan tugas. Seperti apa yang diucapkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Bapak Nadiem Makarim bahwa pendidikan di masa pandemi ini empati orang tua terhadap guru jadi meningkat. Guru juga menyadari tanpa adanya peran orang tua maka pendidikan itu tidak akan selesai.

Masa pandemi guru juga dituntut melek teknologi, guru harus belajar beberapa aplikasi yang memudahkan dalam memberikan materi dan tugas secara daring. Namun yang menjadi permasalahan ketika guru sudah memberikan materi untuk dipelajari dan memberikan tugas yang harus dikerjakan. Peserta didik tidak semuanya mengumpulkan tugas. Hal ini dikarenakan berbagai aspek, misalnya karena ekonomi sehingga dalam satu rumah hanya mempunyai satu gawai. Ketika orang tua bekerja di luar rumah maka gawai akan dibawa oleh orang tua. Sehingga peserta didik tidak bisa langsung mengerjakan tugas karena menunggu orang tua pulang. Dan itu juga apabila orang tua langsung ingat, kalau lupa maka peserta didik tidak mengerjakan tugas.

Peserta didik tidak berangkat sekolah maka tidak mendapat uang saku, menyebabkan mereka tidak dapat membeli paket data internet. Hal ini juga menjadi kendala mereka tidak bisa langsung mengerjakan tugas daring. Uang juga mempengaruhi kedisiplinan peserta didik. Mereka kadang hanya mampu membeli paketan yang sedikit sehingga untuk mengakses materi yang berbentuk audio visual terbatas. Kadang mereka hanya bisa mengerjakan tugas hanya melalui WhatsApp saja.

Sinyal juga sangat mempengaruhi, di daerah tertentu sinyal kadang tidak bagus sehingga peserta didik kesulitan untuk mengakses. Hal tersebut mempengaruhi guru dalam memberikan penilaian penugasan. Ketika saat guru harus memberikan nilai rapot guru menjadi kebingungan untuk memberikan penilaian. Beberapa peserta didik nilainya kosong padahal rapot harus segera diisi. Disinilah diperlukan solusi cerdas bagi guru, apabila anak maupun orang tua tidak bisa dihubungi melalui whatsapp maka guru mau tidak mau harus mengadakan kunjungan ke rumah. Kendala beberapa anak yang tidak mengerjakan selain karena faktor teknologi ternyata faktor peserta didik kurang memahami materi yang diberikan. Tidak bisa dipungkiri memang teknologi tidak bisa menggantikan sepenuhnya peran guru. Peserta didik masih membutuhkan bimbingan dan arahan dari guru. Kemampuan peserta didik berbeda-beda, mereka ada yang paham sekali baca materi, atau hanya sekedar melihat tayangan video. Namun ada juga peserta didik yang harus diajari pelan-pelan dan diterangkan dengan kalimat-kalimat sederhana baru dapat memahami.

Nilai rapot dihasilkan dari sejarah nilai yang didapat dari hasil tugas baik pengetahuan dan ketrampilam peserta didik. Ketika nilai banyak yang kosong maka nilai akhirpun menjadi jelek. Hati nurani gurupun terketuk tidak tega memberikan nilai yang sangat rendah. Namun apabila diberi nilai yang dianggap layak juga menjadi dilema. Anak yang tidak mengerjakan tugas mendapat nilai, maka anak yang rajin mengerjakan tugas berapakah harus memberikan nilai yang pantas? Apakah hanya berjarak rentang sedikit? Apabila hal ini terjadi maka akan menjadi bomerang. Peserta didik yang tidak pernah mengerjakan tugas ketika akhir semester dia mendapat nilai tentunya akan berimbas akan menyepelekan pelajaran. Bahkan kemungkinan dapat mempengaruhi teman lain untuk tidak mengerjakan tugas.

Jika peserta didik tersebut diberi nilai hampir sama dengan anak yang mengerjakan tugas lengkap akan menimbulkan kecemburuan. Peserta didik yang tidak mengerjakan tugas akan semakin malas mengerjakan tugas. Anak yang rajin menjadi melemah semangatnya dalam mengerjakan.

Peran guru sangat penting dalam hal ini, guru harus mau mencari cara dan solusi agar peserta didik mau mengerjakan tugas sesuai dengan kemampuannya. Salah satunya ada pendekatan personal dan mengadakan kunjungan ke rumah. Menanyakan kesulitan dan hambatan yang dihadapi peserta didik. Pengambilan nilai di masa pandemi ini tidak harus bersifat kuantitaif namun bisa bersifat kualitatif. Pembelajaran lebih berkonsentrasi kepada kompetensi bukan lagi terpaku pada konten.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Guru SMP

Ketika Senja Tak Lagi Jingga

Pandemi dan Tuntutan Nilai

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Mencari Pemimpin Visioner PMII Cabang Tangerang

Image

Kuliah Kerja Profesi untuk Mendukung Kerja Sama Dunia Usaha dan Dunia Indsutri

Image

Bersiaplah Menyambut Hiruk Pikuk Pesta Demokrasi

Image

Staff Registrasi Bapas Semarang Siap Menyajikan Data yang Akuntabel

Image

APK Bapas Semarang Turun Ke Ladang Untuk Melakukan Pengawasan Program Asimilasi Dalam Lapas

Image

Tingkatkan Akuntabilitas Bapas Semarang Laporkan Capaian Output Melalui E-Monev

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image